5 Fakta Menarik tentang Sosok Rosihan Anwar

Image
Slamet Samsoerizal
Sejarah | Thursday, 12 May 2022, 18:17 WIB
sumber: Antaranews

10 Mei 2022 adalah seabad Rosihan Anwar. Seratus tahun lalu, 10 Mei 1922, Rosihan Anwar dilahirkan. Dia adalah tokoh pers, sejarawan, sastrawan, dan budayawan Indonesia. ROSIHAN Anwar, wafat pada Kamis pagi, 14 April 2011, di Rumah Sakit MMC Jakarta. Kesetiaan pada profesi kewartawanan dan ketekunan menulis adalah warisan berharga yang ditinggalkan almarhum Rosihan Anwar.

1. Merintis karier sebagai Wartawan

Pada awal 1940-an, almarhum merintis karier sebagai reporter surat kabar Asia Raja, lalu mendirikan Majalah Siasat lalu Surat Kabar Pedoman. Semasa agresi Belanda kedua berkecamuk, ia ikut sibuk di Yogyakarta, ibu kota Republik saat itu, dan merekam momen-momen krusial dalam sejarah perjalanan bangsa.

Liputannya mengenai pertempuran Surabaya November 1945 sering menjadi bahasan di sekolah jurnalistik. Begitu pula laporannya yang komprehensif tentang kunjungan Perdana Menteri Uni Sovyet Nikita Kruschev.

2. Wartawan Seumur Hidup

Sebagai wartawan, tulisan-tulisan Rosihan Anwar tersebar di berbagai media. Usia 87 tahun tidak mampu menyurutkan semangatnya untuk menulis. Dia tetap aktif berkegiatan, meliput, menulis buku, menghadiri berbagai diskusi dan bedah buku, serta mendatangi banyak undangan.

Menulis bagaikan tarikan napas sehari-hari bagi Pak Ros. Setiap minggu beliau bisa melayani permintaan artikel dari belasan media, daerah, nasional, dan internasional. Ribuan tulisannya dimuat berbagai media, di daerah, nasional maupun internasional. Belakang hari, menjelang wafat, Pak Ros mengaku produktivitasnya mulai menurun. Sekarang hanya menulis secara rutin di Tabloid C&R, katanya, waktu itu.

Tabloid C&R menjadi media pers terakhir Rosihan Anwar berkarya dengan menulis kolom secara teratur sekali sepekan di dalam rubrik “ Halo Selebriti".

Rubrik Halo Selebriti memang sering diasosiasikan hanya bicara tentang artis dan dunia hiburan semata. Padahal, rubrik itu selama 13 tahun, dimulai sejak terbit pertama kali 24 Agustus 1998 hingga Pak Ros wafat, sebagaimanadikisahkan Ilham Bintang saat peringatan secaravirtual 100 tahun Rosihan Anwar menyatakan: 80 persen isinya justru mengritik kebijakan pemerintahan Presiden Habibie, Megawati, Gus Dur, hingga Susilo Bambang Yudhoyono.

3. Ingatannya Kuat

Selain semangat menulisnya yang tak menyurut, hal istimewa lain dari Rosihan Anwaradalah ingatannya yang kuat. Tentang ingatan itu, katanya, ”Saya sebenarnya enggak bisa menghafal nama-nama orang Jawa yang panjang-panjang. Kalau ingatan saya dinilai kuat, itu karena my mind is busy! Setiap hari saya sibuk berpikir, apa yang mau saya tulis hari ini?”

Dalam berbagai kesempatan wawancara, Rosihan Anwar dengan cermat mengisahkan nama tokoh, tempat, dan tanggal secara tak terbantahkan dari sisi sejarah. Demikian saat menulis ulang laporan tentang tulisan lebih dalam lagi tentang kesejarahan.

Rosihan Anwar yang bukan hanya jurnalis, tetapi juga historian sejati. Banyak perjalanan jurnalis beliau ke seantero dunia ini beliau tulis menjadi semacam roman sejarah. Akibatnya begitu kita membaca buah tulisan tangannya seolah kita berada di dalam tulisan itu. Kepiawaian seperti ini tidak banyak dijumpai pada penulis sejarah sekalipun. Karya sejarah nusantara yang beliau tulis memiliki kekhasan di sini. Pelaku sejarah seolah berada di hadapan kita dalam melakonkan perannya.

4. Produktif

Produktivitas dan semangat menulis yang ditunjukkan Rosihan Anwar mempunyai sejarah panjang. Dia menjadi penulis lepas untuk berbagai media setelah surat kabar yang ia dirikan, Pedoman, diberedel. Rosihan Anwar juga wartawan yang produktif menulis hingga akhir hayatnya. Sebelum meninggal, dia menyiapkan satu buku berjudul “Belahan Jiwa: Memoar Kasih Sayang Percintaan Rosihan Anwar dan Zuraidah Sanawi.” Ini buku tentang istrinya.

Pemberedelan Pedoman yang sampai tiga kali pun tak menghentikan semangatnya menulis. Pedoman pertama kali dibredel Pemerintah Belanda pada 29 November 1948, lalu diberedel Pemerintah Orde Lama (Soekarno) pada 7 Januari 1961, dan terakhir diberedel oleh Pemerintah Orde Baru (Soeharto) tanggal 18 Januari 1974.

5. Wartawan 6 Zaman

Wartawan senior Jakob Oetama menjuluki Rosihan sebagai “Ayatullah” wartawan Indonesia. Ia lebih dari seorang guru. Sejarawan Taufik Abdullah memberi predikat “wartawan enam zaman”. Ia mulai menjadi wartawan sejak zaman Jepang (1942—1945), zaman Revolusi Kemerdekaan (1945—1950), masa Demokrasi Liberal (1950—1959), Demokrasi Terpimpin (1959—1965), Orde Baru (1966—1998), masa Reformasi (1999—sekarang).

Hanya Rosihan Anwar yang layak menyandang predikat itu. Ia menulis di zaman yang berganti-ganti selama tujuh dasawarsa. Meskipun pendidikannya tak sampai jenjang perguruan tinggi, ia wartawan yang punya reputasi tinggi. Ia sosok multibakat, meliput perang, menulis sejarah, sastra, kritik film, kolom bebas, dan biografi. Rosihan wartawan dan juga sejarawan “nonformal”. Ia adalah penulis buku “Sejarah Kecil Indonesia” (2003).

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Negeri Plastik

Minyak Goreng Masuk ke Kelas

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Ekspresikan Dengan Buku

Image

Menjadi Bangsa yang Terdidik

Image

Sepucuk Malam

Image

Mp3 Juice: Converter Paling Gampang 2022 Hanya Masukkan Link

Image

Peradaban Buku

Image

Waspada Saat Libur, Kalapas Kelas I Palembang Periksa Kesiapan Petugas Pengamanan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image