Arti Penting Merger Bank Syariah Indonesia (BSI)

Image
Sunarji Harahap
Bisnis | Sunday, 02 May 2021, 17:21 WIB

Perkembangan ekonomi syariah sepanjang 2021 diprediksi masih tumbuh positif dan industri perbankan syariah akan berperan dominan, didukung kehadiranPT. Bank Syariah Indonesia, Tbk, entitas hasil merger tiga bank syariah milik bank BUMN. saat ini Indonesia sudah dalam jalur tepat untuk memaksimalkan segala potensiekonomi syariahyang ada. Salah satu buktinya, mulai tahun ini sejak 1 Februari 2021 telah diresmikan bank terbesar bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk., yang merupakan hasil penggabungan usaha tiga bank milik anak usaha BUMN yakni PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri dengan Nama bank yang akan digunakan telah ditetapkan, yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Keberadaan Bank Syariah IndonesiaIndustriperbankan syariah akan berperan dominan dalam perkembangan ekonomi syariah karena sektor ini telah mencatat pertumbuhan yang baik pada 2020 dan di tahun 2021 diyakini dapat membangkitkan ekonomi dan keuangan syariah serta memajukan ekosistem halal di Tanah Air

Berdasarkan dataOtoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Juni 2020 nilai aset industri perbankan syariah dapat tumbuh hingga 9,22 persen secara tahunan , lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan aset perbankan konvensional, yang sebesar 4,89 persen. Bank syariah hasil merger akan bergerak bersama dengan bank-bank syariah lainnya serta berkolaborasi dengan lembaga keuangan syariah, perusahaan sekuritas, manajer investasi, perusahaanfintechserta lembaga pengelola dana ZISWAF untuk melayani kebutuhan para pelaku usaha di industri halal atau industri lainnya..

Ekosistem ekonomi syariah akan terbentuk dengan baik dan berkelanjutan dan diharapkan memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional. Selain didukung keberadaan bank syariah hasil merger, ekonomi syariah juga berpotensi tumbuh pesat apabila potensi besar keuangan sosial atau ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf) bisa dimanfaatkan sepanjang tahun. saat ini Indonesia memiliki potensi zakat nasional hingga Rp217 triliun dan Rp233 triliun potensi wakaf produktif. Triliunan potensi ZISWAF ini bisa bermanfaat apabila dimaksimalkan pengumpulan dan distribusinya bagi masyarakat yang berhak. ziswaf melalui mekanisme perlindungan sosialnya dalam melindungi kaum yang lemah mampu membantu dalam mengatasi ancaman krisis di tengah pandemi Covid-19. Hal ini juga diperkuat dengan status kedermawanan masyarakat Indonesia, di mana Indonesia juga berhasil menjadi negara paling derwaman dalam World Giving Index (WGI). berpeluang tumbuh positif, pengembangan ekonomi syariah sepanjang 2021 disebut harus mampu menjawab sejumlah tantangan. Salah satunya, harus ada langkah untuk mengatasi masalah terbatasnya jangkauan lembaga keuangan syariah ke pelosok negeri.

Lembaga keuangan syariah (LKS) yang umumnya telah hadir hingga ke desa-desa adalah dalam bentuk BMT atau koperasi syariah, sehingga jangkauan pendanaan maupun pembiayaan pada bank syariah masih cukup terbatas pada kota atau kabupaten. Dalam hal ini perbankan syariah harus melakukan perluasan jaringan. Permodalan di bank syariah juga harus ditingkatkan agar perluasan jaringan dapat dilakukan. Sebagai catatan,Bank Syariah Indonesianantinya digadang memiliki total aset hingga Rp250 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun. Jumlah tersebut menempatkan bank hasil penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan top 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar. Kesadaran masyarakat menggunakan usaha keuangan syariah perlu dibangun, yang tentu saja ini harus diikuti dengan peningkatan kualitas layanan jasa keuangan syariah dan kemudahan akses keuangan bagi masyarakat luas. Apabila semua potensi ekonomi berbasis syariah yang telah ada saat ini terus dikembangkan, maka kita optimistis bangsa Indonesia akan menjadi pusat perkembangan keuangan syariah di tingkat dunia.

Bank Syariah Indonesia berpotensi menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi dengan perencanaan keuangan yang baik sesuai prinsip syariah dan optimalisasi peluang bisnis syariah pasca pandemi Covid-19. Peluang bisnis syariah di bidang makanan dan minuman, pakaian, kosmetik dan farmasi, serta pariwisata juga bisa dimaksimalkan di tengah mulai munculnya momentum pertumbuhan industri ekonomi syariah di Indonesia.

Keuangan syariah, termasukfintechsyariah, sendiri sudah mendapatkan momentumnya, yang gerakannya langsung dipimpin oleh Presiden melalui KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) guna membawa Indonesia menjadi kiblat ekonomi dan keuangan syariah dunia pada tahun 2024. Kehadiran Bank Syariah Indonesia adalah pertanda besarnya potensi perkembangan ekonomi nasional tahun ini didorong oleh industri syariah , dimana penerapan sistem ekonomi syariah juga menguntungkan bagi masyarakat non-Muslim. saat ini indeks literasi syariah nasional masih berada di angka 8,93 persen, jauh di bawah tingkat literasi masyarakat atas keuangan konvensional yakni 37,72 persen.

KehadiranBank Syariah Indonesia diharap bisa meningkatkan literasi keuangan syariah masyarakat ke depannya, dan membawa beragam produk serta layanan keuangan sesuai syariat Islam yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Terdapat beberapa fakta dan angka dapat dicatat yang memberikan harapan dari rencana merger ini. Selama 2020, BRI Syariah mengalami peningkatan pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74 persen menjadi Rp 20,5 triliun. Sedangkan BNI Syariah, yang baru saja menjadi Bank BUKU III pada kuartal I tahun ini, berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 58,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 214 miliar.BSM, membukukan laba bersih Rp 368 miliar pada kuartal I 2020, naik 51,53 persen dibandingkan periode sama tahun lalu . Statistik terbaru yang penulisupdatedari laman OJK menunjukkan, tiga bank yang akan dimerger, meminjam bahasa Ahmad Dani, merupakan separuh napas bank syariah Indonesia. Aset mereka sekitar 40 persen dari total aset seluruh bank syariah.

Keberhasilan strategi non organik pemerintah akan sangat memengaruhi peta industri perbankan syariah. Hal yang membesarkan hati, tiga bank ini memilikipositioningyang nantinya saling melengkapi. BSM memiliki fokus di segmen kredit korporasi, BRI Syariah pada penyaluran pembiayaan segmen UMKM, BNI Syariah, fokus keconsumer banking, menyasar milenial, daninternational fundingkarena induknya, yakni BNI, memiliki sejumlah cabang di luar negeri. Dengan merger, insya allah akan terjadi saling melengkapi kompetensi bank syariah BUMN.

Merger ini memberikan harapan bagi pertumbuhan perbankan syariah. Melihat data dan fakta di atas, dapat diperkirakan pertumbuhan dan keberhasilan strategi bisnis tiga bank BUMN syariah sangat berpengaruh pada potret industri perbankan syariah ke depan.

Belajar dari kesuksesan merger Bank Mandiri maka merger bank BUMN syariah memberikan banyak efek positif pada industri perbankan syariah yang memang sangat membutuhkan injeksi strategi merger ini. Rencana merger tiga bank BUMN syariah patut segera direalisasikan karena pascamerger diharapkan mereka menjadi akselerator pengembangan perbankan syariah.Bank syariah hasil merger memiliki visi menjadi satu dari 10 bank syariah terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar secara global, merger Bank Syariah BUMN yang melibatkan 3 bank syariah, BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah, dinilai akan membawa efek berganda ke industri keuangan syariah dan mempunyaimultiplier effect, misalnya saja asuransi syariah, dana pensiun syariah, dan produk halal ikut berkembang, proses penggabungan usaha ketiga bank syariah BUMN tersebut terus berjalan. Proses merger telah sampai pada tahap penandatanganan Akta Penggabungan, setelah masing-masing bank yang akan bergabung mendapat restu dari para pemegang saham melalui forum Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menuntaskan merger.

Bank hasil penggabungan yang bernamaBank Syariah Indonesia itu nantinya akan melakukan kegiatan usaha di 1.200 lebih kantor cabang dan unit eksisting yang sebelumnya dimiliki BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, serta BNI Syariah. Bank Syariah Indonesia akan berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek Indonesia dengantickercode BRIS. Komposisi pemegang saham pada Bank Syariah Indonesia adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., (BMRI) 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., (BNI) 25 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., (BBRI) 17,4 persen, DPLK BRI - Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen.

Struktur pemegang saham tersebut adalah berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank peserta penggabungan. Bank hasil penggabungan akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM di antaranya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan melalui produk dan layanan keuangan syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM baik secara langsung maupun sinergi dengan bank-bank Himbara dan pemerintah. Bank Syariah Indonesia telah merumuskan strategi khusus untuk mendukung UMKM Indonesia. Salah satunya berfokus pada pertumbuhan yang sehat di sektor UKM dan Mikro dengan memanfaatkan teknologi digital. bank hasil penggabungan siap untuk berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), serta organisasi kemasyarakatan lainnya untuk memajukan pelaku UMKM di Tanah Air. Dukungan bagi UMKM tidak akan kendor, karena merekalah tulang punggung perekonomian nasional. Bank Syariah Indonesia akan menjadi bagian ekosistem dan sinergi pemberdayaan pelaku usaha UMKM, mulai dari fase pemberdayaan hingga penyaluran KUR Syariah.

Untuk menjangkau pelaku UMKM hingga pelosok, Bank Syariah Indonesia akan bekerja sama dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan di seluruh Indonesia untuk mencapai proyeksi dana disalurkan untuk UMKM senilai Rp53,83 triliun. UMKM merupakan kelompok nasabah terbesar yang dilayani perusahaan. Oleh karena itu, porsi penyaluran pembiayaan dari BRI Syariah bagi UMKM sudah mencapai 46 persen persen dari total portofolio pembiayaan.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memutuskan melaksanakan merger PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT Bank BNI Syariah.nantinya akan berfokus untuk semua segmen nasabah, mulai dari UMKM, affluent middle-class, investor, wholesale, dan korporasi. sejarah penting di perbankan syariah Indonesia

Lebih dari dua dekade dikembangkan di Indonesia, pangsa pasar perbankan syariah dibandingkan perbankan konvensional, menurut statistik terbaru perbankan Indonesia yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masih di bawah 10 persen.Angka ini masih jauh dibandingkan Malaysia yang sudah sampai 20 persen. Padahal, Indonesia negara dengan jumlah penduduk mayoritas Muslim. Penggabungan bank umum syariah, yaitu BSM, Bank BNI Syariah, dan Bank BRI Syariah untuk menata kembali regulasi, mendorong pertumbuhan yang juga harus dipercepat dengan pertumbuhan non organik.

Proses merger bank syariah BUMN sudah dimulai. Hal ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian merger (Conditional Merger Agreement/CMA) oleh bankbank yang akan digabungkan, yaitu PT Bank BRISyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri (BSM), dan PT BNI Syariah pada 13 Oktober 2020. Tujuan utama dari merger ini adalah meningkatkan daya saing perbankan syariah di industri keuangan nasional. Alasan merger bank syariah BUMN, meski 87% total penduduk di Indonesia menganut agama Islam, tetapi market share perbankan syariah terjebak di kisaran 5-6% setelah 20 tahun bank syariah pertama berdiri di negara ini. Perkembangan ekonomi syariah Indonesia di dunia saat ini juga tertinggal dan berada di peringkat kelima dunia, berdasarkan data State of Global Islamic Economy 2020, menyusul Malaysia, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Saudi Arabia. Fakta tersebut mengindikasikan ada yang kurang tepat dan efisien di industri perbankan syariah selama ini. Karenanya, proses merger bank syariah BUMN harus disambut dengan sukacita. Masyarakat menjadi yang paling diuntungkan dari proses ini karena produk produk perbankan syariah yang ditawarkan ke depannya pasti akan menjadi lebih murah dan bersaing. Mengapa produk yang ditawarkan bisa lebih murah? Karena bank syariah BUMN yang baru akan mendapatkan sumber dana yang lebih murah dengan besarnya modal yang mereka miliki pascamerger. Kecilnya modal perbankan syariah selama ini dianggap menjadi salah satu sebab utama susahnya pelaku industri ini berkembang. Tapi masalah ini akan sirna, karena pascamerger bank syariah BUMN yang baru akan memiliki modal inti Rp 20,7 triliun. Jumlah ini muncul berdasarkan kalkulasi modal inti BSM sebesar Rp 10,2 triliun, BRI Syariah Rp 5,2 triliun, dan BNI Syariah Rp 5,3 triliun per Agustus 2020. Dengan modal inti sebesar itu, bank syariah BUMN akan masuk kelompook bank BUKU III yang bermodal inti Rp 5 triliun-30 triliun. Saat ini, hanya ada dua bank syariah yang berada di kelompok BUKU III, yaitu BSM dan BNI Syariah. Sementara penghuni kelompok BUKU IV yang bermodal inti lebih dari Rp 30 triliun adalah bank-bank konvensional. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan ke depannya bank syariah BUMN akan masuk kelompok BUKU IV. Tidak hanya dari segi modal inti, bank syariah BUMN nanti juga akan memiliki aset yang besar, mencapai Rp 214,75 triliun atau hampir separuh dari total aset perbankan syariah di Indonesia. Dengan jumlah aset tersebut, bank syariah BUMN akan menjadi bank dengan aset terbesar ke-7 di Indonesia mengikuti BRI, Bank Mandiri, BCA, BNI, BTN, dan Bank CIMB Niaga.

Terdapat beberapa fakta dan angka dapat dicatat yang memberikan harapan dari rencana merger ini. Selama 2020, BRI Syariah mengalami peningkatan pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74 persen menjadi Rp 20,5 triliun. Sedangkan BNI Syariah, yang baru saja menjadi Bank BUKU III pada kuartal I tahun ini, berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 58,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 214 miliar.BSM, membukukan laba bersih Rp 368 miliar pada kuartal I 2020, naik 51,53 persen dibandingkan periode sama tahun lalu . Statistik terbaru yang penulisupdatedari laman OJK menunjukkan, tiga bank yang akan dimerger, meminjam bahasa Ahmad Dani, merupakan separuh napas Bank Syariah Indonesia. Aset mereka sekitar 40 persen dari total aset seluruh bank syariah.

Tujuan utama penggabungan usaha ini adalah meningkatkan daya saing dan market share. Karena itu, bank syariah BUMN yang baru ini akan dan harus menargetkan konsumen bank konvensional, dan/atau yang paling baik adalah unbanked people demi meningkatkan market share-nya. Selain itu, riset menunjukkan bahwa nasabah eksisting bank syariah yang Muslim religius bukanlah swing customers. Mereka tidak mudah terpengaruh untuk berpindah ke bank lain (bank syariah atau konvensional) hanya jika bank lain tersebut menawarkan rates yang lebih tinggi. Dengan besarnya modal inti dan aset, apalagi ditargetkan jika bank syariah BUMN ini bisa naik ke BUKU IV, maka bank ini bisa mendapat sumber dana lebih murah. Sumber dana murah mampu membuat bank syariah BUMN menyalurkan pembiayaan dengan murah dengan target utama adalah UMKM. Belajar dari pengalaman Bank Mandiri yang lahir dari merger pada 1999 silam karena terkait dampak krisis keuangan hebat di tahun 1998, penggabungan bank syariah kali ini tidak berdasarkan sense of crisis. Seberapa pun hebatnya krisis keuangan dan kesehatan akibat pandemi Covid-19 kali ini, tetapi keparahannya belum separah kondisi 1998. Karena itu, merger bank syariah BUMN bisa belajar banyak dari keberhasilan merger empat bank pemerintah pada 1999. Merger saat itu mendukung riset bahwa perusahaan-perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi (M&A) selama krisis memiliki kinerja yang melebihi perusahaan yang tidak melakukan M&A. Strategi Pasca Merger penguatan literasi, edukasi, dan inklusi demi menjangkau unbanked people. Dengan edukasi yang masif, literasi keuangan akan meningkat sehingga dalam jangka panjang turut menumbuhkan inklusi. Per 2019, literasi keuangan Indonesia hanya 38,03%, naik 8,3% dari 2016. Sementara inklusi keuangan di saat yang sama adalah 76,19 %, naik 8,3 % dari 2016. Kenaikan literasi keuangan yang diikuti inklusi keuangan secara nasional tidak terjadi di industri perbankan syariah. Literasi keuangan syariah Indonesia hanya 8,93% di tahun 2019, naik sedikit dari posisi 2016 sebesar 8,1%. Sementara itu, inklusi keuangan syariah justru turun dari 11,1% pada 2016 menjadi 9,1% pada 2019. Target utama literasi ke depannya harus fokus menyasar ibu rumah tangga dan pemuka agama. Saat ini pengembangan ekonomi dari pesantren sedang mulai gencar dilakukan. Hal ini merupakan langkah yang baik untuk menjangkau para pemuka agama di pesantren-pesantren, sehingga mampu membagikan ilmu-ilmunya kepada muridnya agar memakai produk bank syariah berupa layanan digitalisasi model bisnis dan digitalisasi layanan. Dengan melakukan digitalisasi di model bisnis dan layanan, maka customer experience akan meningkat sehingga bisa menarik nasabah baru. Untuk digitalisasi layanan, bank syariah BUMN yang baru nanti bisa mengambil contoh produk digital beberapa bank yang menyediakan layanan pembukaan rekening dan membuka/menutup deposito dengan mudah, cepat, dan gratis; atau transfer uang tanpa biaya. Sedangkan digitalisasi model bisnis bisa dilakukan bank hasil merger dengan turut menggandeng pelaku teknologi finansial (tekfin) agar mereka bisa menjadi kawan untuk pengembangan usaha. Indonesia menjadi pusat keuangan syariah di Asia bukanlah sekadar angan-angan dan bisa menjadi harapan kita bersama jika proses pre-merger dan post-merger BUMN syariah ini berjalan dengan baik.

Karena itu, diperlukan pemimpin tangguh yang menjadi perekat dan pelaksana sekaligus ujung tombak keberhasilan merger ini. Bank BUMN syariah semakin fokus dan menjadi teladan bagi bank syariah lainnya dalam segala aspek termasuk proses bisnis lebih efektif dan efisien, memiliki pertumbuhan jaringan lebih agresif, dan inovasi produk lebih baik.

Efek merger terbesar adalah aspek skala ekonomis yang akan memberikan dampak luar biasa bagi industri perbankan syariah. Maka, aspek kepemimpinan dan sinergitas perlu menjadi perhatian khusus.Sinergi akan meningkatkan kinerja dan menurunkan biaya. Sinergi penurunan biaya, biasanya diperoleh dari penghematan dan skala ekonomis internal. Sinergi diraih di antaranya dari efisiensi dengan mengurangi cabang bank tumpang tindih dan efisiensi SDM. Dengan merger bank BUMN syariah, publik tentu berharap ada sinergi dari alih teknologi, pengetahuan, dan pemasaran yang pada akhirnya mengakselerasi pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia.

ekonomi keuangan syariah dibutuhkan untuk memperkuat struktur ekonomi dan pasar keuangan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini dilandaskan pada potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang sangat menjanjikan.

Prospek dan tatanan perkembangan keuangan syariah menunjukkan trend positif dan relatif stabil, namun dibalik perkembangan tersebut ada kekhawatiran bahwa perkembangan keuangan syariah merupakan rangkaian dari eforia reformasi dan dapat memicu adanya immature booming, jika semua itu tanpa didasari kerangka kelembagaan dan pengaturan yang memadai dari aspek best practices. Maka dalam rangka membangun industri keuangan syariah masa depan yang tangguh diperlukan penyempurnaan perangkat ketentuan hukum, mekanisme pembukaan jaringan dan upaya penyebarluasan informasi.

Masterplan AKSI fokus untuk menjadikan keuangan syariah sebagai kekuatan nyata bagi Indonesia dengan memanfaatkan dinamika ekonomi untuk mencapai tujuan pembanguna yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 2019 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 2025.

Harapan bangsa ini menuju Indonesia Islamic Finance Center of The World tidak muluk muluk, perlu keseriusan pemerintah , institusi dan lembaga terkait lainnya untuk terus semangat bersama sama memasyarakatkan dan membumikan ekonomi syariah, kita harus yakin bahwa Indonesia siap akan hal ini mengingat peluang jasa keuangan dan ekonomi berbasis syariah (keuangan syariah) terbuka lebar, dengan adanya bonus demografi, dimana kelas menengah tumbuh berkembang dengan pesat. Kebutuhan kelas menengah untuk menabung dan berinvestasi serta terhadap layanan jasa keuangan yang beragam, baik di lembaga perbankan syariah maupun lembaga keuangan non-bank syariah seperti asuransi syariah, dana pensiun syariah, obligasi syariah, perusahaan pembiayaan syariah, reksadana syariah dan lainnya diperkirakan juga akan meningkat.

Menurut Bank Dunia pada Juni tahun 2011, kelas menengah di Indonesia tumbuh dengan sangat cepat, yaitu 7 juta orang setiap tahun. Pada tahun 1999, kelas menengah ini tumbuh secara signifikan, yaitu 45 orang juta atau 25% dari jumlah penduduk Indonesia. Kemudian pada tahun 2010 menjadi 134 juta orang, dan pada 2015 kelas menengah Indonesia mencapai 170 juta atau 70% dari total jumlah penduduk Indonesia. Kelas menengah yang merupakan kelompok penduduk yang memiliki kekuatan expenditure per hari antara 2 20 dollar AS ini berpotensi menjadi sumber pembiayaan pembangunan melalui pasar keuangan seiring peningkatan pendapatan kelas menengah tersebut.

Bank Dunia juga menyebutkan, pada tahun 2014 tercatat hanya 36,1% dari orang dewasa di Indonesia yang memiliki account di lembaga keuangan formal. Dengan demikian sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum mempunyai akses pada layanan jasa keuangan formal, sehingga peluang tumbuhnya keuangan berbasis syariah masih sangat terbuka luas.

saat ini jumlah institusi keuangan syariah di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia, Indonesia telah memiliki 34 bank syariah, 58 takaful atau asuransi syariah, 7 modal ventura syariah, rumah gadai syariah, dan lebih dari 5.000 lembaga keuangan mikro syariah. Semua institusi keuangan itu memiliki 23 juta pelanggan, suatu jumlah yang besar. Tetapi masih banyak sekali peluang yang masih bisa kita manfaatkan, karena pasarnya sangat besar untuk dimanfaatkan.

//retizencompetition

Penulis

Sunarji Harahap, M.M.

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Sumatera Utara / Pengurus MES Sumut / Pengurus IAEI Sumut

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Image

Langkah Mempercepat Vaksinasi Covid-19 di Indonesia

Image

Covid-19: Antara Pemilu, Nikah, Mudik 2021

Image

[Breaking News] Ustadz Tengku Zulkarnain Wafat

Image

Salman Aristo: Apa yang Kau Cari, Produser?

Image

Antusiasme Warga Sumedang Sambut Lebaran 2021 di Tengah Pandemi Covid-19

Image

Ramadhan Tinggal Menghitung Hari, Mari Raih Kemenangan Hakiki

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@rol.republika.co.id (Marketing)

Ikuti

Image
Image
Image
× Image