Angka Bagus Saja Tidak Cukup: Pentingnya Public Speaking di Dunia Bisnis
Bisnis | 2026-10-14 18:07:17
Pexels.com" />
Di dunia keuangan, angka sering dianggap sebagai bahasa utama. Laporan laba rugi, arus kas, hingga proyeksi investasi semuanya disajikan dalam deretan angka. Namun, ada satu kenyataan yang sering terlupakan: angka tidak bisa menjelaskan dirinya sendiri. Sebaik apa pun analisis yang dibuat, hasilnya baru berguna jika bisa dipahami dan diyakini orang lain. Di sinilah public speaking berperan penting.
Angka Butuh Penerjemah
Bayangkan seorang analis keuangan yang berhasil menemukan potensi penghematan biaya perusahaan. Analisisnya akurat dan datanya lengkap. Akan tetapi, saat presentasi di depan direksi, ia berbicara terlalu cepat, memakai istilah teknis yang rumit, dan hanya membaca isi slide. Hasilnya, pimpinan bingung dan keputusan pun ditunda.
Kasus seperti ini sering terjadi. Para pengambil keputusan umumnya tidak punya waktu untuk membedah setiap tabel. Mereka membutuhkan seseorang yang mampu menyederhanakan data menjadi pesan yang jelas: apa temuannya, mengapa penting, dan apa yang harus dilakukan. Orang yang bisa melakukan itu akan lebih mudah dipercaya dan didengar.
Contoh Kasus 1: Presentasi Laporan Keuangan
Saat mempresentasikan laporan keuangan, kesalahan yang umum adalah menampilkan terlalu banyak angka sekaligus. Presenter yang baik justru memilih beberapa poin kunci, misalnya pertumbuhan pendapatan, perubahan margin, atau kondisi likuiditas, lalu menjelaskannya dengan alur cerita.
Alih-alih berkata, “Pada kuartal ini terjadi penurunan margin laba bersih,” presenter bisa menambahkan konteks: apa penyebabnya, apakah sifatnya sementara, dan langkah apa yang akan diambil. Dengan begitu, audiens tidak hanya melihat angka, tetapi juga memahami maknanya.
Contoh Kasus 2: Pitching ke Investor
Dalam pitching, public speaking bisa menentukan apakah sebuah ide mendapat pendanaan atau tidak. Investor biasanya mendengar banyak presentasi, sehingga mereka menilai bukan hanya kelayakan bisnisnya, tetapi juga kemampuan pendirinya dalam menyampaikan visi dengan meyakinkan.
Pitching yang efektif umumnya singkat, terstruktur, dan jujur. Pembicara menjelaskan masalah yang ingin diselesaikan, solusi yang ditawarkan, potensi pasar, serta risiko yang ada. Sikap percaya diri yang tidak berlebihan dan kemampuan menjawab pertanyaan dengan tenang akan menumbuhkan kepercayaan investor.
Keterampilan yang Perlu Dilatih
Public speaking di dunia bisnis bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari. Beberapa hal yang dapat dilatih antara lain:
- Menyederhanakan pesan. Jelaskan istilah teknis dengan bahasa yang mudah dipahami.
- Menyusun alur. Mulai dari tujuan, lanjutkan dengan data pendukung, dan akhiri dengan kesimpulan atau rekomendasi.
- Mengelola visual. Gunakan grafik yang sederhana dan hindari slide yang penuh teks.
- Memperhatikan bahasa tubuh. Jaga kontak mata, intonasi, dan kecepatan bicara.
- Siap menghadapi pertanyaan. Antisipasi pertanyaan sulit dan siapkan jawabannya.
Bagi mahasiswa, kesempatan berlatih sebenarnya banyak, mulai dari presentasi kelompok, diskusi kelas, hingga kegiatan organisasi atau lomba studi kasus.
Kemampuan analisis memang menjadi fondasi utama di bidang keuangan. Namun, tanpa kemampuan menyampaikannya, analisis terbaik pun bisa kehilangan dampaknya. Karena itu, mahasiswa keuangan perlu mengasah dua kemampuan sekaligus: mengolah angka dan menyampaikannya dengan jelas. Pada akhirnya, angka yang baik akan lebih berpengaruh ketika disampaikan oleh orang yang mampu berbicara dengan baik.
Penulis: Moch Dede Wahiddin
Program Studi: Manajemen Keuangan, Universitas Pamulang
Mata Kuliah: Public Speaking
Dosen Pengampu: Dr. Asep Muhammad Lutfi S.E. , M.M., C.STMI., B.KP
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
