Covid-19: Berkaca dari Cuek Diri

Image
Muhammad Amirudin
Curhat | Wednesday, 28 Jul 2021, 12:57 WIB

Beberapa hari yang lalu penulis telah menyelesaikan masa isolasi mandiri selama 14 hari. Kami dinyatakan positif Covid19 melalui test cepat Antigen. Bahkan bukan hanya penulis, kedua anak dan istri penulis terpapar juga. Bukan pekerjaan yang ringan menghadapi masa-masa isolasi mandiri. Makan yang bergizi, berpikir positif, cek saturasi, tekanan darah, atur napas, berjemur, gerak badan, banyak berdoa dan rasa sakit yang berubah-ubah.

FENOMENA DI MASYARAKAT

Kami beruntung hidup di tengah tengah masyarakat yang peduli sesama. Hidup di antara saudara saudara kami yang dekat dan yang jauh, selalu mengingatkan, mendoakan mensuply makanan dan kebutuhan hidup serta memberi semangat dan doa. Luar biasa memang, Allah menurunkan wabah yang bisa menggugah hambanya untuk peduli terhadap sesama. Menaruh belas kasih di hati hamba-hambaNya melalui wabah ini. Teman dekat maupun jauh tak kalah perannya. Mungkin ini salah satu cara Tuhan menampakkan sifat Rahman RahimNya. Manusia sangat terbatas ilmunya.

Awalnya, anak kami laki laki (paling besar) mengalami demam, batuk dan pusing. Selazimnya sebagai orang tua melihat anaknya sakit, menaruh perhatian lebih. Dirawat, diperiksakan ke dokter, diladeni dengan makan dan minum yang lebih enak dibanding waktu sehat. Bila hanya masuk angin atau flu biasanya reda dalam 3 hari. Namun tidak demikian yang terjadi hampir satu pekan tidak sembuh walau minum obat dari dokter.

Pekan berikutnya istri penulis mengalami tidak enak badan dan batuk. Mau tidak mau penulis merawat keduanya bersama anak kedua (perempuan). Penulis berikan obat pereda sakit dan flu yang dibeli dari apotik. Diberikan minuman madu untuk energinya. Namun dua hari tak kunjung reda. Penulis mulai kawatir saat dua hari berikutnya tersebut, mengalami demam yang sama dengan anak laki-laki penulis. Kami periksa ke dokter bersama sama dan diberikan obat anti nyeri, batuk dan flu. Setelah 3 hari dan minum obat, tak kunjung reda disusul anak kami perempuan mengalami gejala yang sama disertai anosmia (tidak bisa membau).

Atas inisiatif anak, kami berangkat bersama-sama ke RS untuk melakukan tes antigen dan melakukan pemeriksaan. Tidak lama kemudian hasilnya muncul positif Covid19. Mulailah kami berempat pulang mengisolasi mandiri serta memberitahukan ke Gugas RW dan desa. Sejak itulah kami berjuang melawan covid19 dibantu tim medis desa dan keponakan yang menjadi dosen FKKM UGM. Berjuang melawan Covid19 itu tidak ringan. Kecemasan selalu ada menyertai kami. Gejala sakit silih berganti bermunculan setiap saat dengan gejala yang berubah-ubah.

Tidak semua orang mempunyai sikap yang sama dengan yang kami lakukan. Kami juga tidak merasa paling benar dengan sikap di atas. Di masyarakat dengan cara berpikir dan berpandang yang berbeda-beda menjadikan penyikapan yang berbeda pula. Sikap masyarakat tersebut menjadi fenomena baru memandang Virus Covid19.

Menyadur apa yang dikatakan Imam Ghazali, cara pandang masyarakat terhadap Covid19 dapat dibedakan seperti di bawah ini:

1. Tahu dirinya sakit bergejala Covid19, dan mau meriksakan dirinya tes Covid19.

2. Tahu dirinya sakit bergejala Covid19, tapi tidak mau memeriksakan dirinya untuk tes Covid19

3. Tidak tahu kalau dirinya sedang sakit bergejala Covid19, dan mau meriksakan dirinya untuk tes Covid19.

4. Tidak tahu kalau dirinya sedang bergejala Covid19, dan tidak mau memeriksakan dirinya untuk tes Covid19.

Dari ke-4 sikap di atas sebagai hasil cara pandang terhadap Covid19, Anda termasuk mempunyai sikap yang mana? Yang bisa menjawab adalah diri Anda sendiri.

Fakta dan fenomena yang berkembang sekarang menurut penulis adalah sikap yang kedua yaitu "tahu dirinya sakit bergejala Covid19, tapi tidak mau memeriksakan dirinya untuk tes Covid19". Kebanyakan mereka beranggapan bahwa Covid19 itu hanyalah sakit flu biasa. Sehingga mudah sembuh dengan ramu-ramuan rempah rempah penghangat badan. Bahkan bersikap nyinyir bila ada orang yang bergejala Covid19 memeriksakan dirinya dengan melalui tes Antigen maupun PCR. Sakit flu itu jika di tes antigen hasilnya positif, katanya. Lantas bisa kemana-mana bebas beraktivitas. Sembari mengabaikan saudara, tetangga, teman akan tertular virusnya. Mungkin sikap ini (sikap kedua) yang memperburuk dan menambah melonjaknya kasus Covid19. Menurut penulis, sikap memeriksakan diri dengan tes antigen adalah bentuk tanggungjawab seseorang terhadap dirinya, keluarganya, tetangganya dan lingkungannya.

Alangkah eloknya hidup ini jika satu sama lain saling peduli, tidak merasa paling sehat, dan membiarkan orang lain tertular. Bersikaplah sebagaimana sikap yang pertama di atas. Semoga wabah ini berlalu dengan ikhtiar dan kesadaran bersama mencegah penularan lebih luas lagi. Serta tidak kalah pentingnya, dengan berdoa kepada sang pencipta jagat raya dan isinya.

Penulis : MUHAMMAD AMIRUDIN (Guru MTsN 1 Klaten Fillial Jeblog)

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Pemerhati Pendidikan

PEMBELAJARAN DI ERA PANDEMI

Kreativitas Peserta Didik di Masa Pandemi

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Peringatan Hari Alzheimer 21 September 2021 melalui Pengabdian kepada Masyarakat oleh Universitas Ai

Image

Sharing dan Bedah Buku

Image

Program Kemaslahatan BPKH yang Menjanjikan

Image

5 Tren Rumah Subsidi Paling Diserbu Konsumen Properti

Image

Andai Pandemi Pergi: Tentang Optimisme untuk Kehidupan

Image

Ini 10 Game Balap Mobil Terbaik untuk HP Android dengan Grafik HD

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image