Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Azizah Ramadhani

Pengaruh Perilaku Guru dan Stereotipe Gender di Sekolah

Edukasi | 2026-10-07 16:02:46
Ilustrasi (Sumber : istock)

PENGARUH PERILAKU GURU DAN STEREOTIPE GENDER DI SEKOLAH

Azizah Ramadhani (123251003) Mahasiswa MK Cross Cultural Communication, Fakultas IlmuBudaya, Universitas Airlangga.

Siapa yang Berhak Memimpin?

Seringkali di lingkungan pendidikan kita menemui realita yang perlu diberi perhatian lebih,sebuah tindakan atau perilaku yang dirasa wajar dan normal terjadi di banyak sekolah. Salah satu contohnya adalah pemilihan perangkat kelas, dimana pola pemilihan hampir seragam yaitu pemimpin kelas adalah laki-laki, sementara anak perempuan meski dengan kemampuan akademis yang baik dan berwibawa seringkali menempati posisi lain sebagai pendukung sepertiwakil, sekretaris, atau bendahara.

Bagi sebagian orang hal ini mungkin hal yang lumrah dan wajar untuk terjadi. Namun, jika kita memahami dan meneliti lebih dalam, pengambilan kebijakan melalui keputusan-keputusan kecil yang terkesan sepele tanpa diimbangi dengan pertimbangan yang mendalam terutama di lingkungan sekolah sebenarnya dapat berpengaruh besar yang menjadi langkah awal kecondongan padahirarki struktural yang akan berlanjut hingga dewasa. Dimana, sekolah yang seharusnya menjadi wadah atau langkah awal dan netral untukmenanamkan potensi-potensi siswa. Malah, menjadi tempat menanamkan stereotip tentang gender yang dikemas secara halus.

Pesan Tanpa Suara

Kebiasaan ini tidak selalu datang dalam bentuk larangan tertulis, interaksi sehari-hari menjadisalah satu jembatan yang seringkali tak disadari. Sebagai pendidik, baik secara sadar maupun tidak, sering memberikan isyarat atau gesture kecil tentang siapa yang memiliki kewenangan atau kontrol yang lebih besar melalui komunikasi nonverbal. Hal ini bisa terlihat dari sikap yang ditunjukkan sehari-hari, seperti pemilihan kata,anggukan kepala saat menyetujui atau mendengar suatu pendapat, hingga bahasa tubuh di depankelas. Ketika guru berulang kali menunjuk anak laki-laki untuk memimpin barisan, memimpindoa, maupun mengondisikan kegiatan lapangan yang berat.

Tindakan ini menjadi bentuk bahwa yang memegang dan memiliki kewenangan, kuasa ataupun kontrol adalah maskulinitas. Namun sebaliknya, ketika anak perempuan berani vokal,berpikir kritis hingga mampu bersaing baik secara akademis maupun non akademis, tak jarangmereka ditekan dengan respons nonverbal yang kurang mengenakkan seperti tatapan mata yangmengintimidasi hingga gesture yang memberi tanda bahwa anak perempuan tersebut “terlaludominan".

Pesan terselubung inilah yang membentuk fenomena kurikulum tersembunyi (hiddencurriculum) disekolah. Fenomena ini selaras dengan studi dari Retnaningsih (2023) dalam Pendas: JurnalIlmiah Pendidikan Dasar, yang menyoroti bagaimana keberpihakan pada satu gender yangberlaku dalam interaksi dan komunikasi di ruang kelas ikut andil langsung pada ketimpanganpartisipasi belajar. Anak-anak yang berada di lingkungan tersebut memahami atau menangkap perilaku guru mereka sebagai suatu standar kebenaran yang pada akhirnya dianggap normal oleh mereka sendiri dalam pergaulan.

Kekuasaan dan Loyalitas yang Tak Terlihat

Yang sering menjadi tanda tanya, mengapa anak-anak mudah untuk menerima dan menyerap hal tersebut tanpa bertanya? Dari sekian banyak alasan, salah satunya adalah adanya power distance (jarak kekuasaan) pada budaya kita tak terkecuali pendidikan. Hal ini sesuai dengan teori sosiologi, lingkungan sekolah di Indonesia menempatkan sosok guru sebagai figur pemegang wewenang absolut yang menentukan aturan, sedangkan siswa sebagai bawahan yang menerima segala perintah dan instruksi. Adanya ketimpangan pada kekuasaan ini membuat siswa cenderung menerima apa yang diberikan tak terkecuali pembagian peran berdasarkan jenis kelamin.

Kalimat seperti,"Untuk ketua kelas kita usahakan anak laki-laki saja ya, supaya lebih tegas," yang muncul dari guru membuat jarak kekuasaan yang awalnya sudah ada dan menjadi lebih besar. Berawal dari sebuah instruksi yang mengubahnya sebagai doktrin dimata siswa, dan jarang murid berani vokal atau membantah hal tersebut. Siyi Wang (2022) The influence of Teacher's Authoritative Behavior on Students, yang menjelaskan mengenai perilaku berkuasa guru di dalam ruang kelas memiliki dampak juga pengaruh psikologis yang luar biasa besar dalam membentuk bagaimana siswa menerima aturan atau kebiasaan dari lingkungan mereka. Hal ini membuat pengaruh bagaimana cara pandang guru diterima begitu saja tanpa adanya filter yang kritis oleh siswa dandiaplikasikan ke kehidupan mereka.

Menekan Potensi dalam Wadah Stereotip

Penerapan dalam memilih pemimpin kelas berdasarkan gender ini sama saja dengan melanjutkan stereotip kuno yang membagi peran manusia berdasar gender. Stereotip lama dimana anak laki-laki dibentuk dan tumbuh sebagai sosok yang wajib tegas, berjiwa pemimpin dan kritis. Sementara anak perempuan dibentuk sebagai sosok yang lemah lembut, mengutamakan perasaan, rapi dan hanya cocok berada di balik layar untuk mengurus hal-hal yang bersifat administratif. Yang menjadi ironi, sekolah yang seharusnya mendobrak stereotip dan keterbatasan malah menjadi tempat memperkuat stereotip tersebut.

Anak laki-laki dibiasakan untuk mengambil keputusan dan menegakkan disiplin, sedangkan anak perempuan dibiasakan untuk menagih uang kas,merapikan catatan keuangan, juga menulis absensi. Tak dapat disangkal hal ini dapat menekan bahkan meredam potensi mereka. Siap atau tidak, tertarik maupun tidak anak laki-laki 'dipaksa' untuk mengemban beban kepemimpinan sementara sebaliknya anak perempuan yang memiliki jiwa kepemimpinan dan wibawa terbatasi oleh batasan sosial yang ada.

Dampak yang Terbawa oleh Waktu

Dari pembiasaan di bangku sekolah ini muncul dampak yang tak benar-benar hilang. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan juga cara pandang yang mereka alami dan rasakan sejak duduk di bangku sekolah akan mereka bawa hingga dewasa. Riset dari, Hidayat dan Lestari (2024) dalam SETARA: Jurnal Studi Gender dan Anak, menegaskan bahwa apapun hal termasuk kebiasaan yang dilakukan oleh guru di masa kecil mereka memiliki dampak besar terhadap pola pikir maupun pemahaman mereka di saat dewasa terkait kesetaraan gender juga moral. Anak perempuan seringkali di masa kecilnya melihat bahkan terbiasa pada pemimpin yang didominasi dengan laki laki.

Hal ini berpengaruh terhadap penurunan semangat juga tekad pada diri mereka hingga saat dewasa, muncul semacam batas mental(glass ceiling) yang membuat mereka memiliki keraguan terhadap diri mereka untuk mengambil posisi eksekutif atau strategis. Pada sisi lain, anak laki-laki terbiasa dan tumbuh dengan rasa superioritas, dimana pemikiran bahwa mereka berhak dan layak memimpin karena terbiasa sejak kecil, bukan karena mereka kompeten. Pada keberlanjutannya, ketimpangan pemahaman akan peran gender ini tak hanya menjadi masalah di lingkungan pendidikan namun semakin menyebar ke berbagai bidang, seperti bidang politik, korporat maupun organisasi. Tentu hal ini bukanlah suatu masalah yang timbul secara mendadak namun telah terbentuk sejak lama dan terstruktur. Dan akhirnya waktu menjadi bukti bahwa realitas tersebut adalah hasil nyata dari penumpukan hal kecil yang dilakukan secara berkelanjutan dari mulai kita duduk di bangku sekolah.

Menata Masa Depan dari Ruang Belajar

Untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, lembaga pendidikan tidak boleh lagi mengganggap praktik diskriminasi sebagai hal yang biasa. Guru, sebagai pemicu perubahan,memiliki tanggung jawab besar untuk mencontoh cara berkomunikasi yang baik, mengurangi dampak negatif dari jarak dan ketegangan kekuasaan, serta berani menghadapi pembagian tugas yang menghambat potensi tumbuh peserta didik. Sekarang, siapa yang boleh jadi pemimpin dikelas tidak lagi ditentukan oleh jenis kelamin, tetapi diukur berdasarkan kemampuan,kecerdasan, rasa empati, dan integritas yang sebenarnya dari setiap anak.

Daftar Pustaka

Hidayat, A., & Lestari, P. (2024). Karakter, Nilai Moral, dan Habituasi Kesetaraan Gender Melalui Keteladanan Guru. SETARA: Jurnal Studi Gender dan Anak, 5(1). metrouniv.ac.id

Retnaningsih, E. (2023). Bias Gender dalam Pola Komunikasi dan Interaksi Pembelajaran di Kelas. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 8(2). unpas.ac.id

Wang, S. (2022). The Influence of Teacher's Authoritative Behavior on Students. Proceedings of the 2022 International Conference on Education, Language and Art (ICELA 2022), Atlantis Press. researchgate.net

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image