Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image YIELDAYANI PANGESTUTI

Gumelematika: Inovasi Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya Berkualitas

Eduaksi | 2026-10-16 14:28:25
Tim mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang bersama siswa SMK Pelayaran Akpelni Semarang dalam kegiatan pengenalan dan uji coba awal bahan ajar Gumelematika.

SEMARANG — Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit karena identik dengan angka, rumus, dan perhitungan abstrak. Padahal, konsep matematika dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pada pola dan motif batik tradisional.

Berangkat dari gagasan tersebut, tim mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan Gumelematika, bahan ajar transformasi geometri yang memanfaatkan motif Batik Gumelem dari Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Gumelematika dikembangkan sebagai upaya menghubungkan pembelajaran matematika dengan budaya lokal. Melalui bahan ajar ini, Batik Gumelem tidak hanya dipandang sebagai karya budaya, tetapi juga dimanfaatkan sebagai konteks untuk mengenalkan konsep matematika yang dekat dengan kehidupan siswa.

Belajar Transformasi Geometri melalui Batik

Dalam Gumelematika, motif Batik Gumelem digunakan untuk mengenalkan konsep translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi. Siswa diajak mengamati pola, mengenali perubahan bentuk atau posisi, kemudian menghubungkannya dengan konsep transformasi geometri.

Melalui pendekatan tersebut, siswa tidak hanya mempelajari aturan dan rumus, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi konsep matematika melalui objek visual yang kontekstual.

Pemanfaatan budaya lokal juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Motif batik menjadi titik awal bagi siswa untuk menghubungkan bentuk visual dengan representasi matematika melalui gambar, simbol, maupun penjelasan tertulis.

Menggunakan Pembelajaran Berbasis Tantangan

Gumelematika mengintegrasikan pendekatan Challenge Based Ethnomathematics Learning (CBEL). Melalui pendekatan ini, siswa diarahkan untuk mengamati permasalahan, mengeksplorasi konsep, menentukan strategi penyelesaian, dan mengomunikasikan hasil pemikirannya.

Bahan ajar tersebut dilengkapi dengan petunjuk penggunaan, capaian pembelajaran, peta konsep, materi, aktivitas berbasis tantangan, latihan, evaluasi, dan refleksi.

Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk mendukung kemampuan representasi matematis siswa, yaitu kemampuan menyampaikan ide matematika melalui berbagai bentuk, seperti gambar, simbol, dan penjelasan tertulis.

Memperoleh Respons Positif

Gumelematika dikembangkan menggunakan model pengembangan 4D yang dimodifikasi hingga tahap pengembangan. Dalam proses pengembangannya, bahan ajar memperoleh penilaian dari tiga ahli dan tiga praktisi pendidikan matematika.

Hasil validasi ahli mencapai 84,72 persen dengan kategori layak, sedangkan validasi praktisi mencapai 88,89 persen dengan kategori sangat layak. Uji keterbacaan memperoleh 81,17 persen dengan kategori sangat baik, sementara respon siswa mencapai 81 persen dengan kategori sangat positif.

Uji coba awal melibatkan 15 siswa kelas X-T3 SMK Pelayaran Akpelni Semarang yang telah mempelajari materi transformasi geometri. Meskipun Gumelematika dirancang untuk siswa SMP/MTs, uji keterbacaan dan respon awal dilakukan kepada siswa SMK untuk memperoleh gambaran mengenai kualitas produk.

Hasil tersebut menunjukkan penilaian positif terhadap Gumelematika dari aspek kelayakan, keterbacaan, dan respon siswa. Namun, hasil tersebut belum dapat digunakan untuk menyimpulkan efektivitas Gumelematika dalam meningkatkan kemampuan representasi matematis. Penelitian lanjutan dengan subjek yang sesuai dengan sasaran produk dan cakupan yang lebih luas masih diperlukan.

Membawa Budaya Lokal ke Ruang Kelas

Pengembangan Gumelematika menunjukkan bahwa budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar matematika. Ketika konsep matematika dikaitkan dengan lingkungan dan budaya yang dikenal siswa, pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna.

Selain membantu mengenalkan konsep transformasi geometri, penggunaan Batik Gumelem dalam pembelajaran juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengenal dan menghargai kekayaan budaya daerah.

Upaya menghadirkan pembelajaran yang relevan, bermakna, dan menghargai keanekaragaman tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendukung terwujudnya pendidikan yang berkualitas.

Melalui Gumelematika, matematika dan budaya lokal ditemukan dalam satu pengalaman belajar. Inovasi ini menjadi contoh bahwa pembelajaran matematika tidak harus selalu dimulai dari angka dan rumus, tetapi juga dapat berangkat dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan siswa, bahkan dari selembar kain batik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image