Iqro' Tidak Sekadar Perintah Membaca tapi Juga Menghafal Al-Qur'an

Image
Santuso
Agama | Saturday, 11 Sep 2021, 13:42 WIB
ilustrasi membaca al-Qur'an (sumber gambar: republika.co.id)

Jika ditanya, apa wahyu Allah yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW? Kita pastinya sudah tahu jawabannya ialah surat al-Alaq ayat 1 sampai 5. Kata pertama pada ayat tersebut ialah iqra' yang berarti "bacalah" .

Dari sinilah, banyak ulama yang menafsirkannya secara meluas. Salah satu tafsiran tersebut ialah bahwa kita diperintahkan untuk membaca untuk menambah pengetahuan. Tafsir yang lebih spesifik ialah kita diperintahkan untuk membaca al-Qur'an.

Pertanyaannya, dalam ayat tersebut, benarkan kita diperintahkan hanya sebatas membaca al-Qur'an? Jawabannya akan kita ketahui jika kita pelajari secara mendalam tentang keadaan saat turunnya ayat tersebut. Di samping itu, kita juga perlu belajar dari penjelasan para ulama tentang makna kata iqro' yang terdapat dalam surat al-Alaq dan hadits-hadits nabi.

Keadaan Saat Turunnya Wahyu Pertama

Pada saat wahyu pertama turun, Malaikat Jibril membacakan wahyu tersebut kepada Nabi Muhammad SAW. Proses Malaikat Jibril menyampaikan wahyu tersebut kepada nabi hanya dengan membacakannya secara berulang-ulang tanpa disertai teks. Setelah beberapa kali di-talaqqi oleh Jibril, barulah nabi bisa menghafalnya lalu beliau menyampaikannya kepada orang-orang terdekatnya.

Bahkan, bukan hanya wahyu pertama, firman-firman Allah yang turun berikutnya sampai yang turun terakhir pun tanpa disertai teks. Firman Allah (al-Qur'an) baru dibukukan beberapa tahun setelah nabi wafat. Berdasarkan hal ini, kata iqro' sejatinya bukan hanya sekadar perintah membaca al-Qur'an. Sebab, keadaan pada saat turunnya al-Qur'an itu tidak disertai teks.

Bagaimana mungkin seseorang dapat membaca tanpa disertai teks tertulis? Maka dari itu, makna yang tepat dari kata iqro' dalam surat al-Alaq ialah "hafalkanlah (al-Qurâ an)" . Saat wahyu turun, nabi menghafal apa yang diucapkan oleh Jibril. Inilah pengertian iqro' yang sebenarnya.

Penjelasan Ulama

Kata iqro' yang mengacu kepada al-Qur'an juga pernah disabdakan oleh Rasulullah. Beliau pernah bersabda (yang terjemahannya), "Kelak (di akhirat) akan dikatakan kepada Shahibul Quran, Bacalah, naiklah terus dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau telah membaca al-Quran dengan tartil di dunia. Sesungguhnya tempatmu ialah pada akhir ayat yang engkau baca." (riwayat Abu Daud nomor 1464 dan Tirmidzi nomor 2914)

Syaikh al-Albani dalam kitabnya yang berjudul as-Silsilah ash-Shohihah nomor 2440 menjelaskan, makna kata iqro' dalam hadits tersebut ialah perintah untuk menghafalkan al-Qur'an.

Khatimah

Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kata iqro tidak sebatas bermakna "bacalah" tapi bermakna "hafalkanlah". Orang yang menghafal al-Qur'an maka secara otomatis ia juga akan membacanya. Namun, orang yang hanya sekadar membaca al-Qur'an belum tentu menghafalkan al-Qur'an.

Semoga artikel ini dapat menyadarkan kita bahwa dalam wahyu yang pertama kali turun, Allah memerintah kita untuk menghafal al-Qur'an. Maka dari itu, semua kata iqro' yang mengacu kepada al-Qur'an (baik dalam kitabullah itu sendiri maupun dalam hadits) memiliki arti perintah untuk menghafalkan al-Qur'an.

Dengan menghafal al-Qur'an, kita bisa mudah membacanya kapan pun dan dimana pun. Imam Syafi'i bisa meng-khatamkan al-Qurâ an di bulan Ramadhan sebanyak 60 kali karena beliau hafal al-Qur'an sehingga beliau bisa membaca al-Qur'an kapan pun tanpa harus membawa dan membuka mushaf. Dengan menghafal al-Qur'an pula, wanita muslimah yang sedang haid juga tetap bisa meraih pahala dan berkesempatan bisa menjemput laitatul qadar di bulan Ramadhan dengan membaca hafalan al-Qur'annya karena boleh hukumnya membaca hafalan al-Qur'an meskipun sedang haid* (*menurut pendapat beberapa ulama).

Mulai sekarang, ayo kita semangat mulai menghafalkan al-Qur'an. Sebab, banyak sekali keutamaan dari menghafal al-Qur'an (iqro' ul Qur'an). Keutamaan tersebut telah dijelaskan dalam beberapa hadits yang dirangkum dalam kitab Min Muqowwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah yang di antaranya ialah: a) tidak menghafalkan al-Qur'an sama sekali diibaratkan rumah yang roboh, maka mafhum mukholafat-nya ialah menghafalkan al-Qur'an diibaratkan rumah yang kokoh; b) al-Qur'an akan memberikan syafaat di hari kiamat kepada siapa saja yang telah menghafalkannya; c) semakin banyak hafalan al-Qur'an seseorang, maka kedudukannya di surga akan semakin tinggi; dan d) penghafal al-Qur'an diibaratkan seperti buah yang beraroma harum.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

teacher, reporter, blogger - mistertuso.my.id

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

TINGKATKAN KUALITAS SOFT SKILL WBP DENGAN PELATIHAN

Image

Bagaimana Cara Kerja Layanan Verifikasi SMS?

Image

Tingkatkan Pelayanan dan Pembinaan, Lapas Banyuasin Terima Monev dari Divipas Sumsel

Image

Pemikiran Fikih Ekonomi Syariah Ahmad Azhar Basyir

Image

Semenit yang Dahsyat

Image

BSN Gandeng UMS, Tingkatkan Kesadaran Produk Ber-SNI

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image