Andai Pandemi Pergi, Silaturahmi Terjalin Lebih Erat

Image
Dianty Rosirda
Lomba | Saturday, 25 Sep 2021, 23:56 WIB
Foto: Mardiah/Republika

Sejak diberlakukannya berbagai kebijakan untuk mencegah penularan virus Corona atau Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), kehidupan masyarakat tak lagi sama. Sejak 16 Maret 2020, kebijakan bekerja dan belajar dari rumah menyebabkan perubahan mendadak dalam setiap aktivitas masyarakat. Kondisi yang awalnya diperkirakan hanya akan terjadi sebentar saja, ternyata hingga kini masih berlangsung dan belum diketahui kapan akan berakhir.

Perubahan pola aktivitas tersebut menimbulkan beragam reaksi dari masyarakat. Masyarakat yang pro, berpihak pada kepentingan untuk menjaga agar diri, keluarga, dan masyarakat tetap sehat. Sedangkan yang kontra, mengutamakan kestabilan ekonomi keluarga. Bagi mereka, tak ada gunanya menjaga kesehatan bila diri dan keluarga kelaparan. Data yang dikeluarkan oleh Program Pangan Dunia (WFP) menjadi bukti. Sepanjang tahun 2020, sebanyak 7 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat kelaparan (Republika, 2020).

Tak dapat dipungkiri, kebijakan sekolah dan bekerja dari rumah menyebabkan kerugian bagi banyak pihak. Kehilangan mata pencaharian akibat ditutupnya ruang publik, pengurangan gaji, hingga PHK terjadi di mana-mana. Pada bulan Agustus 2020, jumlah pengangguran mengalami peningkatan sebanyak 2,67 juta orang, sehingga jumlah angkatan kerja yang menganggur menjadi 9,77 juta orang (Republika, 2020). Badan pusat statistik menyatakan bahwa pada bulan Februari 2021 terdapat 19,10 juta orang (9,30 persen penduduk usia kerja) yang terdampak COVID-19.

Tak hanya kebijakan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, pemerintah pun menerapkan protokol kesehatan yang harus dipatuhi masyarakat. Kebijakan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan juga memiliki dampak yang besar. Masyarakat tak lagi dapat bersosialisasi dengan bebas. Tak ada lagi tradisi berjabat tangan, saling merangkul, bercakap-cakap dengan akrab, bahkan sekadar bersilaturahmi untuk saling mengunjungi. Semua dibatasi untuk mencegah penularan COVID-19.

Pemerintah bahkan membatasi kunjungan meski itu kepada keluarga terdekat. Anak tak bisa lagi mengunjungi orang tuanya dengan bebas. Saudara sekandung pun terbatas untuk saling bertemu. Pelarangan mudik menjadi salah satu upaya pemerintah mencegah timbulnya kluster keluarga. Silaturahmi yang selama ini menjadi budaya, dipaksa untuk berhenti.

Namun, di tengah berbagai pembatasan dan beragam kesulitan, gelombang kedua COVID-19 menyerang Indonesia. Tak sedikit orang yang terdampak hingga sakit atau meninggal. Berdasarkan data dari Satgas Penanganan Covid-19, hingga tanggal 20 Juli 2021 terdapat 11.045 anak menjadi yatim piatu, yatim atau piatu. (Kemensos, Agustus 2021).

Tak dapat dibayangkan, bagaimana seorang anak dapat menanggung beban yang berat seorang diri. Kesulitan bertemu keluarga membuatnya kehilangan kesempatan untuk sekadar memperoleh pelukan memperkuat jiwa, genggaman agar kuat melangkah, atau kata-kata pemberi semangat bahwa masa depan masih bisa diraih. Kehilangan orang tua sekaligus kehilangan kesempatan melepaskan beban rasa.

Melandainya kasus COVID-19 saat ini memberi suntikan semangat bahwa pandemi akan pergi. Penanganan COVID-19 yang dinilai baik dan diakui Badan Kesehatan Dunia cukup realistis untuk memulihkan berbagai kondisi yang porak poranda. Pemulihan mental tentu bukan harapan yang berlebihan bukan? Masyarakat tak hanya butuh fisik yang sehat. Mental yang sehat tentu akan mendukung program pemerintah membangkitkan kembali roda perekonomian.

Silaturahim yang memberikan makna kasih sayang berpotensi untuk menyehatkan jiwa. Meski tentu saja, masyarakat pun harus realistis. Pandemi saat ini belum usai. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menyatakan bahwa potensi optimis pandemic berakhir paling cepat adalah akhir tahun depan. Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas COVID-19, Sonny Harry B Harmadi, bahkan menyatakan bahwa virus Corona tak akan hilang dan kita akan masuk dalam fase endemik.

Meski pandemi belum berakhir, silaturahmi tetap harus dijaga. Meski saat ini belum dapat berjabat erat dan saling merangkul, kalimat positif dan saling memberi semangat semoga mempercepat proses pemulihan di setiap sisi kehidupan. Pandemi mengajarkan untuk saling berbagi dan tenggang rasa. Pandemi juga mengajarkan untuk pandai bersyukur dan bersabar.

Andai pandemi pergi, silaturahmi terjalin lebih erat dan penuh makna.

#Lomba Menulis Opini

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

WAJIB COBA ! Cara Convert Mp4 Youtube ke Mp3 dengan Cepat dan Gratis

Image

Aktif Menulis, Guru MTsN 3 Bantul Mendapat 2 Penghargan dari KYM

Image

Peduli Sesama, Santri Ar-Rohmah Putri Bakti Sosial di Panti Asuhan

Image

Jual Beli Emas Secara Kredit Menurut Islam Dan Pendapat Para Ulama

Image

Jual Beli Sperma Hewan Dalam Perspektif Hukum Islam

Image

5 Jenis Badan Usaha yang Ada di Indonesia

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image