
Syariah Vs Konvensional: Siapa yang Lebih Siap Menghadapi Krisis?
Bisnis | 2025-03-24 19:18:56
Dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang semakin meningkat, satu pertanyaan besar yang sering muncul adalah: apakah sistem keuangan syariah atau konvensional yang lebih siap mengatasi krisis? Sementara dunia finansial global terus mengalami gejolak, dari resesi hingga krisis utang, sistem keuangan syariah menawarkan pendekatan yang lebih stabil dan berbasis nilai. Namun, sejauh mana keduanya dapat bertahan dalam menghadapi situasi krisis masih menjadi perdebatan hangat.
Keuangan Konvensional: Rentan terhadap Krisis
Keuangan konvensional berbasis pada bunga atau interest, yang menjadi salah satu pilar utama dalam transaksi dan investasi. Meskipun sistem ini telah terbukti mendominasi pasar global, kelebihannya dalam hal likuiditas dan inovasi produk keuangan sering kali diimbangi dengan kelemahan yang sangat signifikan: ketergantungan pada spekulasi dan risiko tinggi. Hal ini terlihat jelas selama krisis keuangan global 2008, di mana krisis likuiditas, utang yang tidak terkendali, serta ketergantungan pada instrumen derivatif yang berisiko tinggi membuat sistem keuangan konvensional goyah.
Krisis semacam ini sering kali disebabkan oleh ketidakseimbangan antara realitas ekonomi dengan penciptaan uang secara tidak terkendali, yang didorong oleh suku bunga rendah dan praktik pinjaman berlebihan. Dalam konteks ini, sistem konvensional yang tidak memperhitungkan faktor keberlanjutan jangka panjang cenderung lebih rentan terhadap guncangan pasar.
Keuangan Syariah: Pendekatan yang Lebih Stabil
Sebaliknya, sistem keuangan syariah menawarkan alternatif yang berbeda dengan menekankan prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan pembagian risiko yang seimbang. Salah satu karakteristik utama dari keuangan syariah adalah larangan terhadap riba (bunga), spekulasi berlebihan (gharar), dan investasi dalam sektor yang tidak sesuai dengan prinsip syariah, seperti perjudian dan alkohol. Dengan demikian, sistem ini lebih mengutamakan investasi dalam sektor-sektor yang mendukung perekonomian riil dan kegiatan yang lebih produktif.
Selain itu, prinsip mudarabah (bagi hasil) dan musyarakah (kemitraan) dalam transaksi keuangan syariah menuntut adanya pembagian risiko yang adil antara pemberi modal dan pengusaha. Konsep ini membantu mencegah spekulasi dan meminimalkan potensi kerugian yang tidak terkendali dalam kondisi pasar yang volatile.
Selama krisis keuangan global, bank-bank syariah cenderung lebih terlindungi karena mereka tidak terlibat dalam praktik-praktik spekulatif yang ada dalam sistem keuangan konvensional. Beberapa studi menunjukkan bahwa lembaga keuangan syariah cenderung lebih stabil dan memiliki likuiditas yang lebih baik saat terjadi krisis.
Kesiapan dalam Menghadapi Krisis
Jika kita berbicara tentang kesiapan menghadapi krisis, keuangan syariah menunjukkan keunggulannya dalam dua hal utama: stabilitas jangka panjang dan ketahanan terhadap krisis finansial global. Dengan menghindari instrumen keuangan yang berisiko tinggi dan spekulatif, sistem syariah dapat mengurangi dampak dari gejolak pasar yang sering terjadi dalam ekonomi global.
Namun, bukan berarti sistem keuangan syariah tanpa tantangan. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah integrasi yang lebih luas dalam pasar global, di mana produk-produk keuangan syariah masih terbatas dalam cakupan dan keberagaman. Di sisi lain, meskipun bank syariah lebih stabil, mereka perlu terus berinovasi dalam mengembangkan produk dan layanan yang dapat bersaing dengan produk konvensional yang sudah mapan.
Jelas bahwa kedua sistem keuangan syariah dan konvensional memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing dalam menghadapi krisis. Sistem keuangan syariah menawarkan model yang lebih berkelanjutan dan stabil dalam jangka panjang, terutama dalam menghadapi krisis finansial. Namun, keberhasilan keuangan syariah tidak hanya bergantung pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam sistemnya, tetapi juga pada adopsi teknologi dan inovasi yang mampu mengimbangi sistem konvensional.
Meskipun keuangan syariah mungkin lebih siap untuk menghadapi krisis, kedua sistem perlu beradaptasi dan berkembang agar dapat menciptakan ekonomi yang lebih stabil dan inklusif, terutama di tengah ketidakpastian global saat ini.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
Komentar
Gunakan Google Gunakan Facebook