Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Putri Rahmadhani

ANDAI PANDEMI PERGI, KITA AKAN BAGAIMANA?

Lomba | Saturday, 25 Sep 2021, 23:11 WIB

Melelahkan memang, ketika beraktivitas kita seperti dipenjara di dalam rumah dengan senjata masker dan handsanitizer, musuh kita yaitu Virus Corona dapat menyerang kapan pun ketika kita keluar dari rumah. Dewasa ini, Pandemi Covid-19 seakan bom waktu yang dapat menyerang siapa saja dan dimana saja. Sebagai manusia yang membutuhkan kebebasan berangsur-angsur masyarakat telah bosan menghadapi pandemi ini. Titik terang mulai terlihat ketika vaksin telah datang ke Indonesia. Namun, itu saja tidak cukup. Untuk mencapai kekebalan bersama dibutuhkan 70% masyarakat yang sudah disuntik vaksin. Bukan merupakan waktu yang lama sebenarnya untuk dilakukan, tetapi penyebaran hoaks seperti air hujan yang menimpa masyarakat-masyarat awam melalui media sosial dan grup whatsapp membuat ketakutan masyarakat untuk melaksanakan vaksinasi.

Keluh kesah selalu muncul disetiap kesempatan yang ada. Mahasiswa, guru, dokter, pedagang, bahkan seorang ibu rumah tangga yang terbiasa untuk di rumah juga mengeluh ketika aksesnya menuju pasar dan tempat lainnya terhambat oleh ketakutan-ketakutan dan berbagai larangan yang diterapkan. Coba kita bayangkan, bagaimana tamu yang menganggu ini kita ubah menjadi sahabat kita saja? Ini merupakan satu-satunya cara untuk berdamai dengan keadaan. Secara bersama-sama kita harus mengubah pandemi menjadi endemi. Mau tidak mau kita harus berdampingan dengan Virus Corona ini.

Ketika pandemi pergi, kita tidak akan lagi merasa terkekang. Pemikiran terkekang yang dirasakan sebagian besar masyarakat karena belum bisa menerima keadaan yang digolongkan sebagai pandemi ini. Mindset kita yang harus diubah dan menganggap bahwa ini akan memberikan dampak baik dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan yang baik akan terbentuk secara alami, seperti mencuci tangan. Tidak dapat dipungkiri, sebelum adanya Pandemi Covid-19 yang mengharuskan kita rajin mencuci tangan atau menggunakan handzatizier, masyarakat pada umumnya sangat malas untuk melakukannya. Bahkan, kita mencuci makan hanya hendak makan dan hanya beberapa orang yang menggunakan sabun. Padahal kita tahu, ada tidaknya pandemi ini seharusnya mencuci tangan sudah harus diterapkan sedari dini oleh setiap masyarakat.

Pandemi akan berubah menjadi endemi yang menyebabkan adanya kenormalan yang baru. Kita akan terbiasa melihat area cuci tangan yang lengkap di tempat umum yang selama ini sangat sulit diterapkan di Indonesia. Bagaimana sebenarnya pemerintah sedaari dulu melakukan gerakan masif untuk meningkatkan keinginan masyarakat mencuci tangan dengan baik akhirnya terwujud pada saat ini. Belum lagi, perkembangan teknologi yang berkembang begitu pesat. Mulai dari sekolah dasar, anak-anak telah diterapkan penggunaan teknologi yang baik untuk meneruskan pendidikan mereka. Wali murid turut merasakan dampaknya yang mana pada awalnya dianggap orang tua tidak lagi dapat mengupgrade kemampuannya untuk menguasai teknologi tetapi ketika anak-anak mereka belajar menggunakan hal tersebut di rumah dan membutuhkan arahan dari orang tuanya, mau tidak mau maka mereka ikut meningkatkan pengetahuan mereka terhadap teknologi. Sama halnya dengan guru atau dosen senior, yang tidak terbiasa untuk memanfaatkan fasilitas teknologi di sekolah dan kampusnya dengan baik akhirnya dapat menggunakannya untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dan siswanya.

Pandemi kami sudah tidak membutuhkan kamu lagi. Masyarakat sudah siap menghadapi perubahan global yang selama ini sangat sulit diterima oleh masyarakat konservatif. Masyarakat sudah lebih peduli dengan kesehatan dan fasilitas kami sudah memadai untuk mewujudkan kehidupan yang bersih dan lingkungan yang sehat, masyarakat Indonesia yang dulunya walaupun dijelaskan oleh dokter sekalipun mengenai bagaimana pentingnya mencuci tangan, kami tetap tidak menghiraukannya. Dengan adanya pandemi kami bisa mencapai itu semua, kami bisa menikmati liburan di rumah saja seperti yang didampakan dan dimimpikan oleh setiap orang dulunya. Namun, mimpi ini sudah terlalu lama. Kami, Masyarakat Indonesia sudah tidak menginginkan pandemi lagi, mari bersama-sama membentuk endemi dengan kenormalan baru untuk Indonesia yang lebih baik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image