AI Menggantikan Pekerjaan Manusia? Ini Tantangan SDM di Dunia Kerja Masa Kini
Info Terkini | 2026-10-12 19:30:45Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia kerja. Saat ini, AI tidak hanya digunakan untuk mencari informasi atau membantu membuat tulisan, tetapi mulai dimanfaatkan perusahaan untuk mendukung berbagai pekerjaan. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan yang cukup sering muncul: apakah AI akan menggantikan manusia di dunia kerja?
Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak sesederhana “manusia atau AI”. Perubahan teknologi lebih banyak mengubah cara seseorang bekerja dan keterampilan yang dibutuhkan. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli pada Juli 2026 menyampaikan bahwa perkembangan teknologi banyak mengubah industri, tetapi bukan berarti langsung menghilangkan profesi. Yang berubah adalah cara bekerja dan kebutuhan keterampilannya.
Hal ini terlihat dari semakin banyaknya perusahaan yang mulai memperhatikan kemampuan calon karyawan dalam menggunakan teknologi. Survei yang diberitakan Katadata menunjukkan bahwa 71% perusahaan di Indonesia mempertimbangkan pengetahuan AI kandidat dalam proses perekrutan. Artinya, kemampuan menggunakan teknologi mulai menjadi salah satu bagian dari kompetensi yang diperhatikan perusahaan.
Di sisi lain, kemampuan manusia tetap memiliki peran penting. Survei Populix pada Juli 2026 menunjukkan bahwa 46% responden di Indonesia menilai kreativitas sebagai keterampilan yang paling penting di era AI. Selain itu, kemampuan membuat perintah untuk AI, berpikir strategis, literasi data, dan pengambilan keputusan juga dianggap penting.
Dari sudut pandang Manajemen Sumber Daya Manusia, kondisi ini menjadi tantangan bagi perusahaan. HR tidak cukup hanya mencari karyawan berdasarkan ijazah atau pengalaman kerja. Perusahaan juga perlu melihat kemampuan seseorang untuk beradaptasi, belajar teknologi baru, berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah.
Hal yang sama juga berlaku bagi karyawan. Ketika teknologi berkembang dengan cepat, kemampuan yang dimiliki hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi kebutuhan pekerjaan di masa depan. Karena itu, karyawan perlu terus meningkatkan keterampilan melalui pelatihan, pembelajaran mandiri, maupun pengalaman langsung di tempat kerja.
Namun, perusahaan juga tidak seharusnya hanya meminta karyawan untuk “beradaptasi” tanpa memberikan dukungan. Jika perusahaan ingin menggunakan AI, maka pelatihan dan pengembangan SDM harus ikut diperkuat. Karyawan perlu diberi kesempatan untuk memahami teknologi, mencoba penggunaannya, dan mengetahui bagaimana teknologi tersebut dapat membantu pekerjaan mereka.
Hal ini menjadi semakin penting karena masih terdapat kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri. Pada September 2026, Menteri Ketenagakerjaan menyebut bahwa 48% perusahaan di Indonesia mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja dengan kompetensi yang memadai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan dunia kerja bukan hanya mengenai jumlah tenaga kerja, tetapi juga kesesuaian keterampilan dengan kebutuhan perusahaan.
Dalam kondisi seperti ini, peran HR menjadi semakin penting. HR perlu menjadi penghubung antara perkembangan teknologi dengan kesiapan manusia di dalam perusahaan. Rekrutmen perlu mempertimbangkan kompetensi yang relevan, pelatihan harus mengikuti perubahan kebutuhan pekerjaan, dan penilaian kinerja juga perlu melihat kemampuan karyawan dalam beradaptasi dengan perubahan.
Pada akhirnya, AI tidak seharusnya hanya dilihat sebagai ancaman bagi pekerja. AI juga dapat menjadi alat yang membantu manusia bekerja lebih cepat dan produktif. Tantangannya adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi tersebut tanpa kehilangan kemampuan yang justru menjadi keunggulan manusia, seperti kreativitas, komunikasi, empati, kerja sama, dan pengambilan keputusan.
Dunia kerja sedang berubah, dan perubahan tersebut tidak dapat dihindari. Pertanyaannya bukan lagi apakah manusia akan bekerja bersama AI, tetapi apakah manusia dan perusahaan sudah siap menghadapi perubahan tersebut. Bagi mahasiswa Manajemen SDM, fenomena ini menjadi pengingat bahwa mengelola manusia di masa depan bukan hanya tentang mengatur karyawan, tetapi juga tentang mempersiapkan mereka agar mampu berkembang bersama perubahan teknologi.
Sumber yang bisa dicantumkan di akhir artikel:
- ANTARA, Menaker nilai transformasi digital jadi momentum siapkan SDM adaptif, 9 Juli 2026.
- ANTARA, Menaker: Adopsi AI di dunia kerja harus berorientasi pada manusia, 15 September 2026.
- Katadata, AI, Job Hugging, dan Arah Baru Pasar Tenaga Kerja Indonesia 2026, 31 Januari 2026.
- Katadata, Jenis Keterampilan yang Dianggap Semakin Penting di Era AI, 31 Juli 2026.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
