Jalan Berbatu menuju Neo Bank

Image
Wahid Lukman
Bisnis | Tuesday, 25 May 2021, 16:01 WIB
NAMA TOKOH
SHARE

Change is inevitable, Progress is optional. kutipan Tony Robin menegaskan bahwa kita tidak bisa mengentikan suatu perubahan. akan tetapi, kemajuan dan kemandegan adalah sebuah pilihab. hal tersebut berkaitan erat dengan kondisi dunia saat ini yang sedang dihantam oleh Pandemi Covid-19. Akibatnya, banyak aktivitas yang menyangkut kepentingan publik maupun pribadi menjadi terhambat. Tetapi sekali lagi, perubahan tidak pernah berhenti. Seperti yang dikatakan oleh Rhenald Kasali, Pandemi justru mempercepat adanya disrupsi atau lebih dikenal dengan double disruption.

Perlu ditekankan bahwa disrupsi bukanlah suatu alat, melainkan sebuah proses. Melalui proses terebut, maka dibutuhkan alat, misalnya teknologi. Transformasi perbankan dalam aktifitasnya merupakan akibat dari disrupsi teknologi. Di Afrika Selatan, M-Pesa menjadi alat transaksi selain mendatangi kantor bank setempat. Ketika itu, bank belum mengadopsi Fintech. Setalah Fintech menjamur, bank baru mengadakan perubahan di dalam tubuhnya. Penyesuaian layanan nasabah yang dilakukan oleh bank berhasil membawanya melewati lubang hitam.

Namun demikian, bank belum merubah seluruh sistemnya menjadi digital. Banyak bank masih menyediakan layanan yang mengharuskan nasabahnya mendatangi kantor bank setempat. Selain itu, penggunaan tanda tangan sebagai alat bukti sah mengenai kepemilikan juga mengindikasikan sistem yang masih tradisional. Bisa kita bayangkan saat kita harus mengantri untuk membuka rekening baru, tentu akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Maka dari itu, kemampuan untuk mengalokasikan waktu ke dalam kegiatan yang memiliki efek positif terhadap tubuh kita maupun orang lain sangat diperlukan oleh setiap orang.

Jika kita menilik jumlah kantor bank pada enam tahun terakhir, kita akan menemukan penurunan jumlah kantor bank yang semula pada tahun 2015 mencapai puncak 32.963 unit, tapi setelah itu terus menyusut hingga 29.949 unit pada Maret 2021. Dapat diartikan, tren penutupan kantor bank menandakan adanya perubahan dalam manajemen mereka yaitu salah satunya digitalisasi. Keterbukaan bank dalam menghadapi digitalisasi sudah selayaknya kita apresiasi. Tetapi masih banyak tantangan yang harus dihadapi bank dalam proses transformasi tersebut.

Regulasi

Di era percepatan ini, banyak produk dan layanan hasil inovasi yang terus bermunculan, misalnya payment channel system, digital banking, peer to peer lending, dan crowd funding. Beragam inovasi tersebut menyebabkan perubahan dalam perilaku nasabah. Ditambah, sebagian besar penduduk Indonesia didominasi oleh kaum muda yang tumbuh bersama teknologi. Penyelarasan antara regulasi dan inovasi perlu dilakukan segera. Sudah menjadi tugas OJK dalam menciptakan iklim yang kondusif bagi masyarakat dan bank itu sendiri. Jika terjadi ketimpangan antara regulasi dan inovasi, maka akan berdampak pada menurunnya laju inovasi.

Cyber Security System

Maraknya pembobolan data menjadikan tingkat keamanan Fintech perlu dibenahi. Baik dari segi regulasi maupun teknologi harus saling berkolaborasi. Seperti yang baru-baru ini terjadi pada BPJS Kesehatan yang mengalami kebocoran data. Penyalahgunaan data oleh pihak yang tidak berwenang bisa berdampak buruk karena peserta BPJS Kesehatan bukan hanya warga sipil, tetapi juga para militer.

bercermin dari hal tersebut, seharusnya pemutakhiran keamanan untuk melindungi data pribadi harus segera dikembangkan oleh bank. Kita tahu bahwa sistem blockchain dengan sifat desentralisasi atau pemegang data tidak hanya satu mampu mengantisipasi manipulasi data. Sistem blockchain dibangun atas berbagai teknologi yang sudah ada, salah satunya adalah teknik enkripsi. Penggunaan nantinya akan memiliki kunci publik dan kunci pribadi. Ketika pengguan ingin melakukan transaksi keuangan, maka pengguna pertama melakukan enkripsi data melalui kunci pribadi. Setelah itu, pengguna pertama mempublikasikan data yang sudah dienkripsi atau belum dengan kunci publik. Pengguna lain bisa mencocokan data hasil deskripsi dengan data asli melalui kunci publik.

Teknologi blockchain terbilang masih muda, tetapi teknologi tersebut telah menawarkan transparasi dan keamanan data yang dibutuhkan oleh setiap orang. Self Disruption pada bank perlu dilakukan segera, mengingat banyak inovasi yang terus bermunculan. Kita tentu tidak ingin seperti Nokia yang harus rela gulung tikar secara tak terduga. Lawan kita sekarang tak terlihat!

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jalan Berbatu menuju Neo Bank

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Cara Memahami Humas Zaman Now

Image

Pentingnya Kehumasan

Image

Public Relation : Media Komunikasi Dalam Kegiatan Marketing

Image

Peran humas dalam hubungan media

Image

Peran Humas diera pandemi

Image

Totalitas Guru Di Masa Pandemi

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image