Puasa, Perjuangan Manusia Menemukan Bahagia (I)

Image
saman saefudin
Agama | Wednesday, 30 Mar 2022, 10:47 WIB
Sumber gambar: https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/karyawan-berdiri-di-samping-sepatu-dan-sandal-di-salah_200518154340-925.jpg

Seorang emak muda masuk ke minimarket untuk membeli minyak goreng kemasan yang telah berganti harga. Suami dan anaknya diminta menunggu di parkiran, sebentar katanya. Namun baru keluar minimarket setelah nyaris setengah jam suami dan anaknya menunggu. Belum sempat bertanya kenapa lama, matanya terbelalak menyaksikan sigaran hatinya keluar dengan menenteng satu kantong kresek putih berukuran besar. “Katanya cuma beli minyak goreng, kok segala dibeli?,” protes sang suami sambil melempar senyum yang dipaksakan.

“Ya kebutuhan dapur kan banyak, lagian ini sekalian untuk stok”. Begitu jawaban sang istri yang tak mampu dibantah suaminya. Yang dibutuhkan sebetulnya hanya minyak goreng, tetapi yang diingini dan diangani mungkin jauh lebih banyak. Mungkin karena ini pula, muncul konsep diskon 50% + 20% dan sejenisnya.

Di plot kisah lainnya, hiduplah seorang laki-laki muda yang memiliki istri amat cantik, anggun, dan bersahaja. Paket kumplit mungkin. Tetapi saat sendiri di jalanan, matanya mungkin tetap saja melirik setiap perempuan yang tertangkap sudut matanya. Padahal, istrinya sendiri sudah cantik, dipuji kawan dan lawan, sebagian malah iri, namun tetap saja itu tak cukup mampu menghentikan keinginan dan angan-angannya.

Sekarang kita bergeser ke sosok pejabat publik atau mungkin politisi. Kita tahu kekayaannya sudah melimpah, asetnya mungkin puluhan miliar. Tetapi di hari berikutnya kita kaget saat pejabat ini tertangkap tangan KPK karena menerima gratifikasi yang mungkin hanya seratusan juta. Kekayaannya yang puluhan miliar ternyata tak serta merta membuatnya tahan godaan uang yang hanya seratus juta.

Tiga kasus di atas mungkin sulit diperbandingkan. Tetapi ada benang merah yang sama berkaitan dengan tabiat manusia, yakni keribetannya mengendalikan keinginan dan angan-angan, hawa nafsunya, personal desire -nya. Dalam bahasa yang lebih lugas, bolehkan disimpulkan bahwa kita, manusia ini, memiliki potensi tabiat tamak atau rakus. Keinginannya seringkali tak terbendung, unstoppable. Dan ketidakmampuan manusia mengontrol keinginannya yang liar berpotensi menjatuhkannya pada penderitaan. Seperti sebuah ungkapan yang lazim kita dengar, keinginan adalah sumber penderitaan. Atau sebuah ungkapan sejenis lainnya; Expectation will kill you.

Betapa tidak sedikit contoh penderitaan anak manusia sebagai akibat ketidakmampuannya mengontrol nafsu dan keinginannya. Atau dengan kata lain, ialah manusia yang justru dikendalikan oleh keinginannya. Sejarah juga mencatat bagaimana wajah keserakahan manusia pada akhirnya menjatuhkannya pada jurang penderitaan.

Bukankah penjarahan kekayaan nusantara dan bangsa-bangsa lainnya oleh negara-negara Eropa sejak tahun 1.500 an juga dipicu oleh keserakahan. Konon, pada mulanya negara-negara seperti Inggris, Spanyol, Portugal, dan Belanda hanya ingin melakukan penjelajahan laut menyusul ditemukannya teknologi nafigasi, sehingga kekuatan laut bergeser dari Mediterania ke Atlantik. Di sisi lain, jatuhnya Konstatinopel ke tangan Turki Utsmani pada 1453 membuat harga komoditas rempah-rempah yang digemari masyarakat Eropa melambung tinggi. Maka dimulailah penjelajahan Eropa ke Hindia untuk mendapatkan rempah-rempah murah.

Sayangnya, karena keserakahan, motivasi penjelahan ini pada akhirnya berubah, menjelma menjadi nafsu untuk menguasai ekonomi dan kejayaan politik. Maka Nusantara pun menjadi obyek eksploitasi selama ratusan tahun, dan diperebutkan bangsa-bangsa Eropa.

Jauh sebelum itu, sejarah manusia juga tak pernah lepas dari nafsu dan keserakahan. Perang dan perebutan wilayah antar suku, perbudakan, penjarahan kekayaan, dan lainnya. Dan jauh sebelum itu, episode keserakahan manusia telah tercatat pada generasi kedua manusia, yakni saat Qabil membunuh Habil, sebagaimana diabadikan dalam kisah di Alquran. Dan ikhwal ketamakan yang melekat dalam tabiat manusia ini juga sejatinya tergambar dari drama terusirnya Adam dan Hawa dari surga hingga akhirnya menempati planet bumi, sebagaimana dikisahkan dalam QS. Albaqarah: 35-36;

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".

Allah telah memberikan kenikmatan terbaik bagi Adam dan istrinya untuk menghuni surga, menikmati jutaan makanan, minuman, dan fasilitas terbaik. Hanya satu yang dilarang, yakni mendekati sebuah pohon. Tapi apa yang terjadi, satu-satunya pantangan ini nyatanya mengalahkan jutaan kenikmatan yang diperoleh Adam dan Hawa, mereka tetap saja mendekati pohon terlarang. Hasilnya, mereka diusir dari tlatah kebahagiaan (surga) kepada penderitaan (bumi). Jadi, sejak awal manusia memang telah menunjukkan tabiat yang susah terpuaskan keinginannya. Karakter ini pula yang digambarkan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadits;

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nafsu manusia menjadi semisal labirin, lubangnya tak berujung. Ibarat meneguk air laut, hausnya semakin akut. Maka ia perlu dididik agar tak liar, agar terkendali, agar manusia menemukan kebahagiaan. Dan salah satu metode paling klasik untuk mendidik hasrat dan nafsu manusia adalah dengan berpuasa. Ya, ibadah puasa adalah sebuah cerminan lain dari episode panjang manusia “berperang” menkalukkan hasrat liarnya. Ritual puasa mengajarkan sebuah pesan penting, bahwa yang dibutuhkan manusia untuk bahagia sebetulnya tak banyak, tetapi keinginannya lah yang terlalu banyak. Nafsulah yang terus merongrong, sehingga manusia tak mungkin pernah ada puasnya. Adakah kebahagiaan bagi manusia yang dirongrong oleh keinginan-keinginannya? (bersambung) []

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Seorang pembelajar, saat ini menjadi redaktur di sebuah media lokal di Kota Pekalongan

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

APBN 2022 Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional

Image

OPTIMALISASI TUMBUH KEMBANG ANAK MELALUI PEMBENTUKAN KADER SMART CEGAH STUNTING DI DESA MANGGIHAN

Image

SMPN 1 Padalarang Salurkan Tanda Kasih Kepada Korban Gempa Cianjur

Image

Sejarah Penamaan Pada Hari Jumat dan Anjuran Salat Wajib bagi Laki-laki Muslim

Image

ANGGARAN PENDIDIKAN DI INDONESIA YANG BELUM BISA DI KATAKAN TEPAT SASARAN

Image

Manfaat Memasak Bersama Anak

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image