Rivalitas Amerika Vs China: Dampaknya pada Utang Indonesia

Image
DWIKA INTISHAR SHAFARA
Politik | Friday, 19 Nov 2021, 14:10 WIB
Oleh: Dwika Intishar Shafara, Mahasiswa Universitas Islam Indonesia, Prodi Hubungan Internasional

Adanya rivalistas Amerika Serikat dengan China di dalam perdagangan internasional tampaknya membawa pengaruh pada kerja sama ataupun peningkatan posisi dan utang Indonesia dengan China. Peningkatan posisi dan utang Indonesia dengan China sendiri dapat terliat dari bagaimana di masa rivalistasi Amerika Serikat dan China, Indonesia banyak melakukan hubungan kerja sama dengan China terkhususnya di dalam permasalaan pembangunan infrastruktur. Hal ini sendiri dapat terlihat dan dibuktikan dengan dinamika dari hubungan kebijakan luar negerinya Indonesia.

Adapun dinamika hubungan kebijakan luar negrinya pemerintah Indonesia akibat rivalitas China dan Amerika Serikat ini ternyata membawa pengaruh dari segi pembiayan pembangunan internasional melalui pinjaman luar negeri dana asing terhadap China. Apakah ini menguntungkan posisi Indonesia? Selama ini adanya peningkatan hubungan kerja sama, posisi terkhususnya kerjasama dalam pinjaman luar negeri cenderung menunjukan sisi perubahan yang cukup positif pada ekonominya Indonesia. Namun di sisi lain meningkatkan jumlah hutang luar negerinya Indonesia dengan China. Hal ini sendiri di sampaikan yang dimana di dalam penelitiannya Peter Gammeltoft tahun 2013 yang dimana dalam penelitiannya ia menunjukan bagaimana baiknya hubungan yang terjalin diantara China dan Indonesia sejak zamannya Sukarno walaupun sering kali berfluktuasi.

Namun menurut penelitiannya Peter sendiri mengungkapkan bahwa China bahkan menyediakan bentuk pinjaman dana. Akan tetapi dari pemerintah justru lebih tertarik dengan penanaman investasi asingnya China. Adapun secara garis besar, gagasan dari tulisannya menunjukan bahwa bentuk dinamika hubungannya China dengan Indonesia justru lebih kepada Foreign Direct Investment (FDI), dan pada akhirnya membawa dampak bagi pembangunan di Indonesia.

Hal ini sendriri tidak dapat dipungkiri bahwasanya ekonominya China meningkat pesat bahkan juga mampu mempengaruhi banyak kawasan lainnya. Termasuk Asia Tenggara. Bahkan terdapat beberapa pandangan yang mengatakan bahwa majunya ekonominya Tiongkok telah mampu mengeser Amerika Serikat dan China dinilai menjadi negara baru yang menghegemoni kawasan lainnya. Terkhususnya di Asia Tenggara yang mana Tiongkok telah menjadikan Asia Tenggara sebagai pasar yang berpotensi bagi negara Tiongkok. Menurut laporan dari OECD sendiri, tahun 2018, China mempunyai 17,1% total perdagngannya di Asia Tenggara, bahkan menyumbang sebesar 6,5% FDI di kawasan ini. Ditambah lagi dengan adanya kebijakan BRI, telah membuat Tiongkok semakin menguat di Asia Tenggara yang dibuktikan dengan meningkatnya FDI di negara-negara yang ada di Asia Tenggara, dan adanya pembangunan infrastruktur seperti di Indonesia yang terdapat kereta cepat Jakarta-Bandung. Pemerintah Indonesia saat ini sedang melaksanakan program pengembangan infrastruktur secara besar-besaran dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi negara di masa yang akan datang. Bahkan pemerintah, dalam hal kebijakan ekonomi, telah menetapkan pembangunan infrastruktur sebagai kebutuhan dasar. Namun dalam pelaksanaan program pembangunan dan pengembangan infrastruktur Indonesia terkendala oleh pembiayaan.

Sedangkan untuk adanya investasi di sektor infrastruktur, tentunya membutuhkan dukungan modal yang besar. Namun, sejumlah negara tidak akan ragu untuk mengambil keputusan berinvestasi di suatu negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat mewujudkan peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini tidak lepas dari peran infrastruktur yang merupakan roda penggerak BRI, yang mana tujuannya itu sendiri adalah untuk memperkuat infrastruktur, perdagangan, investasi antara China dan beberapa 65 negara lainnya. Maka BRI sesuai dan akan berpengaruh besar terhadap infrastruktur dan perekonomian Indonesia. Melalui adanya BRI ini sendiri bisa meningkatkan bentuk pembangunanya Indonesia serta juga bisa meningkatkan FDI di Indonesia. Maka dari itu pula bentuk kepentingannya Indonesia di dalam BRI ini pula tentunya mengarah kepada kepentingan ekonomi agar bisa meningkatkan pertumbuhan dari segi pembangunan infrastuktur di Indonesia serta juga meningkatkan FDI di Indonesia.

Namun dibalik itu semua, Indonesia sendiri harus mengkhawatirkan bentuk bantuan dan FDI dari China. Kekhawatirkan ini penting untuk dilihat dari sisi dampak dari adanya FDI dan pinjaman luar negeri tersebut. Bentuk pernyataan ini sendiri di dukung dari penelitian yang ditulis oleh Hennida pada tahun 2018 yang dimana di dalam tulisannya sendiri dia mengungkapkan bentuk kekhawatirannya dari adanya pinjaman serta investasi asingnya China. Secara garis besar gagasan tulisannya mencoba untuk menjabarkan bagaimana dampak dibalik adanya pinjaman asing tersebut yang justru hanya menguntangkan China. Akan tetapi jika merujuk secara data dilapangan sendiri, Indonesia hingga sekarang memiliki hubungan baik dengan China di dalam investasi asing. Hubungan diantara keduanya juga terbilang membawa keuntungan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

URGENSI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI GENERASI MILENIAL

Image

Mahasiswa PMM-UMM Membantu Pendidikan di TPQ Baitussalam Dusun Jetis, Desa Mulyoagung

Image

Hukum Kontrak dalam Muamalah Islam

Image

Elvano Snack Sediakan Cemilan Sehat dan Buka Lapangan Kerja

Image

Peluncuran E-Book, 'Berbeda, Berdialog dan Berjuang Bersama'

Image

Pengembangan metode bank syariah sebagai solusi utama pencegahan adanya riba dalam pelaksanaan kegia

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image