Crazy Rich, Flexing dan Sikap Dermawan Abdurahman bin Auf

Image
Deffy Ruspiyandy
Agama | Thursday, 24 Mar 2022, 10:54 WIB

Menjadi orang kaya yang berlimpah harta dalam tatanan Islam tak pernah dilarang oleh agama, asalkan didapat dengan cara yang halal dan dimanfaatkan untuk kepentingan ibadah yang bermanfaat bagi dirinya dan juga orang lain. Dalam Islam banyak ibadah yang harus menggunakan harta seperti haji, qurban,zakat, infaq, sedekah dan wakaf dan tak kalah penting hal itu mesti dilakukan untuk membantu sesame, mengembangkan kemajuan Islam serta ibadah tersebt haruslah mendekatkan diri kepada Allah.

Harta kekayaan yang baik akan membawa pemiliknya semakin dekat dengan Allah.(Foto : Republika.co.id/PIXABAY)

Hari-hari ini kita disuguhkan dengan fenomena yang cukup menguras perhatian yaitu bermunculannya Crazy Rich dan juga Flexing. Apapun sebutannya bagi orang kaya itu sah-sah saja tetapi Islam menyebutnya Aghnia yang berarti kaya. Namun demikian, semua pun harus menyadari jika harta adalah sebuah ujian yang sesungguhnya berat dan yang mendapatkannya dimintai pertanggung jawabannya, dari mana ia dapatkan dan ke mana ia menggunakannya bahkan yang memiliki banyak harta ternyata akan dihisab lebih lama dari orang miskin yaitu 500 tahun jaraknya.

"Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan pasti kamu akan mendengar banyak hal yang sangat menyakitkan hati dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (patut) diutamakan.” (Q.S. Ali 'Imran: 186).

Dalam hadits shahih Bukhari, Nabi SAW berkata, "Wahai orang-orang fakir, apakah aku tidak memberi kabar gembira kepadamu, sesungguhnya orang Muslim yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang Muslim atau mukmin yang fakir akan masuk surga, sebelum orang-orang mukmin yang kaya dengan jarak setengah hari akhirat, yang itu setara dengan 500 tahun.”

Sehingga semakin nyata jika menjadi orang kaya adalah hak setiap orang. Namun demikian jelas dari apa yang diraihnya tentu ada konsekuensinya yang akan didapatkannya. Dengan begitu menjadi orang kaya adalah sah-sah saja tetapi syarat dan ketentuan berlaku yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kalau begitu jangan takut untuk menjadi orang kaya asalkan semuanya berada dalam koridor aturan yang sesuai syariat. Didapatkan dengan cara yang halal, tidak tercampur oleh harta yang haram, senantiasa dari hart aitu selalu dimanfaatkan untuk hal-hal yang terkait ibadah dan bermanfaat bagi orang banyak, dan saat berbagi pun tujuannya hanya untuk mendapatkan pahala dan keridhoan dari allah SWT.

Jadi sangat tidak penting ketika diberi anugerah banyak harta lalu dipamer-pamerkan kepada orang banyak baik melalui media social atau secara langsung. Apa yang dilakukan itu justeru akan menyakitkan bagi orang-orang miskin yang melihatnya Jangankan untuk pamer harta, untuk bersedekah pun ada istilah tangan kanan memberi maka tangan kiri tak perlu mengetahuinya. Bahkan untuk bersedekah pun kita sangat dilarang melakukannya tapi malah menyakiti orang yang menerimanya.

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Maha Kaya, Maha Penyantun. (QS Al-Baqarah: 263).

Dalam sejarah Islam kita mengenal sahabat Nabi yang bernama Abdurrahman bin Auf. Bukan saja karena ksalehan dan ketaatannya kepada Allah namun dia diberi kepercayaan menjadi orang kaya yang banyak hartanya dan memilikisikap dermawan yang luar biasa. Karenanya jika ada kesempatan ia berinfaq atau bersedkah untuk perjuangan Islam maka dirinya selalu menjadi yang terdepan di dalam mengorbankan hartaneya.

Abdurahman bin Auf adalah satu diantara sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau kendati orang kaya tetapi memiliki sikap yang tawadlu dan berpenampilan sederhana. Dia selalu menjadi hartanya sebagai alat ia untuk selalu dicintai Allah dan menggunakannya untuk setiap perjuangan Islam dalam bentuk apapun. Dia dikenal sebagai pedagang yang llihai dan juga jujur serta amanah. Tak mengherankan jika hartanya berkah dan jual belinya tak pernah rugi karena system yang dilakukannya selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah serta selalu menjauhis egala larangannya.

Saat Rasulullah memerintahkan perjalanan untuk perang Tabuk, Abdurrahman berdiri terdepan menyumbangkan harta. Saat itu dia memiliki empat ribu dinar: dua ribu dinar diberikan untuk jihad, dan sisanya disimpan untuk keluarga. Abdur rahman kemudian menyumbangkan ratusan keping emas. Ketika itu Umar bin al-Khattab berkata kepada Nabi, "Saya telah melihat Abdurrahman melakukan kesalahan, dia tidak meninggalkan apapun untuk keluarganya."

Apakah Anda telah meninggalkan sesuatu untuk keluarga Anda, Abdurrahman?" tanya Nabi. "Ya," jawab Abdurrahman. "Saya telah meninggalkan lebih dari apa yang saya berikan dan lebih baik." "Berapa banyak?" tanya Nabi. "Apa yang Tuhan dan Rasul-Nya telah berjanji untuk mendapatkan rezeki, kebaikan dan penghargaan," jawab Abdurrahman.

Dukungan Abdurrahman untuk kaum Muslimin dan istri Nabi khususnya sangat terkenal. Pernah satu kali dia menjual sebidang tanah untuk empat puluh ribu dinar dan dia membagikan seluruhya untuk Bani Zahrah (kerabat ibu Nabi Aminah), orang miskin di kalangan umat Islam dan istri Nabi.

Kemurahan hati Abdurrahman tidak berhenti sampai di situ. Empat puluh ribu dirham, empat puluh ribu dinar, dan lima ratus kuda diberikan kepada mujahidin.Selain itu, seribu lima ratus unta diberikan kepada kelompok mujahidin lainnya. Empat ratus Dinar emas diberikan untuk korban perang Badar. Semua itu disedekahkannya untuk kemaslahatan dan kemuliaan umat Islam. (https://www.republika.co.id).

Dia menyebut Mus’ab bin Umair dan Hamzah bin Abdul Muthalib lebih baik dari dirinya karena mereka berdua meninggal tanpa meninggalkan apapun.

"Sesungguhya aku takut bila aku menjadi orang yang dipercepat kebaikannya di kehidupan dunia. Aku takut ditahan dari sahabat-sahabatku karena banyaknya hartaku," kata Abdurrahman bin Auf.

Dengan demikian, maka sesungguhnya harta itu itu bukan sesuatu yang hina dan sangat wajar untuk dapat ita miliki. Menjadi orang kaya sekalipun bukanlah hal yang tabu demi kehidupan di atas dunia. Akantetapi semua itu tetap harus berpedoman pada agama, haruslah halal cara mendapatkannya, digunakan tidak berlebihan namun lebih diutamakan untuk kegiatan ibadah dengan mampu memberikan kebaikan bagi orang banyak, memperjuangkan agama islam serta hal itu harus semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.Sehingga har akita akan semakin berkah.***

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Artikel Lainnya

Image

Belajar Nilai Kehidupan di Kampung Edukasi Watu Lumbung

Image

Mengunjungi Cimory Ungaran di Semarang Bersama Sewa Hiace Samarinda

Image

Dewi Tembi : Serunya Liburan Di Desa Wisata Terbaik Se-Asia

Image

Yanti Afriwan Lestarikan Musik Melayu Lewat Rilis Lagu Tidakkah Kau Rindu Padaku

Image

PPSDM Migas Kuatkan Pengetahuan tentang Assessment Quantity Accounting SKK Migas Perwakilan KalSel

Image

PPSDM Migas Latih Petugas HSE Seismik Menjadi Tenaga Kerja Berkompeten

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image