
Lebaran: Saatnya Saling Memaafkan atau Mengukur Kesuksesan?
Gaya Hidup | 2025-04-01 02:18:31
Lebaran selalu menjadi momen yang dinanti. Setelah sebulan penuh berpuasa, akhirnya datang hari kemenangan yang dirayakan dengan suka cita. Namun, di balik tradisi silaturahmi yang menjadi inti perayaan ini, terselip realitas yang kian sulit dihindari: Lebaran tak lagi sekadar ajang mempererat hubungan, melainkan panggung terselubung untuk mengukur pencapaian hidup.
Silaturahmi atau Ajang Pamer?
Dulu, silaturahmi saat Lebaran berarti duduk bersama, berbagi cerita, dan saling mendoakan. Namun kini, pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti "Sekarang kerja di mana?" atau "Sudah punya rumah sendiri?" berubah menjadi ujian mental yang menyamar sebagai obrolan ringan. Jawaban yang diberikan seolah menentukan seberapa sukses seseorang di mata keluarga besar.
Tak berhenti di situ, pemandangan mobil mewah berjejer di halaman rumah, amplop THR yang saling dibandingkan, serta perbincangan tentang investasi dan bisnis menjadi bumbu wajib dalam pertemuan keluarga. Bagi mereka yang berada di posisi "biasa saja," momen ini bisa menjadi tekanan sosial yang melelahkan. Bukannya pulang dengan hati tenang, banyak yang justru merasa rendah diri dan minder setelah Lebaran.
Gengsi yang Mengorbankan Kewarasan Finansial
Tekanan sosial untuk tampil sukses saat Lebaran semakin nyata. Banyak orang yang rela berutang demi pakaian baru, menyajikan hidangan mewah, atau memberi THR dalam jumlah besar, hanya demi mempertahankan citra di mata keluarga. Alih-alih merayakan kemenangan setelah Ramadan, mereka justru terjebak dalam siklus konsumtif yang menguras finansial dan mental.
Lebaran yang sejatinya membawa kebahagiaan berubah menjadi arena kompetisi sosial. Seberapa tinggi jabatanmu? Seberapa besar rumahmu? Seberapa mahal hadiah yang kau bawa? Inilah realitas yang membuat banyak orang merasa bahwa hari raya bukan lagi tentang kebersamaan, melainkan tentang menjaga gengsi.
Mengembalikan Makna Lebaran
Jika terus dibiarkan, fenomena ini hanya akan menjauhkan kita dari esensi sejati Lebaran. Hari kemenangan ini bukan tentang siapa yang paling kaya atau paling sukses, tetapi tentang keikhlasan, kebersamaan, dan kasih sayang.
Daripada melontarkan pertanyaan yang mengukur status sosial, mengapa tidak bertanya "Bagaimana kabarmu?" atau "Apa yang bisa kubantu?" Daripada sibuk memamerkan pencapaian, mengapa tidak berbagi kebahagiaan dalam kesederhanaan?
Lebaran seharusnya menjadi waktu di mana setiap orang merasa diterima tanpa harus membuktikan apapun. Jika kita bisa mengubah cara pandang ini, silaturahmi tak lagi menjadi beban, melainkan kembali menjadi jembatan kasih sayang yang tulus.
Selamat Idulfitri. Mari rayakan kemenangan ini dengan kehangatan, bukan dengan persaingan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook