Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Alexander Johan Wahyudi

Misa Pembukaan Yubileum 180 Tahun Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi

Agama | Thursday, 04 Nov 2021, 19:24 WIB
Pemberkatan simbolisasi Yubileum 180 tahun Kongregasi Suster-Suster Penyelenggaraan Ilahi berupa kerang mutiara oleh Pastor Peter Elvin Atmaja, OSC dalam misa pembukaan Yubelium yang digelar di GOR YPII, Bandung (3/11/2021). Foto: Dokumentasi Tim Studio EMP.

Misa pembukaan Yubileum 180 tahun Kongregasi Suster-Suster Penyelenggaraan Ilahi digelar bertepatan dengan hari ulang tahun ke-179 Kongregasi Suster-Suster PI. Misa ini dipimpin oleh Pastor Peter Elvin Atmaja, OSC dan dihadiri oleh seluruh keluarga besar YPII (Yayasan Penyelenggaraan Ilahi Indonesia), baik secara langsung ataupun virtual (3/11/2021). Tema yang diusung pada tahun ini adalah “Daya Karisma Mendorong Kita Untuk Memelihara Kehidupan” dengan menggunakan simbolisasi berupa kerang berisikan mutiara.

Panti asuhan yang didirikan oleh Pastor Eduard Michelis menjadi cikal bakal berdirinya Congregation Sisters of Divine Providence atau Kongregasi Suster-Suster PI. Kongregasi yang sudah berumur 179 tahun ini digunakan untuk mencurahkan cinta kepada Tuhan dan sesama pada bidang pendidikan dan sosial di berbagai belahan dunia, seperti di Asia, Afrika, Amerika, dan Eropa. Sejarah panjang yang penuh dedikasi ini merupkan suatu hal besar yang perlu disyukuri.

Dalam ekaristi syukur yang diadakan di GOR YPII Bandung secara langsung dan live streaming melalui youtube diawali dengan pembacaan sejarah Kongregasi Suster-Suster PI. Setelah itu, disusul perarakan yang dikombinasikan dengan tarian kontemporer yang diiringi lagu “Raja Agung”. Para penari yang mengenakan baju warna merah dengan rompi emas, rok warna ungu dan hiasan kain batik, selendang yang diikatkan pada pinggang, serta hiasan kepala berwarna emas menari dengan anggun mengiringi perarakan menuju altar suci.

Saat Homili, Pastor Peter Elvin Atmaja, OSC membahas mengenai hukum kasih yang merupakan inti dari bacaan Injil yang diambil dari Matius 22:34-40. Pastor mengajak kita untuk mengasihi Allah dan sesama dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Menurutnya ada 3 hal yang berkaitan erat dengan kasih terhadap Allah dan sesama. Pertama adalah moderasi. Kasih dalam manusia harus dibentuk secara sempurna dan seimbang, baik dari psikomotorik (fisik), afeksi (perasaan), dan kognisi (pemikiran). Kedua ialah konkritasi, di mana iman dapat menjadi nyata ketika sudah diperbuat dalam sebuah tindakan konkrit, bukan hanya dalam ucapan saja. Ketiga ialah totalitas. Totalitas berarti rela dan berani mengorbankan segala sesuatu yang dimiliki untuk meraih apa yang diinginkan.

Menurutnya, hukum kasih sangat erat kaitanya dengan suatu daya karisma. Dengan adanya karisma pada diri seseorang, maka sosok tersebut akan dijadikan sebagai teladan yang ingin ditiru oleh banyak orang. Contohnya adalah Pastor Eduard Michelis , pendiri Konggregasi Suster-Suster PI yang mempersembahkan seluruh karyanya kepada Tuhan juga kasihnya ketika menolong anak-anak yang miskin dan sengsara membuat ia dijadikan sebagai teladan oleh banyak orang. Seperti tindakan dari Pastor Eduard Michelis, Pastor Peter Elvin Atmaja juga mengajak kita untuk mengembangkan karisma dan hukum kasih sebagai bentuk pelayanan kita kepada Allah dan sesama.

“Karisma adalah anugerah, rahmat, atau hadiah yang diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan untuk dipersembahkan kembali kepada Tuhan dan dunia melalui sesama dengan dasar hukum kasih. Karisma merupakan salah satu bentuk dari pemeliharaan kehidupan yang dilakukan, ” ujar Pastor Peter Elvin Atmaja dalam homili.

Setelah runtutan acara ekaristi syukur selesai, Sr. Priska Murwati, SDP,. M.M selaku penanggungjawab Yayasan Penyelenggaraan Ilahi Indonesia cabang Bandung menyampaikan arti simbol yang digunakan pada pembukaan tahun Yubileum 180 tahun. Simbol yang digunakan ialah kerang berisikan mutiara. Kerang dimaknai sebagai sesuatu yang indah, berharga, simbol keharmonisan, membawa keharmonisan, serta cangkang dari kerang yang memiliki fungsi melindungi kehidupan. Kemudian ketika kita membuka kerang tersebut, di dalamnya terdapat sebuah mutiara yang memancarkan keindahan. Selain indah, mutiara juga merupakan simbol sesuatu yang berharga, keagungan, kemegahan, kesucian serta martabat dan harga diri tinggi. Mutiara berharga yang ada dalam kerang itu dimaknai sebagai karisma dari Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Melalui doa dan refleksi kita akan menemukan pesan-pesan dan cahaya yang menantang kita untuk memberikan jawaban konkret akan daya karisma. Mutiara di sini juga diartikan sebagai Iman kepada Penyelenggaraan Ilahi atau daya karisma yang mendorong kita untuk memelihara kehidupan.

Setelah selesainya sambutan dan penyampaian dari Sr Priska, acara dilanjutkan dengan pemberkatan kerang berisikan mutiara yang digunakan sebagai simbol perayaan ini oleh Pastor Peter Elvin Atmaja, OSC. Dengan dilakukannya pemberkatan simbol ini, diharapkan kita semua dapat terinspirasi senantiasa untuk juga menghasilkan mutiara-mutiara yang indah dan berharga di dalam hidup kita setiap kali kita melihat simbol kerang berisikan mutiara ini. Ekaristi syukur diikuti secara hikmat oleh para jemaat. Anggota paduan suara menyanyikan lagu-lagu dengan penuh semangat dan penghayatan. Tidak hanya itu, seluruh jemaat yang datang secara langsung pada ekaristi syukur tetap menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker dan menjaga jarak. Terakhir, para penari melakukan tari kontemporer kembali untuk mengiringi Pastor dan Putra Altar berjalan ke luar yang menandakan bahwa ekaristi syukur telah selesai.

Karyn Susanto dan Yovinka Limarta, jurnalis SMA TRINITAS Bandung

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image