Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ade Sudaryat

Inilah Ragam Lebaran Bagi Orang Beriman

Agama | Tuesday, 10 May 2022, 04:06 WIB
Ilustrasi : Lebaran (sumber gambar : https://republika.co.id)

Pada umumnya, orang-orang hanya mengenal dua macam lebaran, yakni Idul Fithri dan Idul Adha dengan sedikit perlakuan yang berbeda. Meskipun sama-sama hari suci dan bernilai ibadah, perayaan Idul Fithri jauh lebih ramai dan semarak daripada perayaan Idul Adha. Padahal, seharusnya kita tidak membeda-bedakannya.

Jika kita menelusuri nilai-nilai ajaran Islam, sebenarnya kita memiliki beragam lebaran. Jika kita kelompokkan, terdapat lebaran harian, mingguan, tahunan, dan lebaran yang waktunya masih ghaib.

Pertama, lebaran harian. Memangnya ada? Ini pertanyaan yang pasti muncul di benak semua orang. Jawabannya singkat, ada.

Anas bin Malik r.a., salah seorang sahabat Rasulullah saw berkata, “Jika dalam suatu hari jiwa seseorang bisa terlepas dari perbuatan dosa dan kemaksiatan, dan pada hari tersebut tak ada satupun dosa yang dicatat malaikat pencatat amal buruk, maka hakikatnya pada hari tersebut, ia sedang melaksanakan hari raya atau lebaran” (Durrotun Nashihin fil Wa’dhi wal Irsyad, fi Bayani Idil Fithri, hal. 263).

Jika kita benar-benar berusaha merayakan lebaran yang satu ini, persiapannya akan jauh lebih sibuk daripada menghadapi Idul Fithri dan Idul Adha. Kesibukan lebaran yang pertama ini lebih banyak melibatkan tekad dan kekuatan hati dalam merayakannya. Meskipun mustahil ada orang yang terbebas dari perbuatan dosa, setidaknya setiap saat kita harus berusaha keras mengurangi perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Kedua, lebaran mingguan. Lebaran yang satu ini setiap minggu kita lewati, namun kita tak menyadari atau belum mengetahuinya. Hari lebaran mingguan tersebut adalah hari Jum’at. Di sisi Allah, hari Jum’at lebih agung daripada Idul Fithri dan Idul Adha (H. R. Al-Baihaqy).

“Sesungguhnya hari Jum’at merupakan hari raya bagi kalian, hendaklah kalian tidak melaksanakan puasa sunat pada hari tersebut. Jika kalian hendak melaksanakan puasa sunat pada hari tersebut, hendaklah kalian melaksanakan puasa sunat sehari sebelumnya atau puasa sunat sehari sesudahnya” (H. R. Ahmad).

Para ulama ahli fiqih memberikan predikat makruh terhadap puasa sunat yang dilaksanakan pada hari Jum’at tanpa melaksanakan puasa sunat sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Karenanya, jika seseorang tetap ingin melaksanakan puasa sunat pada hari Jum’at, maka hendaklah ia berpuasa pada hari Kamis dan Jum’at atau Jum’at dan Sabtu. Namun ketentuan ini tak berlaku bagi mereka yang melaksanakan puasa Daud.

Ketiga, lebaran tahunan yakni Idul Fithri dan Idul Adha. Kedua lebaran ini sudah tidak asing lagi bagi kita dan sudah sering dibahas dalam berbagai kesempatan.

Keempat, lebaran yang waktunya masih ghaib, kedatangannya tak bisa diprediksi secara hisab maupun rukyat. Semuanya bersifat rahasia, dalam genggaman kekuasaan Allah. Namun demikian, kita harus mempersiapkan diri agar termasuk ke dalam kelompok orang yang mampu merayakannya dengan penuh suka cita.

Lebaran keempat ini merupakan lebaran berdasarkan nasihat Anas bin Malik r.a. Menurutnya, bagi setiap mukmin terdapat lima macam hari raya yang salah satunya sudah disebutkan pada awal tulisan.

Jika seseorang meninggal seraya membawa banyak amal baik, meninggal dalam keadaan khusnul khatimah, maka kematian yang menjemputnya merupakan hari raya bagi orang tersebut. Kehidupan selama di dunia menjadi nilai tambah kebaikan bagi dirinya, sementara kematiannya merupakan istirahat dari perbuatan dosa, berbagai kesibukan, dan hiruk-pikuk kehidupan dunia.

Masih berdasarkan nasihat Anas bin Malik r.a., lebaran berikutnya adalah ketika seseorang dapat menyeberangi jembatan di akhirat kelak. Kita harus meyakini bahwa kelak kita akan menyeberangi sebuah jembatan. Sebagian ulama menyebutnya jembatan shirath al mustaqim.

Hadits-hadits Nabi saw menyebutkan kondisi orang-orang yang menyeberanginya. Ada orang yang menyeberanginya dengan merayap, merangkak, dan ada pula orang yang tak dapat menyeberanginya sama sekali, langsung terjatuh ke dalam neraka yang ada di bawahnya. Ada pula orang yang dapat menyeberanginya dengan cepat, ia berjalan secepat kilat, selamat, dan menjadi ahli sorga.

Lebaran terakhir yang paling agung adalah ketika kita dapat melihat Zat Allah. Lebaran ini merupakan puncak kebahagiaan bagi hamba Allah. “Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, memandang Tuhannya” (Q. S. Al-Qiyamah : 22 – 23).

Kita harus meyakini, di akhirat kelak, setiap orang mukmin akan diberi kesempatan untuk melihat Zat Allah dengan jelas, sejelas kita memandang bulan purnama yang tak terhalang mega.

“Kalian akan dapat memandang Zat Allah dengan jelas laksana melihat bulan purnama. Salah satu syaratnya, kalian tidak menyia-nyiakan shalat Shubuh dan shalat Ashar. Shalat Shubuh tidak kesiangan, dan tidak menunda-nunda pelaksanaan shalat Ashar sampai terbenam matahari” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz VIII, hal. 279, Penerbit : Daar Ath Thayyibah li Nasyr wa Tauzi’, Riyadh Saudi Arabia).

Idul Fithri dan Idul Adha sudah biasa kita laksanakan, kita tinggal mengupayakan dapat melaksanakan dan meraih ragam lebaran lainya. Sementara itu, hati kita harus dapat merasakan getaran hari lebaran dan kebahagiaan ketika memasuki hari Jum’at. Kita harus benar-benar mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah pada hari tersebut.

Semoga Idul Fithri, Idul Adha, dan ibadah pada hari Jum’at yang sudah biasa kita lakukan dapat mengantarkan diri kita untuk meraih ragam lebaran lainnya seperti yang telah disebutkan dalam nasihat Anas bin Malik, r.a.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image