Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Siti Saniyyah

Penyair dan Ibu Para Syuhada, Khansa Binti Amru Radhiyallahu 'Anha

Sejarah | Monday, 30 May 2022, 14:51 WIB

Apakah kamu tahu bagaimana hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya di zaman sekarang ini? Bagaimana seorang ibu mendidik anak-anaknya dari kecil sampai dewasa? Bagaimana seorang ibu memperlakukan anak-anaknya? Bagaimana pula seorang anak memperlakukan ibunya?

Sumber Gambar: https://yoursay.suara.com/health/2022/03/24/202250/6-khasiat-bunga-kamboja-untuk-kesehatan-salah-satunya-mengobati-bisul

Pertanyaan ini sudah tidak asing lagi di telinga kita bukan?

Kita bisa melihat dan merasakan di zaman ini, bagaimana seorang ibu mendidik dan memperlakukan anaknya dan bagaimana seorang anak memperlakukan ibunya. Banyak sekali di zaman ini, seorang ibu memperlakukan anak-anaknya dengan manja yang berlebihan, contohnya, anaknya ingin membeli atau menginginkan sesuatu yang tidak dibutuhkan, hanya untuk hura-hura atau menyombongkan dirinya kepada orang lain, sehingga ketika ibunya sekali saja tidak menuruti kemauan anaknya, anaknya langsung marah ataupun mencaci maki ibunya. Hal ini pun cenderung berbahaya bagi si anak maupun ibunya. Kemudian, banyak kita temuin juga di televisi atau pun di kehidupan sehari-hari, si anak lebih cenderung menyukai lagu-lagu dari pada shalawat dan lebih suka bernyanyi dengan lagu-lagu dewasa dari pada membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Siapa yang akan disalahkan jika seorang anak tidak bisa membaca Al-Qur’an dan tidak mengetahui tata cara shalat, tentu ke dua orang tuanya bukan yang akan disalahkan terlebih dahulu, karena orang tua adalah panutan bagi seorang anak. Didikan orang tua yang baik adalah kunci utama bagi setiap anak.

Berbeda dengan zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ada seorang ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang baik, shaleh, berbakti kepada ke dua orang tuanya dan taat akan perintah Allah Subhanahu Wata’ala. Siapakah ia? Ia adalah Khansa binti Amru Radhiyallahu ‘Anha, seorang ibu yang meridhakan semua anaknya ikut berperang melawan musuh-musuh Allah Subhanahu Wata’ala demi menegakkan agama Islam, dan ia pun mendapat julukan sebagai “Ibunda Para Syuhada”. Tiadalah anak-anaknya yang bersemangat menjemput syahid jika bukan karena didikan Khansa Radhiyallahu ‘Anha.

Apakah di zaman sekarang masih ada seperti Khansa Radhiyallahu ‘Anha? Mungkin ada seperti ia, tapi langka kita temui. Saya pernah mendengar dari seseorang ketika anaknya yang ingin belajar ke luar negeri tetapi orang tuanya tidak mengizinkan karena takut akan hal-hal yang berbahaya ataupun dengan alasan lain. Bagaimana jika anaknya ingin ikut berperang melawan musuh Allah, mungkin ibunya tidak akan pernah melepaskan tangannya, dan mungkin ibunya akan menangis setiap waktu bila anaknya terjun ke medan perang, menuntut ilmu pun tidak diizinkan apalagi berperang. Berbeda bukan, dengan kisah keluarga Khansa Radhiyallahu ‘Anha yang begitu menaati perintah Allah Subhanahu Wata’ala, dan begitu semangat melawan musuh-musuh umat Islam.

Nah, sekarang kita baca dan renungkan kisah dari Khansa binti Amru Radhiyallahu ‘Anha yang terkenal dengan keikhlasannya dan kisah terbaik tentang keridhaan seorang ibu.

Kisah Khansa binti Amru Radhiyallahu ‘Anha

Khansa Radhiyallahu ‘Anha memiliki nama asli Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah As-Sulamiyah, ia lahir di Madhar pada zaman jahiliyah, tetapi ia hidup di tengah suku bangsa Arab mulia. Ia di juluki sebagai “Ibunda Para Syuhada” karena keridhaan dan keikhlasannya mempersembahkan ke empat anaknya ikut berperang.

Sebelum berangkat ke medan perang, ke empat anaknya ini saling berdebat tentang siapakah yang akan ikut berperang dan siapakah yang akan menemani ibundanya di rumah. Kemudian Khansa Radhiyallahu ‘Anha mendengar perdebatan ke empat anaknya itu, dan ia langsung mengumpulkan semua anak-anaknya. Kemudian ia pun berbicara ke pada anak-anaknya, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya kalian memeluk agama ini tanpa paksaan dan berhijrah dengan kehendak sendiri. Demi Allah tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian ini putra-putra dari seorang lelaki dan perempuan yang sama. Tidak pantas bagiku untuk mengkhianati ayahmu, atau membuat malu pamanmu, atau mencoreng arang di kening keluargamu.”

Setelah itu, Khansa Radhiyallahu ‘Anha memberikan pesan yang sangat menyentuh kepada ke empat anaknya, ia berkata, “Jika kalian melihat perang di jalan-Nya, singsingkanlah lengan baju kalian dan berangkatlah. Majulah paling depan, niscaya kalian akan mendapatkan pahala di akhirat, negeri keabadian. Sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Inilah kebenaran sejati, maka berperanglah sampai mati. Wahai anakku, carilah maut niscaya kalian dianugerahi hidup.”

Setelah itu, anak-anaknya pergi berperang dengan semangat yang berkobar dan motivasi dari ibundanya tercinta tanpa ada rasa takut sama sekali, demi menegakkan agama Allah Subhanahu Wata’ala dan agama yang benar yaitu agama Islam.

Satu persatu ke empat anaknya itu gugur di medan perang melawan musuh Allah Subhanahu Wata’ala dan umat Islam. Khansa pun mendengar kabar itu tanpa sedih sedikit pun, justru ia sangat bersyukur karena anak-anaknya meninggal dalam keadaan syahid dalam Perang Qadisiyah (Perang Salib).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Siapa yang merelakan tiga orang putra kandungnya (meninggal dunia), maka dia akan masuk surga. Seorang wanita bertanya, bagaimana jika hanya dua putra? Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian menjawab: “Begitu juga dua putra”. (Diriwayatkan oleh Nasa’I dan Hibban dari Annas Radhiyallahu ‘Anhu dalam kitab Al-Albani Shahiihul Jaamii’ nomor 5969)

Khansa Radhiyallahu ‘Anha tidak hanya dijuluki “Ibunda Para Syuhada” tetapi beliau juga dijuluki seorang yang mahir dalam bersyair, awalnya beliau membuat syair hanya terdiri dari 2-3 baris. Namun setelah saudaranya, Sakhr meninggal dunia, kesedihannya mendorong Khansa Radhiyallahu ‘Anha dalam menulis syairnya yang lebih panjang. Bahkan semua sastrawan sepakat bahwa Khansa Radhiyallahu ‘Anha adalah penyair terhebat dan terbaik, baik di masa lalu maupun di masa berikutnya.

Perbedaan Pemuda-Pemuda Zaman Sekarang dengan Zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Bisa kita lihat pemuda–pemuda di sekitar kita atau pun dimana-mana termasuk di media sosial. Anak muda sekarang seakan sudah hilang sikap moral dan sopan santun mereka. Tidak menaati aturan-aturan islam, dan mempermalukan agamanya sendiri, karena perlakuannya yang tidak mencerminkan sosok muslim sejati. Generasi pemuda Islam yang kita idam-idamkan ternyata jauh dari kata generasi yang hebat. Sejatinya ini karena masuknya budaya-budaya barat ke negara kita yang membuat para pemuda atau pun pemudi terpengaruh dengan tradisi barat. Contohnya, soal sopan santun kepada yang lebih tua, atau ketika orang tua tidak menuruti keinginan anaknya, mereka langsung memaki dan membentak orang tuanya. Dan banyak sekali masalah-masalah yang dihadapi para pemuda indonesia, seperti tindakan kekerasan, menurunkan rasa tanggung jawab sebagai individu dan warga Negara, perilaku merusak diri dengan narkoba, dan seks bebas, dan semakin kaburnya pedoman moral. Juga ada beberapa faktor yang menyebabkan anak muda sekarang seperti ini. Yang pertama yaitu kurangnya perhatian dari kedua orang tuanya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga lupa akan perhatian kepada anaknya. Kedua, karena pengaruh lingkungan yang buruk dan rendahnya iman mereka yang mudah terhasut. Ketiga, karena pengaruh media sosial dan cenderung mengajak kepada kerendahan moral.

Sedangkan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, anak muda bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, menghormati kepada kedua orang tuanya, dan menyayangi kepada sesama. Para pemuda juga berlomba-lomba ikut berperang demi membela agama Allah Subhanahu Wata’ala tanpa ada rasa takut, karena didikan orang tuanya terutama ibu dan karena pengaruh lingkungannya yang baik. Termasuk keluarga Khansa, dengan didikan orang tuanya sehingga anak-anaknya memiliki sifat yang mulia.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah Khansa binti Amru

Pendidikan anak nomor satu yaitu dari kedua orang tuanya. ketika orang tuanya mendidik anaknya dengan benar dan baik, maka seorang anakpun akan tumbuh menjadi anak yang baik. Jadi, pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini yaitu didikan orang tua yang baik sangat penting bagi seorang anak. Kemudian selalu bersyukur dalam hal apapun, karena ketika kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat untuk kita. Serta keikhlasan dan kesabaran ketika kita kehilangan seseorang yang kita sayangi.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Quran Surah Ali ‘Imran: 200)

Referensi:

https://www.mqfmnetwork.com/meneladani-kisah-khansa-binti-amru/, diakses pada 05 Maret 2022 Pukul 19:30 WIB

https://muslimah.or.id/9946-al-khansa-ibunda-para-syuhada-bag-i.html, diakses pada 04 Maret 2022 Pukul 17:33 WIB

http://smkalchasanah-jkt.sch.id/index.php?id=artikel&kode=2, diakses pada 05 Maret 2022 Pukul 19:30 WIB

https://wahdahmakassar.or.id/artikel/kisah-khansa-binti-amr-ibunda-para-syuhada, diakses pada 04 Maret 2022 Pukul 19:19 WIB

*Mahasiswi Angkatan III Prodi KPI STIBA Ar Raayah Sukabumi

**Pemenuhan Tugas Mata Kuliah Komunikasi Dakwah pada Semester IV

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image