Kurikulum Prototipe sebagai Langkah Awal Penghapusan Kasta di Ranah SMA

Image
Fachri Muchlasul Amal
Eduaksi | Saturday, 04 Jun 2022, 07:36 WIB
Gambar 1

Akhir tahun 2021 terdapat sebuah pembicaraan yang mengatakan bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) sedang merancang kurikulum prototipe yang dikatakan akan menghapus sistem kelas IPA, Kelas IPS, dan Kelas Bahasa. Dan pada tahun 2022 ini kurikulum ini sudah dijalankan di 2.500 satuan pendidikan yang tergabung dalam program Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan pada tahun 2021.

Sempat terjadi pro dan kontra dalam pembahasan ini. Di satu sisi, orang yang kurang setuju dengan kurikulum baru ini untuk diterapkan di tengah pandemi COVID-19. Menurut pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menerapkan kurikulum baru di tengah pademi ini kurang tepat karena masih banyak masalah substansial lain yang harus lebih didahulukan dibandingkan kurikulum baru. Masalah substansial yang dimaksud adalah banyaknya sekolah di berbagai penjuru daerah (termasuk di daerah terpencil) yang masih harus menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan prasarana yang masih sangat terbatas. Rakhmat Hidayat berharap agar Kemendikbud dapat mengutamakan hal ini terlebih dahulu.

Di sisi lain, orang-orang banyak juga yang menyambut baik kurikulum prototipe ini. Karena kurikulum ini dapat menjadi sarana para siswa untuk memilih apa mata pelajaran yang diminati dan dikuasainya. Contohnya ketika siswa yang berminat ingin berkuliah di psikologi, maka siswa ini bisa memilih pelajaran sosiologi, sejarah, biologi, serta beberapa mata pelajaran yang diminatinya. Jadi siswa dapat mengkombinasikan mata pelajaran tanpa melihat ia kelas IPA atau IPS.

Selain sebagai sarana siswa untuk memilih apa mata pelajaran yang diminati atau dikuasainya, kurikulum prototipe ini dapat menjadi sarana penghapusan kasta kelas di ranah SMA. Karena sudah dari sejak lama terjadi pengkastaan kelas di ranah SMA. Pengkastaan yang dimaksud disini adalah sebuah konsepsi dimana anak yang berada di kelas IPA lebih pandai dibandingkan anak yang berada di kelas IPS. Mulai dari siswa, wali siswa, sampai oknum guru pun seolah menyetujui stereotip ini. Banyak wali siswa yang berharap anaknya masuk kelas IPA dan kecewa ketika anaknya masuk ke kelas IPS atau bahasa. Juga di beberapa sekolah, siswa dengan nilai yang tinggi akan dimasukkan ke kelas IPA. Padahal siswa tersebut memiliki minat di pelajaran IPS.

Diskriminasi ini juga sampai ke ranah penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi. Hal ini dibuktikan pada saat SNMPTN dan beberapa ujian mandiri di perguruan tinggi negeri maupun swasta disebutkan bahwa siswa IPA boleh memilih prodi dengan kategori saintek maupun soshum, namun bagi siswa IPS hanya boleh memilih prodi soshum saja.

Dengan adanya kurikulum prototipe ini, diskriminasi di ranah SMA bisa terhapuskan sedikit demi sedikit.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Lapas Permisan Nusakambangan Diserbu Lanal Cilacap

Image

Membangun ekosistem industri halal yang kuat dan merata di indonesia

Image

Bantuan Pendanaan Startup Oleh Pemerintah Indonesia Untuk Para Mahasiswa

Image

Ceramah Agama Habib Hadi Asegaf di Ponpes AT-TAUBAH LAPAS KELAS I MALANG

Image

Esay APBN 2022

Image

Black Market Polemik Pengusaha Elit

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image