Eksistensi Jin Perspektif Fakhruddin al-Razy dan Ibn 'Arabi
Agama | 2026-11-06 16:24:07Nama Penulis & Institusi : Atssania Zahroh & Siti Nurul Adha (Universitas PTIQ Jakarta), Hasani Ahmad Said (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Aristophan Firdaus (UIN Raden Fatah Palembang)
Publikasi : Jurnal Studi Agama
Volume, Nomor, Tahun Terbit : Vol. 7, No. 1, 2023
Jumlah Halaman & URL : 12 Halaman, https://shorturl.at/MaVei
Peresensi & Tanggal Review : M. Ikhsan Hafidz (Mahasiswa Prodi IAT UIN Syarif Hidayatullah), 6 September 2026
Pembahasan menegenai makhluk ghaib terkhusus tentang jin masih sering dipahami sebagai mistis atau secara teks pembahasan semata seperti pemanggilan arwah atau hal yang berkenaan dengan sihir. Lalu muncul kebutuhan untuk memperbaiki pola pikir dalam memahami hal ini melalui pendekatan komparatif antara corak falsafi dan corak isyari (Sufistik) agar melahirkan cara pandang yang kompherehensif, baik secara lahiriyah maupun Bathiniyah.
Adapun tujuan penelitian ini dibahas untuk membandingkan pemikiran Fakhruddin al-Razy (Tafsir Mafatih Al-Ghaib) dengan Ibn ‘Arabi (Tafsir Ibn ‘Arabi) untuk mengetahui perbedaan serta persamaan dalam menemukan titik temu pandangan filsafat dan tasawuf ini terkait eksistensi jin dalam Al-Qur’an yang terdapat dalam Q.S Ar-Rahman [55]: 15 dan Q.S Al-Jin [72]:8-9. Yang dimana membahas perkara asal usul jin dan juga perkara jin yang punya kuasa untuk mendengar kabar dari langit, lalu karena kehendak Allah hilanglah kuasa tersebut.
Metode Penelitian
Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka dan metode analisis-deskriptif yang komparatif. Terkait mengenai sumber data prime yang terdiri dari Kitab Mafatih Al-Ghaib karya Fakhruddin al-Razy dan Tafsir Ibn ‘Arabi, serta sumber dan karya terjemahan terkait.
Pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis bahan pustaka primer dan sekunder yakni dengan membaca kembali, mendeskripsikan, menta’wilkan ayat, serta membandingkan kedua sudut pandang untuk ditarik persamaan dan perbedaannya.
Hasil Penelitian dan Pembahasan Pokok
Wujud Jin sebagai alam lain di samping alam manusia dan malaikat merupakan persoalan yang tidak bisa dipungkiri karna telah disebut dalam kita suci Al-Qur’an dan memberikan informasi jelas mengenai keberadaan jin. Demikian juga Rasulullah SAW. Dalam beberapa haditsnya yang berkaitan dengan makhluk ghaib. Keyakinan akan keberadaan ini merupakan keharusan yang wajib dipercayai oleh umat Islam.
Jin berasal dari kata bahasa arab, terdiri dari huruf jim, nun, dan nun yang jika digabungkan bermakna ‘yang tersembunyi’. Dalam sekte muslim manapun nahkan hingga orang non muslim mempercayai adanya keberadaan jin. Namun ada sebagian kalangan filsuf yang tidak mempercayai keberadaan hal tersebut. Hal tersebut bertolak belakang dengan pemikiran pandangan Islam khsususnya, karena dalam Islam banyak hal yang terapat di luar batasan dan tentunya tidak dapat dibuktikan oleh empiris. Namun harus diakui seluruh eksistensi tersebut memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
Mengenai pembahasan pokok terkait artikel ini, terdapat pandangan perspektif masing-masing.
- Perspektif Fakhruddin al-Razy (Tafsir Falsafi / Rasional)
Dalam kata samum menurut al-Razy menafsirkan dengan artian udara panas, yang dimana maksud udara panas terdapat api yang membakar. Jadi yang dimaksud adalah bahwa jin diciptakan dari samum sebelum penciptaan manusia. Jin juga secara esensi memiliki kekuatan untuk mencuri informasi dari langit, oleh karena itu Allah memberikan penjagaan yang ketat. Penjagan yang berupa panah-panah api bagi siapapun mencoba mengintai kabar langit. Lalu terdapat pendapat al-Razy yang lain yang lebih medekati kebenaran, yaitu setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW. Penjagaan langit di perketat dengan adanya lemparan meteor untuk menghatam jin yang ingin mencuri berita
- Perspektif Ibn ‘Arabi (Tafsir Isyari / Sufistik)
Menurut Ibn ‘Arabi sendiri bahwasanya secara metaforis diibaratkan hawa dan nafsu. Jin memiliki 2 wujud, yaitu wujud setan dan iblis. Dalam perjalanan nya iblis pernah bertanya kepada Nabi Muhammad tentang cara bertaubat. Akan tetapi Nabi mengatakan bahwa taubatnya iblis tidak akan sempurna karena adanya sifat Takabbur. Inteprensi dari ayat yang membahas iblis itu bukan seutuhnya dzat atau wujud, melainkan sifat yang erat dengan iblis. Diceritakan bahwa iblis menjadi pembangkang karena tidak mau bersujud atas perintah Allah SWT. dan jika di dalam diri manusia terdapat sifat ini, maka manusia sama dengan iblis.
Lalu di penjelasan lain, Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa jin adalah nafsu dan al-insan adalah badan dan keduanya saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Dari penafsiran tersebut menunjukkan bahwa Allah memiliki 2 tujuan diciptakannya manusia dan jin. Pertama, bahwa Allah menciptakan manusia dan jin adalah untuk mengenal kepada tuhannya sendiri dan menyembahnya. Lalu yang kedua, diciptakan manusia dan jin agar mereka tidak lalai dengan urusan selain kepada Tuhannya.
Menurut Ibnu ‘Arabi Jin bukanlah sekedar makhluk eksternak yang terpisah, melainkan esensi dari jin tersebut yaitu potensi dorongan nafsu yang berada di dalam diri manusia itu sendiri.
Analisis Kritis (Assessment)
Dalam penelitian ini, penulis memiliki sudut pandang yang keduanya memiliki kesamaan dalam wujud maupun sifat jin. Bahwasanya jin adalah makhluk halus yang yang diciptakan sebagai penggoda manusia. Perbedaannya, al-Razy menjabarkan mengenai tentang kemampuan jin yang bisa mencuri informasi dari langit, namun dengan kuasanya jin tidak mampu menembus karena ada nya penghalang tersebut. Sedangkan, dalam Tafsir Ibn ‘Arabi bahwa eksistensi dari jin adalah hawa nafsu, yang dimana jin bisa mencuri pikiran manusia agar mereka dalam keraguan.
Ketepatan dalam metode yang digunakan yaitu metode kualitatif yang sangat tepat untuk mengupas perbedaan struktur penafsiran filosofis dan sufistik. Disertai alur argumentasi yang jelas dan logis dimulai dari gambaran umum jin dalam Al-Qur’an, penafsiran al-Razy, Penafsiran Ibn ‘Arabi hingga dii akhiri dengan titik temu yang memudahkan pembaca untuk memahami dinamika dari kedua tokoh
Dalam artikel ini juga bisa menambah wawasan untuk menambah keimanan umat Islam dari hal yang dimana tidak bisa dibuktikan secara empiris. Karena letak alam yang berbeda dengan alam manusia. Sehingga apa yang tidak bisa dibuktikan itu bisa menunjukkan kekuasaan Allah yang luar biasa karena hal ghaib yang di luar batas akal manusia sendiri.
Keunggulan
Terdapat bebepa kelebihan yang terdapat pada artikel ini :
- Adanya pembaharuan dengan menghadirkan komparasi antara sumber primer Tafsir Falsafi dan Tafsir Isyari terkait metafisik tentang jin yang belum banyak dikaji secara berpasangan
- Kedalaman dalam penafsiran yang dimana berhasil memaparkan dengan jelas perbedaan mendasar antara lahiriyah/Filosofis dan Bathiniah/Sufistik
Keterbatasan Jurnal
Terdapat bebepa kekurangan yang terdapat pada artikel ini :
- Dalam penulisan rujukan penomoran surah terdapat kekurangtelitian sedikit di salah satu bagian (Misalnya penulisan Q.S. Ar-Rahman [78]: 56, padahal ayat yang dibahas di pembahasan utama adalah Q.S. Ar-Rahman [55]: 15.
- Keterbatasan Pembahasan, jika pembahasan menggunakan kaidah penjelasan makna epistemologis yang digunakan Al-Razy dan Ibn ‘Arabi, maka pembahasan akan jauh lebih struktural.
Kesimpulan
Jurnal ini memiliki kualitas yang sangat baik dan memberikan kontribusi yang berarti dalam studi tafsir Al-Qur’an. Penulis berhasil mengubah pemaknaan jin yang dinggap lebih cenderung ke hal-hal yang berupa mistis menjadi Refleksi spiritual yang dilihat secara menyeluruh dalam segala aspek metafisik bagi manusia, agar selalu mengingat sang pencipta karena telah menciptakan suatu hal yang luar biasa.
Saran untuk penelitian selanjutnya yakni meneliti aspek implikasi dari penafsiran isyari ini terhadap perilaku moral masyarakat muslim modern, serta lebih teliti dalam penomoran ayat Al-Qur’an seperti hal yang sudah disebutkan di atas
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
