Konsep Masyarakat Perspektif Ibnu Khaldn

Image
Ariq Maulana Zahran
Sejarah | Thursday, 28 Jul 2022, 15:56 WIB
ilustrasi ibnu khaldn HD - Bing images" />
Sumber : ilustrasi ibnu khaldn HD - Bing images

Biografi Singkat

Mungkin bagi sebagian orang berpikir tokoh sosiologi itu bemuara di tokoh-tokoh barat atau Eropa seperti August Comte, Spencer, Weber ataupun Karl Marx. Namun jauh sebelum Eropa maju seperti sekarang ini, ada cendekiawan muslim yang sudah terkenal pada waktu itu dan juga sampai saat ini.Ibnu Khaldun salah seorang ilmuwan Islam, disamping dia seorang filsuf,ahli politik dan juga ekonomi, dia juga merupakan bapak Sosiologi Islam yang memiliki konsep sosiologis masyarakat “Badawah & Hadharah”.

Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunisia, bertepatan dengan tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M (1332-1406).Ibnu Khaldun berasal dari keluarga yang hijrah dari Andalusia ke Tunisia, beliau memiliki nama lengkap Waliyuddin Abdurrahman ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn al-Hasan ibn Jabir ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Abdurrahman Ibn Khaldun.

Kemasyhuran beliau sudah terkenal sebagai seorang sejarawan, sosiolog, filsuf, hakim, politikus serta berbagai bidang keilmuan lainnya.Ibnn Khaldun dikalangan bangsa barat mendapat julukan The Polymath (penghimpun berbagai bidang pengetahuan), sedangkan di kalangan timur diberi julukan al-‘Allamah (mahaguru).Karya Khaldun diantaranya : Muqaddimah, al-‘ibar, dan al-Ta’rif.Diantara ketiganya, buku Muqaddimah lah yang paling terkenal, walaupun buku itu merupakan bagian dari pengantar al-‘ibar.Namun didalamnya Khaldun mencantumkan segala gejala-gejala sosial dan sejarahnya.Dan buku Muqaddimah inilah yang mengahantarkan Ibnu Khaldun menjadi begitu masyhur.

Dalam kehidupan Ibnu Khaldun, terbagi menjadi 4 fase :

Pertama, fase pertumbuhan diri dan pembelajaran yang ia lakukan bersama ayahnya, pada tahun 732 H sampai akhir tahun 751 H.Ayah Khaldun menjadi guru pertamanya, sebagaimana orang tua pada masa itu. Setelah itu, ia berguru kepada beberapa guru seperti Abu Abdillah Muhammad Ibn Al-Arabi dan Abu Abdillah Muhammad Ibnu Bahr dalam ilmu bahasa. Ilmu fiqh Ia pelajari dari Abu Abdillah Al-Jiyani dan Abu Al-Qasim Muhammad Al-Qashir.Selain mendalami ilmu agama, ia juga mempelajari studi ilmu lainnya seperti : teologi alam, astronomi, ilmu filsafat dan matematika.

Fase kedua, partisipatif dalam dunia politik.Menjadi sekretaris dalam pemerintahan Ibnu Tafrakin menjadi awal karir politik Ibnu Khaldun, ketika tahta Ibnu Tafrakin, ditaklukan Abu Zaid, melarikan diri ke Maroko dan menjadi sekretaris Sultan Abu Inan dari fress.Dan setelah sekian Panjang perjalanannya di panggung politik, akhirnya Khaldun memutuskan untuk tidak ikut terlibat dalam politik praktis yang telah ia jalankan dan membuat namanya begitu besar.

Fase ketiga, Khaldun mengembangkan karya-karyanya yang begitu monumental hingga kini, Al-Ibar beserta muqoddimah yang dimulai dari tahun 776 H sampai akhir tahun 780 H.Hal tersebut ia jalankan setelah masa pengabdian nya di berbagai pemerintahan.

Fase keempat, inilah akhir kehidupan beliau dengan kehidupan politik seutuhnya, dan serius menyelami tugas intelektualnya dengan menyelesaikan karya monumental miliknya yang masih tersisa. Seluruh karya yang dihasilkan diberikan kepada penguasa. Namun Ia malah menjadi sasaran tembak para elit dalam lingkaran kekuasaan yang kemudian merusak persahabatannya dengan sultan Abu Al-Abbas. Kenyataan inilah yang mendorongnya meninggalkan wilayah kekuasaan itu. Khaldun meminta izin kepada sultan untuk pergi haji. Dalam kenyataannya, Ibnu Khaldun tidak mengarahkan kakinya ke Mekkah melainkan ke Iskandaria (Khudayri and ’Utsmani 1987, 10).

Masyarakat Badawah & Hadharah

Penemuan buku Muqaddimah oleh orang-orang barat sekitar awal abad ke-19 menjadikan Ibn Khaldn diakui sebagai salah satu figur atau ilmuwan klasik yang membahas tentang masyarakat.Pengaruh studi Ibn Khaldun memiliki kedudukan yang penting : pertama, dia adalah orang pertama berbicara mengenai masyarakat dengan perspektif yang lepasdari ilmu filsafat, khususnya filsafat sosial.Kedua, Ibn Khaldun mempelopori kajian tentang masyarakat dengan menggunakan pendekatan empiris, verifikasi etoritis, pengujian hipotesis, serta metode observasi yang merupakan dasar-dasar pokok dalam penelitian dan keilmuan barat.

Buku Muqaddimah merupakan kombinasi antara etnologi dan sosiologi, Ibn Khaldn menjelaskan komparatif cara-cara hidup antara masyarakat primitif atau badui dengan masyarakat modern yang tinggal di perkotaan.Ibn Khaldn mengklasifikasikan 2 jenis kelompok sosial yang memiliki ciri dan karakter yang saling berlawanan.Pertama, badawah, yakni masyarakat primitif, hidup di kawasan pedalaman, atau tinggal di gurun.Ibn khaldn menyebutnya sebagai masyarakat badui.Kedua, hadharah yaitu masyarakat yang memiliki corak kehidupan di perkotaan.Dalam pandangan khaldn masyarakat kota banyak berurusan dengan kehidupan nyaman, mewah serta banyak di dorong oleh hawa nafsu.

Hal tersebut berbeda dengan masyarakat badui yang cenderung lebih menempatkan urusan duniawi dalam batasan yang wajar atau hanya sekadar memenuhi kebutuhan tanpa dihantui rasa dorongan kemewahan.

Berdasarkan faktor-faktor geografis, sarana fisik, serta iklim yang menurut Ibn Khaldun mempengaruhi pola pikir sekaligus perilaku sosial mereka.Masyarakat badui cenderung lebih berjiwa sosial tinggi, pemberani dan juga sangat menghormati nilai-nilai dan norma sosial.Secara pendekatan emosional antar anggota masyarakat mereka sangat dekat, dan dalam kehidupan sosialnya mereka memiliki kebersamaan yang tinggi.Fanatisme kesukuan, nasionalisme, solidaritas kelompok, sentimen sosial amat kuat tertanam dalam diri masyarakat badui.

Istilah ashabiyyah dipopulerkan oleh Ibn Khaldun yang memiliki arti solidaritas sosial atau ikatan emosional antar individu dengan masyarakat.Menurut Ibn Khaldun, ashabiyyah dapat membuat orang bersatu dalam sebuah ikatan sosial untuk bertahan hidup dan menjadi kekuatan kelompok sosial, sekaligus dapat mengendalikan masyarakat.Pada mulanya, ashabiyyah ini muncul karena adanya hubungan darah.Namun seiring perkembangan waktu, sering munculnya perserikatan, persekutuan, serta organisasi.Kontrol sosial dan juga kedaulatan (otoritas politik) menjadi salah satu tujuan dari ashabiyyah.

Atas dasar narasi itu pula ada yang mengatakan bahwa teori ashabiyyah kadang disebut juga sebagai teori politik.Hal ini berdasarkan peran dan fungsinya untuk membangun negara sekaligus menjadi faktor penentu keruntuhannya.Teori ashabiyyah yang membuat nama Ibn Khaldun dikenal oleh para sosiolog modern.Berkaitan dengan kehidupan keagamaan, masyarakat tradisional juga memiliki tingkat ketaatan agama yang tinggi.Menurut pandangannya, kehidupan orang-orang badui jauh dari kemewahan dan sikap hedonisme duniawi sehingga membuat kesadaran keagamaan mereka sangat tinggi.Hal ini berbeda dengan kehidupan masyarakat perkotaan (hadharah) yang sangat berdekatan dengan kehidupan duniawi dan kemewahan.

Orang-orang memiliki kesadaran mendalam terhadap agama, rata-rata sering dijumpai di wilayah pedesaan.Hal ini disebabkan karena adanya kontrol sosial yang sangat kuat di desa dibandingkan perkotaan.Sistematisasi kontrol inilah yang memunculkan sanksi sosial sehingga tiap-tiap warga masyarakat untuk tetap patuh dan bersepakat untuk berkomitmen terhadap aturan sosial dan agama.Sebaliknya, menurut Khaldun masyarakat kota cenderung permisif (sikap membolehkan segala sesuatu) dan materialis (harta).Kontrol sosial dikota pun sangat rendah bahkan tidak ada, begitu pula ashabiyyah atau solidaritas sosial antar penduduknya hampir tidak terlihat.Kehidupan sangat individualis, hanya mementingkan diri sendiri.Sehingga Khaldun berpandangan nilai-nilai keagamaan sangat jarang ditemukan di perkotaan.

Segmentasi masyarakat badawah dan hadharah menurut Ibn Khaldun ini menjadi teori yang sangat mendasar mengenai pembagian masyarakat.Teori yang dikemukakannya ini jauh sebelum ilmuwan barat memperkenalkan teori kelas sosial seperti Karl Marx, R. Dahrendorf.Sebetulnya teori kelas tersebut merupakan hasil pengembangan dari teori pembagian masyarakat badawah (desa) & hadharah (kota) milik Ibnu Khaldun.Dan juga konsep ashabiyyah atau ikatan sosial memiliki peranan penting dalam studi sosiologi kedepannya.Ibnu Khaldun memperkenalkan konsep tersebut sebelum Emile Durkheim memperkenalkan konsep solidaritas organik dan mekanik.Sebagai sosiolog awal, dunia keilmuan barat patut berterimakasih terhadap sumbangsih pemikiran Ibnu Khaldun karena telah meletakkan konsep-konsep dasar sosiologi, terutama pembagian masyarakat dalam dua klasifikasi dasar serta nilai solidaritas sosial.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Hakikat Kemerdekaan

Image

Meriahkan HDKD ke-77, Kepala Rutan Kelas IIB Majene Gelar Sepeda Santai Bersama Pegawai dan DWP

Image

Abonie Digital Music, Distributor Musik Terkemuka Asal Riau

Image

Kompak! Pegawai Rutan Kudus Ikuti Virtual Run 7,7 KM

Image

Mp3 Juice: Free Download Musik Tanpa Batas 2022 Cepat Sekaligus Mudah

Image

Savefrom Net : Cara Mudah Anti Ribet Download Mp4 Dan Mp3 Youtube Tanpa Aplikasi Plus Gratis Disini

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image