Pandemi dan Warna-Warni Pendidikan Indonesia

Image
Vita Alfiani Putri, M.Pd
Guru Menulis | Monday, 27 Sep 2021, 10:30 WIB

Sebagaimana dilansir pada situs sebuah media online disebutkan bahwa menurut studi global yang dipublikasikan di The Lancet (20/07/21), ada sebanyak 1.562.000 anak kehilangan Orangtua akibat Pandemi Covid-19 yang secara keseluruhan lebih banyak dari mereka yang kehilangan ayah dibandingkan ibu. Sementara itu, setengah juta anak lainnya harus kehilangan kerabat terdekat seperti kakek dan nenek yang tinggal serumah.

Melihat keadaan ini, dampak yang diterima oleh anak terbilang sangat besar, terlebih jika anak yang ditinggalkan masih dalam rentang usia dini hingga usia sekolah. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa peran utama dari Orangtua bagi anak-anak adalah menjadi pendidik. Lantas, bagaimana dengan mereka yang sudah kehilangan Orangtuanya pada masa pandemi Covid-19 ini?

Ilustrasi: Bumi sedang sakit akibat dilanda Virus Covid-19

Sebelumnya, saya ingin mengangkat kembali awal mula masuknya Virus Covid-19 di Indonesia pada bulan Maret 2020. Pada saat itu, pemerintah Indonesia mulai memberlakukan berbagai kebijakan guna menekan penularan Virus Covid-19 di kalangan masyarakat. Mulai dari menutup akses kedatangan luar negeri di setiap bandara, hingga memberlakukan lockdown secara bertahap dengan terus memperhatikan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Bumi Pertiwi.

Seiring berjalannya waktu, upaya dalam menekan angka penularan Virus Covid-19 bukan hanya menjadi tanggungjawab penuh bagi pemerintah Indonesia saja, namun juga menjadi tanggungjawab masyarakat bersama. Upaya penekanan ini semakin diperketat, seperti memakai masker, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, menjaga imun, juga mengurangi mobilitas. Dan berkat taatnya masyarakat pada penerapan 5M ini, angka penularan Virus Covid-19 pun kian menurun. Yang perlu digarisbawahi dari hadirnya Virus Covid-19 di Bumi Pertiwi ini adalah kesadaran bersama yang menjadi upaya paling penting dalam hal ini, sebab solusi memberantas Virus Covid-19 ini haruslah muncul dari dalam diri kita masing-masing.

Sejak awal Virus Covid-19 melanda Nusantara, banyak sekali dampak yang dialami oleh berbagai sektor, diantaranya adalah sektor keuangan dan sektor pendidikan. Sejumlah perusahaan bahkan melakukan pengurangan jumlah karyawan sehingga akibatnya banyak kepala keluarga yang menjadi pengangguran dadakan. Banyak Orangtua yang berupaya melakukan berbagai usaha guna mendapatkan penghasilan harian yang setidaknya dapat digunakan untuk biaya hidup sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anaknya. Namun tidak sedikit pula yang tidak melakukan usaha apapun sehingga tidak mampu membiayai kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak-anaknya. Akibatnya banyak anak-anak yang terpaksa putus sekolah.

Ilustrasi: Sulitnya belajar di rumah

Terlebih selama masa pandemi Covid-19, pemerintah mengupayakan kegiatan sekolah dari rumah alias sekolah berbasis online yang jika dilakukan oleh anak-anak dengan ekonomi keluarga yang cukup baik maka akan aman-aman saja, namun jika dilakukan oleh anak-anak dengan ekonomi keluarga yang kurang baik maka akan tersendat. Diantara hambatan-hambatan yang menghampiri kegaitan sekolah berbasis online ini adalah terbatasnya biaya untuk membeli gadget sebagai alat bantu utama pada pelaksanaan sekolah berbasis online. Tidak berhenti sampai di sana, hambatan berikutnya hadir pada kesulitan Orangtua untuk membelikan kuota internet sebagai modal penunjang sekolah dari rumah.

Tidak hanya itu, ada hambatan lain yang agaknya dirasakan oleh seluruh Orangtua semasa pandemi Covid-19. Dalam melakukan sekolah berbasis online, tentu kehadiran Orangtua sangat dibutuhkan guna mengawasi jalannya kegiatan sekolah dari rumah tersebut. Masalahnya, tidak semua Orangtua memiliki waktu penuh untuk sekadar mengawasi anak-anaknya di rumah, banyak dari para Orangtua yang juga terbebani oleh kegiatan bekerja dari rumah sehingga saat anak-anaknya melakukan kegiatan sekolah dari rumah, Orangtuanya pun melakukan kegiatan bekerja dari rumah. Masing-masing sibuk dengan kesibukan yang berbeda.

Ilustrasi: Kesibukan Orangtua dan anak semasa pandemi Covid-19

Berbagai keluhan di atas adalah keluhan-keluhan yang kerap kali disampaikan oleh para Orangtua yang sungguh mengalami keberatan dengan adanya kegiatan sekolah dari rumah. Besar harapan mereka agar anak-anaknya bisa segera kembali melaksanakan sekolah tatap muka seperti sebelum pandemi Covid-19 ini hadir di Bumi Pertiwi tercinta ini.

Kembali pada paragraf pembuka, di sana saya tuliskan kutipan paparan dari studi global yang dipublikasikan di The Lancet (20/07/21) tentang betapa banyaknya anak-anak yang harus kehilangan Orangtua mereka akibat pandemi Covid-19. Hal serupa pun menimpa salah satu anak didik saya yang ada di Pesantren Tahfizh Muthmainnah, Bekasi, Jawa Barat. Anak usia Taman Kanak-kanak (TK) harus kehilangan sosok ayah setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi akibat menderita Covid-19. Terbayang betapa sesaknya anak usia dini yang harus menjalani kehidupan masa depannya tanpa seorang ayah. Namun, Alhamdulillah anak ini masih begitu aktif dan semangat bersekolah dengan diantar oleh sang ibu. Peran ibu kini sekaligus merangkap sebagai ayah.

Bagaimana dengan anak-anak yang harus kehilangan kedua Orangtuanya? Apakah ada sanak saudara yang tergerak untuk membantunya? Ataukah mereka harus berusaha menghidupi dirinya sendiri dan putus sekolah? Bagaimana jika ia anak pertama dengan sejumlah adik yang menjadi tanggungjawabnya usai kehilangan kedua Orangtua mereka? Lantas apa mereka masih memiliki harapan yang cerah untuk masa depannya?

Di Indonesia, khususnya telah banyak orang-orang baik yang tergerak untuk memberikan bantuan berupa biaya hidup sehari-hari, makanan dan minuman bergizi, obat-obatan dan vitamin, serta biaya pendidikan alias beasiswa sekolah full sampai lulus.

Pandemi Covid-19 ini memang membawa banyak dampak bagi masyarakat Indonesia di berbagai sektor tanpa terkecuali. Namun, pandemi Covid-19 ini juga memberikan kita banyak pelajaran dan membuat kita melek dengan situasi yang ada saat ini. Terpuruk, memang. Tapi dalam kondisi terpuruk bukan berarti tidak ada usaha yang bisa dilakukan untuk bangkit kembali, bukan?

Ilustrasi: Salah satu upaya pencegahan Virus Covid-19

Pandemi Covid-19 sungguh mengajarkan kita untuk saling mengeratkan rangkulan satu sama lain. Sebab jika dihadapi sendirian, tentu semakin hari akan terasa semakin berat. Dan pada tulisan ini, saya menyampaikan bahwa anak-anak turut menjadi korban akibat pandemi Covid-19 sejak dua tahun terakhir.

Semangat Bumi Pertiwiku!!! Bangkit dan raih keberhasilan bersama!!!

Oleh: Vita Alfiani Putri, M.Pd (Psikolog Pendidikan dan Pegiat Literasi)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

educational psychologist & literacy activist

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Stop Melanggengkan Budaya Patriarki

Image

Tawarkan Atap Metal, Stand Produk Fumira Diserbu Pengunjung!

Image

Jerat Riba Pinjol

Image

Mahasiswa Idaqu mendapatkan Ijazah sanad Khot Diwany metode Hamidy dari Syeikh Belaid Hamidi

Image

Mahasiswa Idaqu Dilantik Menjadi Pengurus Pusat FKMTHI

Image

Peringati HSN, MTsN 3 Bantul Gelar Aneka Lomba

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image