Sejatinya Kesalehan Pribadi Berimbas Kepada Kesalehan Lingkungan

Image
Ade Sudaryat
Agama | Saturday, 23 Apr 2022, 06:39 WIB

Suatu ketika Imam Ahmad bersilaturahmi kepada Imam Syafi’i. Karena kemalaman, ia meminta izin kepada Imam Syafi’i untuk menginap di rumahnya. Dengan senang hati, Imam Syafi’i mengizinkannya.

Selepas shalat Isya berjamaah, Imam Ahmad meminta izin untuk tidur agar tak kesiangan melaksanakan shalat tahajud dan shalat shubuh. Sementara Imam Syafi’i masih terus bergelut dengan pengkajian terhadap al Qur’an dan al Hadits. Ia hanya tidur sekejap-sekejap saja.

Sang Imam Mujtahid ini memiliki kebiasan tidur sebentar, menghabiskan malam-malamnya di pembaringan. Itu pun tidak tidur nyenyak, sebab ketika berbaring seraya merenungkan al Qur’an dan menyimpulkan aneka hukum. Ketika hasil renungan dan berfikir sudah diperoleh kesimpulannya, ia segera bangun untuk kemudian menuliskannya.

Menjelang sepertiga malam, Imam Ahmad bangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Ketika melewati ruang tengah, ia melihat sang pribumi tengah tertidur dekat tumpukan tulisan yang berserakan.

Selepas berwudhu, Imam Ahmad melaksanakan shalat tahajud dan berzikir sampai datang waktu shubuh, sementara Imam Syafi’i masih tergolek hingga menjelang shubuh. Melihat keadaan demikian, Imam Ahmad merasa heran. Sang pribumi, hanya bangun beberapa saat sebelum waktu shubuh datang, kemudian melaksanakan shalat sunat dua rakaat, shalat sunat qabla shubuh, dan shalat shubuh berjamaah beserta zikir.

“Semalaman aku beberapa kali keluar, dan melihatmu tergolek, tertidur. Ketika aku bangun di sepertiga malam, aku melihatmu masih tergolek tidur juga. Mengapa perilakumu demikian? Bukankah bangun di sepertiga malam itu merupakan zikir yang terbaik?” Tanya Imam Ahmad melepas kepenasarannya kepada Sang Imam Mujtahid.

“Boleh saja kamu mengira aku tertidur semalam suntuk. Sebenarnya tidak seperti itu. Aku setiap malam tertidur hanya sekejap-sekejap saja. Aku tidur hanya untuk sekedar mengistirahatkan mata dan otak agar tak terlalu lelah. Tadi malam aku berhasil memecahkan 1.100 masalah hukum yang sering dihadapi umat. Kamu semalaman tidur, kemudian bangun, berdiri lama melaksanakan shalat dan berzikir sampai shubuh, beramal untuk diri sendiri, sedangkan aku semalaman begadang, tertidur sekejap-sekejap karena beramal untuk umat”

Pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah tersebut, selain kita harus melaksanakan ibadah dan zikir secara individual juga kita harus melaksanakan ibadah untuk kepentingan umat. Dalam hal ini terkadang kita egois. Kita lebih sering mementingkan kesalehan secara individual dan melupakan kesalehan sosial, tidak memperhatikan kepentingan umat, atau setidaknya kepentingan orang-orang terdekat dari kita.

Seseorang dengan bangga dapat melaksanakan ibadah umrah setiap tahun, sementara tetangganya yang nampak kelaparan, dan ia mengetahuinya, ia biarkan begitu saja. Hatinya tak tergerak untuk meringankan beban kehidupan tetangganya tersebut. Padahal, seandainya biaya umrah untuk kesekian kalinya ia berikan untuk meringankan beban kehidupan tetangganya, kemudian tetangganya menjadi orang yang taat beribadah, pahalanya akan terus mengalir kepada orang tersebut.

Perlakuan tersebut akan jauh lebih berharga daripada ia melaksanakan ibadah umrah berkali-kali, dan membiarkan tetangganya hidup dalam kubangan kelaparan dan penderitaan. Dengan membantu meringankan beban kehidupan tetangganya, dan mengajaknya untuk taat beribadah, ia telah menjadikan dirinya dan tetangganya menjadi hamba Allah yang shaleh. Ia akan mendapatkan pahala berlipat ganda.

Ketika Rasulullah saw menyerahkan panji-panji pada Perang Khaibar kepada Ali bin Abi Thalib, ia berpesan kepada sahabat tercinta dan sekaligus mantunya tersebut menyeru penduduk Khaibar untuk memeluk Islam. Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Demi Allah, ketika Allah memberi hidayah kepada satu orang melalui ajakan engkau, maka itu jauh lebih baik bagimu daripada harta peninggalan yang banyak.” (Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy, Fiqhu Sirah Nabawiyah,hal. 244).

Kita sering memandang ibadah dan amal shaleh itu hanya sebatas di atas sajadah, di dalam masjid, ibadah shaum, zikir, tadarus, dan ibadah mahdhah lainnya. Padahal ibadah dan amal shaleh itu begitu luas dan banyak, sebanyak pasir di pantai. Selama suatu perbuatan tidak bertentangan dengan aturan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan, diniatkan lillahi ta’ala, maka perbuatan tersebut termasuk ibadah dan amal shaleh.

Membuang sampah dari jalan sering dianggap perbuatan sepele, padahal perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang sangat berharga dan menambah nilai keimanan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw menyebutkan, membuang sampah atau duri dari jalan merupakan cabang iman ke-70, sementara puncak dari iman adalah mengucapkan laa ilaaha illallah, tiada Tuhan selain Allah.

Kita boleh saja khusyuk dalam melaksanakan ibadah shalat dan zikir, namun tatkala kita tak peduli dengan lingkungan kita, baik terhadap saudara, tetangga, dan lingkungan hidup, maka nilai kekhusyukan shalat kita akan berkurang dan mengurangi jumlah cabang keimanan.

Segala kesalehan individual yang kita lakukan, memiliki ilmu dan wawasan yang luas, ibadah dan zikir yang khusyuk akan bernilai lebih jika nilai-nilainya diterapkan demi kemajuan umat. Dengan kata lain, kesalehan kita berpengaruh terhadap tingkat kesalehan lingkungan hidup di sekitar kita.

Kita harus sering meneliti diri/ bermuhasabah, jangan-jangan kemunkaran yang ada di sekitar kita merupakan peringatan dari Allah terhadap kesalehan diri kita yang belum memberikan pengaruh kepada orang-orang di sekitar kita. Jangan-jangan mereka tidak tertarik untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah karena diri kita masih memisahkan antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.

Di atas sajadah kita menjadi orang shaleh, sementara dalam kehidupan bermuamalah, bergaul dengan masyarakat, perilaku dan ucapan kita bertentangan dengan kesalehan ketika kita shalat dan berzikir di atas sajadah. Akhlak kita nampak seperti orang yang tak pernah bersujud kepada Allah. Ucapan dan perilaku kita tak memiliki nilai pembeda dengan orang-orang yang tak pernah bersujud kepada Allah.

Suatu kebahagiaan dan akan berpahala besar jika seseorang yang taat beribadah, shaleh secara spiritual, namun ia juga sangat peduli terhadap kepentingan umat. Ia tidak merasa tenang hidupnya, manakala tetangganya hidup dalam kubangan kesulitan. Ia baru merasa tenang ketika ia mampu meringankan beban kesulitan hidup saudara atau tetangganya.

Bukanlah suatu kebaikan, ketika kita egois dalam melaksanakan ketaatan dan membiarkan orang lain berkubang dalam kesulitan, apalagi berkubang dalam kemaksiatan. Selayaknya kita berbuat seperti yang Imam Syafi’i lakukan, ia taat beribadah kepada Allah dan rela melelahkan dirinya ikut memikirkan nasib umat, dan mencarikan solusi dari setiap masalah yang dihadapi umat.

Ilustrasi : Dzikir (sumber gambar : Republika Online)
Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Penulis dan Penerjemah Lepas Bidang Agama, Budaya, dan Filsafat

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Cara Membuat QR Code Untuk WIFI DI Coffeshop

Image

Wilayah yang Kental dengan Pendidikan di Indonesia

Image

HUT RI ke-77, Sebanyak 259 Narapidana Rutan Jepata Terima Remisi Umum 3 Diantaranya Langung Bebas

Image

Tiga Keuntungan Investasi Reksa Dana yang Tak Banyak Diketahui Orang

Image

PSMTI DIY Menggelar Donor Darah, Peringati HUT RI ke-77

Image

PENELITIAN SEPUTAR PENCARIAN KATA KUNCI INTERIOR KAMAR

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image