Nikmatnya Jamu Tradisional Bu Hj. Sunardi yang Tak Lekang Oleh Waktu

Image
Rovinka Salma Moenikha
Kuliner | Friday, 05 Aug 2022, 21:16 WIB

Warung Jamu Tradisional Bu Hj. Sunardi jadi incaran masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya wilayah Bantul bagian barat Kota Yogyakarta. Dilahirkan dari tangan perempuan yang mempunyai tekad kuat dan semangat penuh demi keberlangsungan hidup keluarganya juga membantu sesama.

***

Pertengahan tahun 2022, ketika masyarakat sedang asyik dengan gemparan minuman herbal kekinian, Warung Jamu Tradisional Bu Hj. Sunardi tetap eksis dicari oleh khalayak umum. Maka dari itu, saya sebagai mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta berniat hati dengan perasaan senang mengunjungi sekaligus mengulik informasi tentang sejarah pendirian warung jamu tradisional yang mampu bertahan hingga saat ini.

Asal-usul berdirinya Warung Jamu Tradisional Bu Hj. Sunardi

Bagi kalian yang belum tahu, minuman jamu merupakan racikan beragam rempah-rempah yang dipercaya masyarakat dapat menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit. Minuman jamu tradisional biasanya dijual dengan metode keliling, baik menggunakan sepeda maupun berjalan kaki dengan membawa keranjang dari anyaman bambu yang digendong. Namun, seiring berjalannya waktu, penjual minuman jamu tradisional mulai berdagang menetap dengan cara mendirikan warung supaya pembeli bisa memilih antara minum di tempat atau dibawa pulang.

Jumat, 1 Juli 2022—saya mendatangi salah satu warung jamu legendaris di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Warung Jamu Tradisional Bu Hj. Sunardi di Soragan Jalan Teratai Rt. 04 No. 143 Ngestiharjo, Kasihan, Bantul 55182. Letaknya yang strategis, dekat dengan Kabupaten Sleman maupun Kota Yogyakarta membuat warung jamu ini jarang sepi pembeli. Di warung yang tidak cukup luas ini pemilik Warung Jamu Tradisional Bu Hj. Sunardi dibantu oleh satu orang karyawan tetapnya. Kehadiran saya disambut hangat dan saya pun bergegas memesan jamu kunyit asam sekaligus menyampaikan niat untuk wawancara kepada pemilik warung yang sedang sibuk memeras bahan baku pembuatan minuman jamu.

“Oh, bisa nduk tapi nanti menunggu lama karena ini sedang ramai pembeli, lebih baik tanya-tanya dengan anak saya dulu,” tutur beliau dengan wajah yang teduh. Pesanan saya datang, segelas kunyit asam kental dan tombo atau minuman manis dari gula sebagai penyamar rasa pahit dari jamu utama. Kebetulan anak bu Hj. Sunardi menyanggupinya, kami melakukan wawancara di samping warung selepas minuman jamu saya habis dengan situasi pelanggan yang masih terus berdatangan.

Mengawali, saya akan memperkenalkan pemilik dari Warung Jamu Tradisional, nama asli Misurip tetapi akrab disapa dengan nama almarhum suaminya sehingga menjadi Bu Hj. Sunardi (76). Puluhan tahun yang lalu, beliau bersama suami dan keenam anaknya tinggal di sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari warung jamu tersebut. Tidak sebentar Ia berpikir sekaligus berdoa ingin berjualan atau dapat dikatakan mendirikan usaha kecil-kecilan supaya dapat membantu perekonomian keluarganya. Suatu ketika, Bu Hj. Sunardi berkenalan dengan perempuan yang sampai saat ini menemaninya berjualan, beliau bernama Warsilah (62). Setelah melakukan perbincangan dan mempersiapkan semuanya, pada tahun 1984 Warung Jamu Tradisional Bu Hj. Sunardi didirikan.

“Ibu saya mulanya belajar sama Bu Warsilah yang sampai saat ini masih setia jadi rewang. Bu Warsilah pada waktu itu seorang pegawai dari tempat produksi jamu. Oleh karena itu, setelah bu War keluar dari pekerjaan karena pemiliknya meninggal dunia, bu War bertemu dengan ibu saya, bu War mengajarkan banyak hal mengenai cara pembuatan jamu hingga ibu saya berani mendirikan warung jamu sendiri,” jelas Yatno (50) anak pemilik warung saat diwawancarai pada (1/7).

Hadirnya warung jamu tradisional pada masa itu disambut baik oleh masyarakat sekitar karena metode penyembuhan beragam penyakit ataupun menjaga kesehatan tubuh masih dipercaya seutuhnya dengan mengonsumsi olahan rempah-rempah. Warung jamu ini begitu istiqomah, hal tersebut dapat dibuktikan melalui pertahanan kualitas. Tidak hanya itu, di daerah rumah bu Hj. Sunardi hanya ada dua pemilik warung jamu tradisional yang mampu bertahan sampai saat ini.

Ciri Khas Jamu Tradisional Bu Hj. Sunardi

Pemandangan dan suasana yang saya lihat juga rasakan saat mendatangi lokasi warung jamu ini adalah konsistensi nuansa kesederhanaan. Terdapat dua buah kursi panjang terbuat dari semen yang dicor sehingga menempel ke tembok sisi kanan dan kiri warung, dua buah kursi panjang dari anyaman bambu, dan satu buah kursi kayu di samping rewang untuk tiga orang. Satu hal menarik yang tentu saja diminati oleh anak-anak maupun orang tua, yakni ketersediaan berbagai macam jajanan, seperti aneka snack, tape ketan, dadar gulung, dan carang gesing. Yatno (50) juga menceritakan bahwa saat musim alpukat dan pohon alpukat keluarga berbuah di warung jamu ini lah biasanya alpukat dijual dan banyak sekali yang suka.

Minuman jamu dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan dan usia. Pada umumnya, warung jamu mempunyai racikan dasar untuk perut kembung, batuk pilek, atau sakit perut. Berbeda dengan yang lain, warung jamu tradisional bu Hj. Sunardi terkenal lengkap dan sebagian besar peminatnya adalah golongan perempuan, biasanya anak muda yang sedang haid, perempuan yang ingin cepat diberikan momongan, ibu hamil, dan ibu menyusui untuk memperlancar asi. Tidak hanya itu, banyak perempuan tua yang gemar membeli jamu supaya terlihat segar dan awet muda.

“Ada banyak macam jenis jamu untuk pengobatan seperti yang dipajang tapi biasanya jamu yang paling banyak diminati itu kunyit asam, beras kencur, uyup-uyup, subur kandungan, dan sawan taun,” terang Bu Hj. Sunardi saat saya tanya mengenai jamu apa yang paling laku.

Bu Hj. Sunardi dalam memproduksi jamu hanya dibantu oleh Bu Warsilah mulai dari mengupas, merebus, menumbuk, sampai menggilas bahan baku jamu. Ia membeli bahan baku rempah-rempah di Pasar Gede yang saat ini pembelian tersebut diwakili oleh anak-anaknya. Hampir beberapa pekan sekali penyetor madu dan gula jawa datang sendiri ke rumah karena sudah langganan sejak lama. Tidak jarang beberapa hari sekali beliau berjalan kaki meminta sedikit dedaunan rambat milik warga sekitar untuk diolahnya menjadi ramuan jamu dan tidak menolak apabila ada warga yang menjual cabe jamu kepadanya.

“Benar, jualannya sampai hari Jumat saja. Dulu buka setiap hari tetapi karena usia saya yang sudah lanjut jadilah hanya lima hari buka dan waktu dua hari libur cukup untuk saya istirahat,” jawab pemilik warung, pada wawancara (1/7).

Bagas Waras

Kalimat saroja, bagas waras merupakan kalimat yang terdiri dari dua kata berakhiran sama dengan makna sehat dan kuat, sepertihalnya orang-orang yang sampai zaman sekarang rutin meminum jamu tradisional. Warung jamu yang konon pernah didatangi oleh Ratu Pembayun, putri pertama dari pasangan Sri Sultan Hamengkubuwono X dengan Gusti Kanjeng Ratu Hemas ini dapat kalian kunjungi pukul 14.00-17.00 WIB dengan jangkauan harga mulai dari Rp5000,00 saja.

Di akhir wawancara, bu Hj. Sunardi menjelaskan prosesnya selama puluhan tahun bukanlah hal yang mudah karena terdapat banyak rintangan yang Allah SWT berikan. Bagi penjual jamu yang memiliki rasa ingin membantu sesama yang tinggi tentu tidak selalu menelusuri jalan yang lurus. Namun, mengalami serangkaian hal berkelok-kelok untuk mendapat keindahan berkah di ujung sana. Kesulitan yang setiap tahun dialami adalah penurunan jumlah pembeli ketika musim penghujan karena sebagian besar orang memilih untuk berdiam diri di rumah selain melakukan aktivitas wajibnya. Sedangkan, pencapaian yang sudah diperoleh hingga saat ini tidak bisa disebutkan satu persatu. Tujuan khusus untuk menyambung hidup maupun menyekolahkan anak-anak sudah terlaksana hingga diberikan bonus oleh Allah SWT bu Hj. Sunardi mampu pergi ke tanah suci pada tahun 2010 dan yang paling utama dengan keahlian beliau berjualan jamu membuatnya terus bersedekah.

Saat waktu menunjukkan pukul 16.35 WIB setelah selesai berbincang dengan pemilik warung, saya iseng bertanya sedikit dengan perempuan yang saat itu menjadi pelanggan terakhir, Bu Wanti (57) beliau asal Sleman. Menurutnya. warung jamu ini sudah menjadi langganannya sejak Ia masih muda, tempatnya yang mudah diakses, rasanya enak, dan khasiat jamu yang luar biasa ampuh membuatnya enggan berpaling ke warung jamu yang lain. Akhir-akhir ini Ia membeli jamu sawan taun untuk membuat tubuh lebih bugar karena membersihkan penyakit organ dalam sehingga tampak lebih awet muda.

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang pembeli tadi tentang cita rasa Jamu Tradisional Bu. Hj. Sunardi. Komposisi segelas kunyit asam yang saya nikmati masih terasa segar hingga ke langit-langit dan lidah meskipun saya sudah berada di rumah. Tidak hanya itu, air gulanya pun tidak membuat tenggorokan saya gatal pasca meminumnya. Minuman dengan harga yang sangat murah dan pasti segudang manfaat ini perlu terus dilestarikan keberadaannya. (Rov)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

fatum brutum amor fati.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Hakikat Kemerdekaan

Image

Meriahkan HDKD ke-77, Kepala Rutan Kelas IIB Majene Gelar Sepeda Santai Bersama Pegawai dan DWP

Image

Abonie Digital Music, Distributor Musik Terkemuka Asal Riau

Image

Kompak! Pegawai Rutan Kudus Ikuti Virtual Run 7,7 KM

Image

Mp3 Juice: Free Download Musik Tanpa Batas 2022 Cepat Sekaligus Mudah

Image

Savefrom Net : Cara Mudah Anti Ribet Download Mp4 Dan Mp3 Youtube Tanpa Aplikasi Plus Gratis Disini

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image