Menelisik Pendidikan Indonesia Dari Masa Ke Masa

Image
Sigid PN
Guru Menulis | Friday, 13 May 2022, 12:47 WIB

Pendidikan sebagai Politik Balas Budi (Trias Van Deventer).

Politik Etis dicetuskan oleh Conrad Theodor van Deventer dan Pieter Brooshooft. Pada 17 September 1901, Politik Etis resmi diberlakukan setelah Ratu Wilhelmina yang baru naik takhta menegaskan bahwa pemerintah Belanda mempunyai panggilan moral dan hutang budi terhadap bangsa bumiputera di Hindia Belanda. Ratu Wilhelmina menuangkan panggilan moral tersebut ke dalam kebijakan Politik Etis.

Penderitaan rakyat Indonesia ketika dijajah menggugah hati nurani sekelompok orang Belanda hingga memunculkan gagasan untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa jajahan. Program ini dikenal dengan istilah Politik Etis (Trias Van Deventer) atau Politik Balas Budi. Politik Etis adalah tindakan balas budi yang diberikan oleh Belanda untuk kesejahteraan pribumi karena telah diperlakukan secara tidak adil dan dieksploitasi kekayaan alamnya. Terdapat tiga kebijakan dalam Politik Etis, yaitu sebagai berikut.

1. Edukasi

Edukasi adalah program peningkatan mutu sumber daya manusia dan pengurangan jumlah buta huruf yang implikasi baiknya juga untuk pemerintah Belanda. Sebab dengan program ini, Belanda mendapatkan tenaga kerja terdidik untuk birokrasinya tetapi dengan gaji yang rendah. Edukasi dilakukan dengan membangun lembaga pendidikan modern di Indonesia, misalnya adalah Technische Hogereschool te Bandung (THS, Sekolah Teknik Bandung, sekarang ITB) Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA, sekolah pegawai negeri) dan School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA, sekolah dokter).

2. Irigasi (pembangunan saluran pengairan)

Irigasi dilakukan dengan membangun waduk, bendungan dan saluran irigasi untuk mengairi lahan persawahan dan perkebunan.

3. Imigrasi (perpindahan penduduk)

Transmigrasi dilakukan dengan memindahkan penduduk dari Jawa yang padat untuk bekerja di perkebunan Belanda di luar Jawa atau dengan memindahkan penduduk dari pulau Jawa yang padat ke luar Jawa.

Taman Siswa dan Cita-cita Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Hari Guru Nasional tak lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara dengan Taman Siswanya. Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa berdiri pada 3 Juli 1922. Pendirinya salah satu promotor pendidikan di Indonesia di tengah hegemoni sekolah kolonial. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat kala itu genap umurnya 40 tahun, lalu mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara.

Beliau dibesarkan di lingkungan keluarga keraton Yogyakarta. Gelar kebangsawanan ditanggalkannya dari nama baru. Garis keturunan Ki Hadjar Dewantara merupakan keluarga dari kerajaan Pakualam. Ayahnya GPH Soerjaningrat, dengan begitu secara langsung merupakan cucu dari Pangeran Paku Alam III. Secara latar pendidikan, karena seorang priayi, Ki Hajdar Dewantara lulus dari Europeesche Lagere School yang merupakan Sekolah Dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda. Mengutip dari buku Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian II A: Kebudajaan, setelah lulus melanjutkan ke STOVIA namun, gagal lulus karena sakit.

Saat itu, pribumi tidak mendapatkan akses pendidikan yang setara dengan bangsa Eropa yang berdiam di tanah air. Buku Karya Robert Van Niel yang berjudul Munculnya Elite Modren Indonesia (2009) menyebutkan Belanda menerapkan sistem pendidikan yang bertingkat. Dimana hal ini didasarkan atas status sosial masyarakat Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara kembali dari pengasingan bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo pada September 1919. Tiga Serangkai ini diasingkan jauh ke negeri tulip, Ki Hadjar Dewantara sendiri diasingkan karena tulisannya yang berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda”.

Tulisan yang kritis terhadap rencana pemerintah Hindia Belanda mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk kalangan pribumi untuk merayakan satu abad kemerdekaan Belanda pada 15 November 1913. Ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg. Tulisannya ini terbit di surat kabar De Express, 13 Juli 1913.

Saat pengasingan ini, beliau aktif dalam organisasi pelajar asal Indonesia, Indische Vereening, bahkan sempat menjadi redaktur di majalah Hindia Putera. Juga kerap mengirimkan karangannya untuk koran Oetoesan Hindia yang merupakan media propaganda organisasi politik. Disaat berstatus orang buangan jauh dari tanah kelahiran, Ki Hadjar Dewantara belajar ilmu pendidikan hingga meraih Europeesche Akte alias Ijazah pendidikan yang bergengsi.

Pepatah yang diciptakannya dalam bahasa Jawa menggambarkan harapan dan cita-cita Ki Hadjar Dewantara yang menjadi prinsip Taman Siswa. Pepatah terkenal itu berbunyi “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” bila diterjemahkan sebagai (bagi yang) di depan harus memberi contoh, (untuk yang) di tengah harus membangkitkan semangat, dan (bagi yang) di belakang harus memberi semangat.

Sebuah jurnal Semangat Taman Siswa dan Perlawanannya terhadap Undang-Undang Sekolah Liar (1994) menyebutkan lahirnya Taman Siswa membuat gusar pemerintah Hindia Belanda. Bahkan Belanda menerbitkan Wilde Scholen Ordonantie, sebuah undang-undang yang guna membatasi perkembangan pendidikan alternatif Indonesia. Dimana setelah UU ini berlaku, seluruh kegiatan Taman Siswa ditutup dan dibatasi ruang gerak pengajarnya. Namun semangat tak pudar. Guru-guru dan murid di Taman Siswa bersembunyi-sembunyi melanjutkan proses pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara menjadi Menteri Pengajaran Indonesia pertama dari 19 Agustus hingga 14 November 1945. Beliau mendapat gelar doktoral kehormatan dari Universitas Gadjah Mada pada 1957. Ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 305 tahun 1959, 28 November di tahun yang sama. Tanggal lahirnya juga ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Hanya beberapa bulan sebelumnya, 26 April 1959, Ki Hadjar Dewantara menutup usia pada 69 tahun di Yogyakarta. Bapak pendidikan ini selalu dikenang saat Hari Guru Nasional.

Reformasi Pendidikan Nasional Melalui Merdeka Belajar 6 Mei 2020.

Kemendikbud Ristek Dikti telah melakukan reformasi sistem pendidikan Indonesia melalui kebijakan Merdeka Belajar. Kebijakan Merdeka Belajar memberi kemerdekaan setiap unit pendidikan berinovasi. Konsep ini menyesuaikan kondisi di mana proses belajar mengajar berjalan, baik sisi budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur.

Hal ini menjelaskan bahwa Nadiem Makarim mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Menurutnya, Kemendikbud telah menyiapkan strategi yang tidak akan keluar dari esensi pendidikan, yakni kualitas guru. Guru tidak akan mungkin bisa digantikan teknologi. Sedangkan teknologi adalah alat bantu guru meningkatkan potensi dan mencari guru-guru penggerak terbaik serta memastikan bisa menjadi pemimpin-pemimpin pembelajaran dalam sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.

Kurikulum yang mudah dipahami dan lebih fleksibel juga menjadi salah satu hal yang diperlukan untuk mendukung implementasi Merdeka Belajar. Kurikulum yang dapat mendorong para guru agar dapat memilih materi atau metode pembelajaran dengan kualitas tinggi, tetapi sesuai tingkat kompetensi, minat, dan bakat masing-masing siswa. Atas dasar tersebut Kemendikbud Ristek Dikti telah meluncurkan Kurikulum Merdeka.

Esensi Merdeka Belajar adalah menggali potensi terbesar para guru-guru sekolah dan murid kita untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan.

- Teknologi untuk Akselerasi

Keberagaman pendekatan yang ada menghasilkan berbagai macam teknik dan inovasi di setiap daerah, sekolah, dan siswa, semua itu hanya bisa dilakukan hanya dengan dukungan teknologi. Merdeka Belajar tidak akan mungkin bisa berhasil tanpa teknologi. Teknologi ini bukan semuanya online melainkan bisa macam-macam. Jadi semua yang kita sebutkan teknologi akan digunakan dalam mengimplementasi Merdeka Belajar.

Sisi lain dari Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) memberikan potensi akselerasi kebijakan Merdeka Belajar serta menunjukkan bahwa sebenarnya ada selisih besar antara mereka yang memiliki akses terhadap teknologi dengan yang tidak.

- Keberagaman sebagai Esensi

Setiap siswa, sekolah, dan daerah memiliki tingkat kompetensi fundamental, literasi, dan numerasi yang berbeda, kurang masuk akal jika memaksakan suatu tingkat standar di setiap tahun pembelajaran dalam kurikulum. Guru harus bisa mencari materi yang sesuai tingkat dengan kompetensi siswanya.

Keberagaman minat dan kemampuan yang dimiliki siswa menjadi alasan paling kuat agar pengukuran kinerja siswa tidak boleh dinilai hanya menggunakan angka-angka pencapaian akademik, tetapi juga berbagai macam aktivitas lain atau ekstrakurikuler.

Kearifan lokal juga merupakan unsur penting dalam pembelajaran. Setiap siswa akan lebih memahami materi bila menggunakan konteks lokal. Setiap murid akan melihat semua mata pelajaran dan semua materi dalam konteks.

- Profil Pelajar Pancasila

Nadiem menjelaskan salah satu mandat yang diberikan Presiden adalah penyesuaian kurikulum yang bertujuan mewujudkan profil para pelajar di Indonesia. Oleh karena itu Kemendikbud Ristek Dikti telah menetapkan enam indikator sebagai profil pelajar Pancasila.

Enam profil tersebut adalah pertama, bernalar kritis agar bisa memecahkan masalah. Hal ini berhubungan dengan kemampuan kognitif. Kedua, kemandirian, yaitu siswa secara independen termotivasi meningkatkan kemampuannya, bisa mencari pengetahuan serta termotivasi. Ketiga, adalah kreatif, di mana siswa bisa menciptakan hal baru, berinovasi secara mandiri, dan mempunyai rasa cinta terhadap kesenian dan budaya. Keempat, gotong-royong, di mana siswa mempunyai kemampuan berkolaborasi yang merupakan softskill utama yang terpenting di masa depan agar bisa bekerja secara tim. Kelima, kebhinekaan global yang merupakan upaya agar siswa mencintai keberagaman budaya, agama dan ras di negaranya serta dunia, sekaligus menegaskan mereka juga warga global. Keenam, berakhlak mulia. Di sinilah moralitas, spiritualitas, dan etika berada. Menurut Nadiem Makarim, sudah pasti hal ini akan menjadikan pendidikan karakter akan menjadi salah satu pilar inti.

- Pembelajaran Darurat

Mendikbud Ristek Dikti memahami kondisi pembelajaran jarak jauh di masa darurat Covid-19 saat ini tidak berjalan optimal. Namun, dengan keluarnya semua orang, baik guru, orang tua, juga siswa, dari zona nyaman masing-masing, dinilainya akan semakin melatih karakter adaptif, inovatif dan kreatif dari komunitas pendidikan.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Guru, Founder Komunitas Guru Pelita Dunia, Aktivis Pendidikan dan Pegiat Literasi.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Dredown FB : Converter Video Facebook Tanpa Aplikasi (Private)

Image

Savefrom IG: Download Story dan Feed Instagram 4K Tanpa Aplikasi

Image

Komitmen Pimpinan Dalam Meningkatkan Etika Aparatur Negara Pelayan Publik

Image

Secure Societies, Kenyamanan Hidup dan Sikap Religius

Image

Jangan Lakukan Hal ini! 10 Penyebab Gagal Interview Kerja

Image

Link Y2Mate Asli Platform Download Video YouTube Jadi Musik Dari HP

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image