Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rafijep

Baju Baru Alhamdulillah, Baju Bekas Wa Syukurillah

Gaya Hidup | Thursday, 02 Jun 2022, 16:13 WIB

Hari Raya Idul Fitri sudah satu bulan berlalu, tetapi masih ada sebuah cerita mengenai sebuah kultur yang ingin saya bagikan ketika merayakannya Mei kemarin. Budaya silaturahmi ke rumah-rumah, mudik ke kampung halaman, makan ketupat, hingga membeli baju baru adalah hal yang tidak asing lagi di Indonesia ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri. Namun, Tulisan ini akan lebih berfokus kepada salah satu kultur dalam Hari Raya Idul Fitri di Indonesia, yakni kultur membeli baju baru.

Membeli baju baru menjadi perhatian tersendiri bagi saya, Tengok saja lagu ciptaan Dhea Ananda tahun 1997 yang berjudul “Baju Baru” tentu sangat berkesan dan memvalidasi kultur membeli baju di Hari Raya Idul Fitri. Salah satu liriknya saja menyebutkan “Baju baru alhamdulillah tuk dipakai di hari raya,” sangat terngiang-ngiang bukan di kepala kita. Tak heran bila kultur membeli baju saat lebaran adalah hal yang normal bahkan bisa jadi wajib.

Selain lagu “Baju Baru” kita juga bisa melihat bagaimana pusat perbelanjaan menjelang Hari Raya Idul Fitri akan dipenuhi oleh warga untuk membeli baju. Tak hanya itu, toko-toko pakaian juga turut menggelontorkan diskon secara besar-besaran untuk menarik pembeli. Namun, apakah ini menjadi hal yang wajib kita lakukan di Hari Raya Idul Fitri? Lantas bagaimana jika seseorang lebih memilih membeli ketupat untuk dimakan bersama keluarga ketimbang sebuah kemeja putih nan indah yang belum tentu dipakai di kemudian hari.

 

Menariknya, hari ini kita mengenal sebuah budaya membeli baju bekas atau kerap disebut thrifting. Menurut kamus urban, thrifting merupakan kegiatan membeli baju bekas dengan harga yang jauh lebih murah dari biasanya dan keunikan model yang dihadirkan. Lantas apakah tren membeli baju bekas bisa dikategorikan sebagai budaya baju baru di Hari Raya Idul Fitri.

Keresahan ini membawa saya untuk pergi ke salah satu pusat perbelanjaan baju bekas di Jakarta, yakni Pasar Senen. Siapa yang tak kenal Pasar Senen, salah satu pasar besar di Jakarta yang terkenal dengan pusatnya baju bekas. Baru sampai parkiran motor saja, sudah banyak pengunjung yang membawa plastik hitam yang tentu baru saja membeli pakaian di Pasar Senen.

Ternyata benar, lokasi baju bekas yang terletak di lantai dua blok tiga Pasar Senen sangat padat dikunjungi para pembeli. Sekedar informasi, kunjungan ini saya lakukan 5 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. “Seratus ribu tiga, seratus ribu tiga, seratus ribu tiga .,” seperti itulah kalimat-kalimat yang diteriakan oleh penjual baju bekas di sini. Pengunjung bisa menemukan pakaian dari harga lima ribu rupiah hingga lima ratus ribu rupiah yang ditawarkan oleh para pedagang. Pilihan pakaian juga sangat beragam, mulai dari kemeja kotak-kotak, kaos-kaos, celana jeans dan bahan, jaket kulit, dan masih banyak lagi.

Dengan harga yang murah dan keunikan baju-baju bekas membuat pengunjung terus berdatangan untuk membeli baju lebaran mereka. Salah satu pengunjung bernama Luthfi menceritakan, bahwa dirinya membeli baju bekas sebab harganya jauh lebih murah dan tetap layak pakai di Hari Raya Idul Fitri. “Baju ini memang bekas, tetapi tetap baru untuk saya,” ujar Luthfi kepada saya.

Apabila membedah lebih lanjut lirik lagu Dhea Ananda ini, terdapat kalimat “tak punya pun, tak apa apa masih ada baju yang lama,” hal ini bisa membuktikan kultur thrifting menjadi sangat layak untuk dilakukan di Hari Raya Idul Fitri. Menurut Suara.com, hari ini masyarakat Indonesia menganggap budaya thrifting sebagai gerakan dukungan kampanye zero waste yang berarti mengurangi penggunaan tekstil dalam produksi pakaian. Artinya, baju baru di Hari Raya Idul Fitri sifatnya tidak wajib dan kultur thrifting bisa menjadi alternatif apabila baju baru tidak bisa dibeli serta bermanfaat bagi lingkungan. Dengan demikian, hati baru menjadi lebih penting dalam Hari Raya Idul Fitri dan hal ini juga turut dibuktikan lewat lirik lagu Dhea Ananda “Hari Raya Idul Fitri Bukan untuk berpesta-pesta Yang penting maafnya lahir batinnya,”.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar
 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image