Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Stop Genosida: Darah Gaza, Luka Palestina, Luka Dunia!

Sastra | 2026-10-07 14:55:28
Gambar Genosida Palesyina dari generate Al.

Ketika Darah Menjadi Saksi, dan Nurani Manusia Diuji

Gaza----- tanah kecil di tepi laut, tempat matahari masih terbit di antara rumah-rumah yang runtuh, dan debu menghapus jejak kaki anak-anak.

Lautnya tetap biru, tetapi daratannya menyimpan darah. Langit masih membentang, namun suara ledakan memecah doa-doa malam.

Di antara puing, seorang anak mencari ibunya--- bukan lagi di dalam rumah, melainkan di antara batu yang kehilangan suara.

Lalu malam bertanya:

Mengapa manusia membunuh manusia?

Kami mendengar pertanyaan itu menyeberangi laut, melewati batas-batas negeri, mengetuk pintu-pintu nurani.

Kami tidak punya kuasa untuk menghentikan perang dengan tangan, tetapi kami punya suara untuk menolak diam.

Kami bersaksi, Kami mengingat, Kami menyuarakan.

Gaza mengajarkan kami: rumah boleh runtuh, tetapi harapan tidak harus ikut terkubur.

Sebab manusia bukan sekadar tubuh, melainkan jiwa yang terus mencari cahaya bahkan di antara reruntuhan.

STOP GENOSIDA!

Kami menolak kematian menjadi angka.

Satu anak adalah semesta. Satu ibu yang kehilangan anak adalah dunia yang runtuh. Satu nyawa yang direnggut adalah pertanyaan yang ditinggalkan kepada sejarah.

Kami bertanya:

Apa arti peradaban jika anak-anak kehilangan masa depan?

Apa arti hukum jika keadilan hanya menjadi kata?

Apa arti kemanusiaan jika penderitaan terlihat namun nurani memilih diam?

Darah Gaza bukan sekadar warna di tanah.

Ia tinta sejarah yang menulis pertanyaan kepada kita semua:

Di mana nurani manusia ketika manusia terluka?

Maka kami memilih untuk tidak diam

Kami memilih mengingat ketika dunia mulai lupa

Kami memilih bersuara ketika kesunyian menjadi kebiasaan

Kami memilih kemanusiaan ketika kebencian mencoba menguasai bahasa dunia.

Kami bersolidaritas.

Dengan doa yang tulus, Dengan bantuan kemanusiaan melalui saluran yang tepercaya. Dengan dukungan bagi tenaga medis dan pekerja kemanusiaan. Dengan suara yang menyerukan perdamaian tanpa menebar kebencian.

Kami tahu suara kami mungkin hanya setitik.

Tetapi bukankah sungai juga bermula dari titik-titik air?

Bukankah perubahan sering lahir dari suara-suara yang semula dianggap kecil?

Maka kami akan terus bersuara.

Bukan untuk membalas luka dengan luka, melainkan untuk menolak agar luka menjadi warisan.

Bukan untuk menanam kebencian, melainkan untuk menjaga agar kemanusiaan tetap hidup.

Dan jika dunia memilih diam-- kami akan bersuara

Jika dunia menutup mata--- kami akan tetap melihat

Jika kematian hendak dijadikan angka -- kami akan menyebut kembali bahwa mereka adalah manusia.

Anak, Ibu, Ayah, Keluarga.

Manusia, Bukan angka, Bukan statistik. Bukan sekadar berita.

MANUSIA .............................

Maka dengarkan kami, wahai dunia!

Kami datang bukan membawa kebencian,tetapi membawa suara.

Kami datang bukan membawa senjata,tetapi membawa kesaksian.

Kami datang dari berbagai tempat, dengan bahasa yang berbeda, namun dengan satu keyakinan:

Tidak ada nyawa yang pantas dihapus dari dunia tanpa suara.

Dari tanah yang terluka, kami menyerukan kehidupan.

Dari rumah-rumah yang runtuh, kami menyerukan perdamaian.

Dari air mata para ibu, kami menyerukan masa depan bagi anak-anak.

Dan dari darah yang membasahi Gaza, kami berdiri bersama menyerukan:

CUKUP!

Cukup kematian, Cukup penderitaan, Cukup kebisuan.

STOP GENOSIDA!

Biarlah suara kami menjadi gema yang panjang.

Biarlah puisi ini menyeberangi batas dan zaman.

Biarlah setiap kata menjadi pengingat:

Bahwa Gaza bukan sekadar nama, Palestina bukan sekadar peta.

Di sana ada manusia yang ingin hidup, mencintai, bermimpi, dan pulang.

Dan selama masih ada suara yang menolak lupa,

Kemanusiaan belum selesai.

STOP GENOSIDA:DARAH GAZA, LUKA PALESTINA DAN SUARA KAMI UNTUK KEMANUSIAAN.

Bandung, 07 Oktober 2026

by Tonny Rivani

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image