Kritik Sosial dari Kacamata Anak-Anak dalam Kita Pergi Hari Ini
Sastra | 2026-10-01 15:15:34
Orang tua Mi, Ma, dan Mo harus pergi mencari nafkah di Kota Suara karena uang yang ada di laut dijarah perompak, uang di tanah dikeruk perampok, dan uang di pohon diambil pengusaha kayu yang tamak. Selama orang tua pergi bekerja, ketiga bersaudara ini berpetualang bersama Nona Gigi, kucing luar biasa yang menjadi penjaga sekaligus pintu menuju dunia yang tak biasa. Mereka menaiki Kereta Air, bertemu Kolonel Jagung, bermain di Sirkus Sendu, hingga menyaksikan Kota Terapung Kucing Luar Biasa.
Kritik sosial dalam novel ini dihadirkan melalui latar ceritanya, di mana Kota Suara digambarkan sebagai tempat yang kekayaannya dijarah dari laut, tanah, hingga pohon oleh pihak-pihak yang serakah. Ziggy tidak menjelaskannya dengan bahasa yang berat, tetapi menyampaikannya sebagai fakta yang sudah biasa dalam dunia anak-anak. Pembaca dewasa akan langsung mengenali sindiran tentang eksploitasi sumber daya dan ketimpangan ekonomi, yang berakibat pada keluarga kecil, di mana orang tua terpaksa merantau, sedangkan anak-anak ditinggal di rumah.
Kekuatan novel ini ada pada pilihan sudut pandangnya. Lewat mata Mi, Ma, dan Mo, persoalan orang dewasa diolah menjadi petualangan penuh imajinasi, dengan kereta yang berjalan di atas air, jagung yang jadi kolonel, dan kucing yang jadi penjaga anak-anak. Dunia yang absurd ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga merefleksikan cara anak-anak memahami dan bertahan dari kenyataan yang tidak bisa mereka kendalikan. Di sinilah kritiknya terasa lebih jujur. Bukan berupa ceramah membosankan, melainkan pengalaman anak yang ditinggal dan mencari cara untuk tetap baik-baik saja.Namun, pendekatan ini juga menuntut kesabaran pembaca. Alur yang seperti mimpi, adanya permainan kata, dan simbol-simbol yang tidak dijelaskan membuat kritik sosialnya harus ditafsirkan sendiri, sehingga bisa terlewat oleh pembaca yang hanya mengikuti ceritanya.
Kita Pergi Hari Ini membuktikan bahwa kritik sosial tidak selalu harus disampaikan dengan nada dan cara yang serius. Dengan mengambil sudut pandang anak-anak, Ziggy mengangkat isu ketimpangan, eksploitasi, dan keluarga yang terpisah oleh kebutuhan ekonomi, kemudian mengemasnya menjadi cerita yang absurd, hangat, dan begitu khas. Novel ini layak dibaca oleh para pecinta fiksi yang mengajak berpikir, meski perlu kesiapan untuk menafsirkan sendiri pesan-pesan di balik dunia fantasinya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
