Sebotol Cuka untuk Cici

Image
Kamaruddin
Curhat | Wednesday, 11 May 2022, 14:47 WIB
Botol Cuka | Istimewa

Setelah hujan lebat dini hari, suhu pagi begitu sejuk. Segala hal sepakat untuk berdamai, preman pasar berdamai dengan Satpol PP, awan berdamai dengan angin, dan penduduk keturunan Tionghoa di Pasar Peunayong, Banda Aceh, sudah lama berdamai dengan keturunan asli Aceh.

Yang masih ribut kung kang kong hanya anak-anak kodok bangkong dalam tong sampah. Tak terima bahwa hujan sudah pulang. Beriak-riak air dari parit pasar yang tadi sempat meluap. Mengalir deras melewati deretan toko di Pasar Peunayong termasuk toko kelontong 'Ganda'.

Hari ini adalah hari pertama aku bekerja di Toko Ganda. Sekaligus pengalaman pertama aku bekerja di perantauan. Segala persiapan sudah dipersiapkan dengan matang sejak semalam. Mulai dari memastikan stok hingga menghafal harga barang.

Seorang perempuan tua keturunan Tionghoa sebut saja namanya Cici, menjadi pelanggan pertamaku. Cici bersama seorang anak berseragam SMP tampak berjalan tergopoh-gopoh, menerobos Toko Ganda yang sengaja dibuka setengah, karena sedang bersih-bersih.

Cici menyusuri setiap sudut Toko Ganda, mencari tanpa bertanya sepatah katapun. Aku yang dari tadi memperhatikan tingkah Cici memutuskan untuk bertanya;

"Cari apa Ci," tanyaku.

"Cari Cuka untuk dia, ada praktek di sekolah," tuturnya sambil menunjuk ke arah anaknya.

"Oh itu di atas Ci," jawab saya sambil menunjukkan Cuka yang berada pada ketinggian yang sangat sulit dicapai Cici.

"Tolong diambilkan, sudah telat, dia ada praktek di sekolah," suruh Cici.

"Butuh berapa Ci," tanyaku lagi sambil menuju ke arah tempat Cuka itu diletakkan.

"Dua saja," tegas Cici.

Lalu aku mengambil dua Cuka menaruhnya di atas meja kasir, dan memasukkan ke dalam plastik.

"Harganya berapa," tanya Cici.

Dalam sekejap, aku membuka catatan harga yang telah aku catat semalam. Tak ada list harga Cuka, itu membuatku gagap, tak tahu cara menjelaskan harga Cuka ke Cici.

Pandanganku mengarah ke botol sirup cap patung. Botol Cuka tidak berbeda jauh dengan botol sirup cap patung. Hanya warna saja yang beda. Cuka berwarna putih, sirup cap patung berwarna merah.

Ide kreatifku muncul, dan menganggap harga Cuka hanya sedikit lebih murah dari sirup Cap Patung. Cap patung saat itu harganya Rp18 ribu. Aku memutuskan harga Cuka Rp15 ribu.

"Rp15 ribu aja Ci, kalau dua Rp30 ribu," jelasku

Cici langsung menyodorkan uang Rp50 ribu, kembalian Rp20 ribu. Tanpa bertanya apapun, Cici langsung pergi meninggalkan toko Ganda.

Seorang kasir senior turun dari lantai dua, karena masih ragu dengan harga cuka aku bergegas menghampirinya dan bertanya;

"Bang semalam lupa catat harga Cuka,".

"Rp5 ribu satu botol Mar," jawabnya.

Aku terkejut bukan main, merasa berdosa sama Cici. Dari sini aku belajar, dalam hidup, kadang ada hal-hal yang terjadi di luar apa yang telah kita persiapkan. Sampai sekarang, aku tak pernah lagi bertemu dengan Cici, bahkan aku sudah lupa dengan wajahnya.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Mengingat bersama dengan menulis

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Ekspresikan Dengan Buku

Image

Menjadi Bangsa yang Terdidik

Image

Sepucuk Malam

Image

Mp3 Juice: Converter Paling Gampang 2022 Hanya Masukkan Link

Image

Peradaban Buku

Image

Waspada Saat Libur, Kalapas Kelas I Palembang Periksa Kesiapan Petugas Pengamanan

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image