Berbagai Kemungkinan pada Status Sumbangan 2T

Image
Salman
Politik | Tuesday, 03 Aug 2021, 22:52 WIB

Foto Bilyet Giro Rp 2 Triliun Atas Nama Heryati Anak Akidi Tio (Berbagai Sumber)

Terkait sumbangan 2 triliun yang diserahkan anak perempuan almarhum Akidi Tio pada Kapolda Sumatera Selatan yang hingga hari ini belum dapat dicairkan, adakah Heryati dapat dikenakan pasal penipuan?

Instrumen bank yang digunakan oleh Heryati untuk transaksi itu adalah Bilyet Giro.

Bilyet giro adalah surat perintah dari Penarik atau nasabah kepada Bank Tertarik untuk melakukan pembayaran sejumlah dana kepada rekening Penerima. Bukan tarik tunai seperti Cek.

Bila rekening penerima berbeda Bank, itu akan dilakukan dengan metode kliring dan bila pada Bank yang sama akan berlaku apa yang biasa disebut dengan pemindahbukuan.

Di sisi lain, cek dan Bilyet Giro sendiri adalah merupakan alat pembayaran yang sah. Sedangkan kegagalan pembayaran, semisal saldo tak cukup, itu masuk dalam ranah hukum perdata dan di sana peristiwa seperti itu dianggap sebagai wanprestasi atau gagal bayar. Gagal bayar bukan pidana.

Memang terdapat juga adanya kemungkinan kegagalan pembayaran tersebut dilakukan untuk melakukan tindak pidana, misalnya tindak pidana penipuan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 Kitab UU Hukum Pidana (KUHP).

Terhadap kasus yang terakhir ini, apabila apabila unsur-unsur tindak pidananya terpenuhi dan terbukti bahwa pemberian cek atau bilyet giro kosong dilakukan untuk melakukan kejahatan, maka pemidanaan tetap dapat dilakukan.

Apakah peristiwa Heryati ingin mendonasikan harta yang diyakininya sebagai miliknya itu dapat dikatagorikan sebagai penipuan, seharusnya tidak. Tak ada unsur Heryati akan atau berniat ingin mendapat keuntungan bukan?

Sepertinya Heryati hanya sangat yakin bahwa dia memang punya uang itu. Bahwa uang tersebut setelah disumbangkan dengan instrumen bilyet giro ternyata karena satu dan lain hal masih belum dapat ditarik, itu jelas bukan kejahatan. Itu wanprestasi.

"Bagaimana bila Heryati sejak awal tahu bahwa uang tersebut tidak pernah ada dan namun karena ingin tenar dia melakukan tindakan yang membuat heboh itu? Bukankah itu hoax dan melanggar UU ITE?"

Pihak yang dia sumbang bukan sembarang orang. Di sana nama Kapolda turut disebut dan itu tentu memiliki banyak unsur yang bukan kaleng-kaleng. Di sana juga ada penerbit bilyet giro yakni Bank Mandiri yang pasti akan turut diselidiki bila cerita ini akan diperkarakan. Ini cerita panjang dan berbelit.

"Iya, tapi ada dananya ga? Kalau ga ada kan tetap saja bohong."

Bagaimana bila dana itu ternyata memang ada namun dalam bentuk data bank dan kita sebagai masyarakat awam tak mengerti makna data tersebut?

Bagaimana bila ternyata dana yang konon masih ada dalam sistem perbankkan di Singapore itu masih butuh proses dan dalam proses tersebut, ternyata juga masih butuh dana misalnya? Indikasi itu memang mulai terlihat bukan?

Selama seluruh dokumen itu ada dan dapat ditunjukkan, Heryati tak bisa dituduh bohong apalagi menipu.

Ini jelas berbeda dengan peristiwa pemukulan Ratna Sarumpaet. Pemukulan sebagai fakta sebuah peristriwa itu tidak pernah ada, namun diviralkan seolah benar terjadi.

Namun kepolisian Sumsel saat ini masih bekerja keras menyikapi sumbangan halu ini. Sampai saat ini masih berupa misteri.

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Peran Institusi Pendidikan dalam Perkembangan Ekonomi Syariah

Image

PPKM untuk Kepentingan Bersama

Image

Kangen Piknik, Jelajah Sejarah Candi Gedong Songo, Jawa Tengah

Image

Kangen Piknik : Bersama Alam Kembali Menjadi Manusia

Image

Andai Pandemi Pergi : Harapan dan Kesadaran Diri

Image

Pendidikan Kolaboratif: Pembelajaran Tatap Muka Berbasis Terapi Mental

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image