Pelajaran untuk kaum ibu

Image
Adeummunasywah Adeummunasywah
Eduaksi | Tuesday, 29 Mar 2022, 12:56 WIB

Pelajaran untuk Kaum Ibu

Oleh Atik Setyawati

Diberitakan oleh detik.news.com bahwa seorang ibu bernama Kunti Utami (35) di Brebes, Jawa Tengah (Jateng), diperkirakan telah membunuh dengan menggorok tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Seorang anaknya tewas akibat luka sayatan di lehernya sedangkan dua anak lainnya dibawa ke rumah sakit terdekat.

Diinfokan alasan si ibu membunuh anak-anaknya karena ibu tidak ingin melihat anaknya hidup menderita seperti dirinya. Ibu merasa kurang perhatian suami. Suami kerja di luar kota, sementara ia sendiri merawat ketiga anaknya. Merasa tertekan dengan sekelilingnya. Merasa tak bahagia. Akhirnya, mengambil jalan yang tidak tepat bahkan sangat berbahaya. Membunuh anaknya. Pelarian terhadap rasa tertekan yang ia rasakan. Ini adalah satu bukti bahwa kewarasan seorang ibu harus sangat diperhatikan.

Miris, marah, prihatin, campur aduk membaca berita ini. Ini viral di media sosial, dari yang menghujat si ibu, suami, ataupun ungkapan keprihatinan.

Kasus ibu membunuh anaknya ini berulang untuk kesekian kalinya. Di tengah himpitan masalah perekonomian keluarga, ibu menjadi terganggu kewarasannya. Akibatnya, tega melukai anak yang dicintainya bahkan tak sedikit yang kemudian mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Na'udzubillahi min dzalik.

Permasalahan ini tak cukup dengan perbaikan kejiwaan individu ibu, si pelaku saja. Memang benar, ini terjadi karena begitu menderitanya si Ibu yang merasa kurang perhatian suami dan lingkungannya. Tetapi, permasalahan ini tidak cukup dengan memberikan solusi individu semata.

Diperlukan upaya yang sistematis dari negara untuk menjaga kewarasan kaum ibu. Ibu harus dipastikan berbahagia ketika menjalani perannya. Permasalahan ini jelas-jelas memberikan dorongan pada negara untuk menghapus semua faktor secara sistemik. Ada upaya konkret untuk menjaga kewarasan para ibu. Bagaimana ibu tidak stres menghadapi banyaknya permasalahan yang menimpanya. Alih-alih hidup bahagia, tidak stress alias waras saja itu sudah luar biasa. Inilah betapa hidup dalam alam kapitalisme menjadikan kesusahan, kepayahan, dan kesedihan terjadi di mana-mana. Ya, buah dari dijauhkannya nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ini harus diurai satu persatu.

Masalah keimanan dan ketaatan individu yang harus senantiasa ditumbuhsuburkan. Ada upaya kontrol sosial di masyarakat terhadap keimanan dan kewarasan kaum ibu. Tetangga memperhatikan bagaimana keadaan tetangganya, saling bantu yang digalakkan. Kemudian, negara sebagai penjamin terjadinya kontrol sosial ini senantiasa memfasilitasi pendidikan kaum ibu dalam mengurus kerumahtanggaan dan pendidikan anak.

Kaum ibu diberi pendidikan secara hikmah tentang mengurusi keluarga. Berkeluarga adalah beribadah yang paling lama. Separuh agama ada dalam kehidupan rumah tangga. Bagaimana seorang suami mengerti dengan hak dan kewajibannya. Demikian pula halnya dengan para istri. Masing-masing menyadari pentingnya melaksanakan setiap kewajiban dalam menjalankan perannya. Sementara itu, orang tua menyadari sepenuhnya akan kewajiban mengasuh dan mendidik anak hingga mereka balig. Tentunya edukasi ini di sampaikan secara baik oleh para penyeru kebaikan. Perkataan yang ahsan atau yang baik agar mudah dipahami. Andaipun berdebat semata-mata dilakukan dalam rangka mendapatkan solusi yang tepat. Dakwah yang disampaikan mengikuti cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Firman Allah Swt berfirman dalam Al-Quran Surat An Nahl ayat 125 yang artinya:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."

Pengajaran yang baik yang ditumbuhsuburkan dalam kehidupan bermasyarakat. Semua difasilitasi oleh negara. Ada sinergi yang kokoh untuk menopang kewarasan ibu. Ini semata-mata untuk menjadikan keluarga yang sehat. Dengan harapan, keluarga yang sehat dapat menjadikan generasi yang sehat, kuat, beriman dan berkepribadian yang tangguh.

Negara menjamin terpenuhinya kebutuhan asasi masyarakatnya. Kebutuhan akan makanan, pendidikan, kesehatan dan jaminan keamanan. Negara yang selalu mengayomi rakyatnya. Negara senantiasa memikirkan dan melaksanakan segala upaya untuk keberlangsungan negaranya di masa yang akan datang. Wallahua'lam bishshowab

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Waspadalah terhadap yang Fana

Hari Guru 2021: Islam Memuliakan Guru

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Kebijakan Keimigrasian Terbaru Bantu Industri Pariwisata dan Film Internasional

Image

Sosialisasi Peran Perangkat Daerah dalam Melakukan Pengawasan Orang Asing

Image

Percepatan Pemanfaatan Data Sistem Penanganan Perkara Terpadu Berbasis Teknologi Informasi (SPPT-TI)

Image

Meriah! Sebanyak 3.000 Peserta Akan Menghadiri Muktamar XIV Nasyiatul Aisyiyah

Image

Pimpinan Tinggi Pratama Kemenkumham Jateng Paparkan Hasil Rapat Koordinasi

Image

Kepala Rutan Temanggung Ikuti arahan Menkumham lewat Kakanwil Kemenkumham Jateng

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image