Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image MUTIARA SARI

Public Speaking di Era Digital: Tantangan Komunikasi dalam Presentasi Online dan Offline

Edukasi | 2026-09-18 13:10:03

Public Speaking di Era Digital: Tantangan Komunikasi dalam Presentasi Online dan Offline

Mutiara Sari (231010504547)

Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Pamulang

Public Speaking

Contoh Public Speaking

Di media sosial terlihat sebuah ruang kelas di sebuah kampus yang ada di Tangerang Selatan. Seorang mahasiswa berdiri di depan, layar proyektor menyala dan menampilkan slide presentasi tugas akhirnya. Namun, bukan menatap dosen penguji atau audiens, matanya hampir tak pernah lepas dari layar ponsel yang ada di tangannya. Ia membaca, bukan berbicara. Momen seperti ini sudah biasa muncul di media sosial mahasiswa Indonesia, dan setiap kali muncul, selalu menimbulkan perdebatan yang sama: apakah generasi digital sedang kehilangan kemampuan mendasar dalam berkomunikasi, yaitu berbicara di depan orang lain dengan percaya diri?

Fenomena ini bukan hanya sekadar bahan tertawaan di kolom komentar. Ia adalah tanda dari masalah yang lebih besar: perubahan cara manusia, terutama generasi muda Indonesia, memahami arti "berbicara di depan publik" dalam dunia yang sebagian besar kehidupannya bergeser ke layar.

Dua Dunia, Dua Set Aturan

Selama puluhan tahun, public speaking diajarkan dengan anggapan awal bahwa pembicara dan pendengar berada di satu tempat yang sama. Kontak mata, postur tubuh, jarak saat berbicara, hingga suasana ruangan adalah alat utama yang digunakan seorang pembicara. Namun, pandemi Covid-19 membuat perubahan permanen pada situasi ini. (Tawaqal et al., 2024) menemukan bahwa sebelum pandemi, berbicara di depan publik biasanya dilakukan secara langsung dengan fokus pada gerak tubuh dan pandangan mata agar menarik perhatian pendengar. Namun, pandemi memaksa banyak kegiatan berbicara di depan umum beralih ke platform digital, sehingga pembicara harus menguasai teknologi dan memahami cara berinteraksi di ruang virtual agar tetap bisa menarik minat audiens.

Masalahnya, banyak orang termasuk mahasiswa memandang presentasi daring sebagai versi digital dari presentasi tatap muka, padahal keduanya membutuhkan keterampilan yang sangat berbeda secara dasar. Sebuah penelitian analitis berbasis multi-modul tentang presentasi secara daring menunjukkan bahwa sebagian besar pertemuan bisnis akan beralih ke format online, dan menemukan perbedaan nyata dalam cara ekspresi emosi pembicara yang berbicara di panggung nyata dan di depan kamera, karena keberadaan kamera dan mikrofon tetap menghasilkan persepsi yang berbeda terhadap kontak mata, gerakan panggung, dan volume suara oleh audiens (Huang et al., 2023). Artinya, kemampuan melihat melalui lensa kamera bukan hanya berarti "melihat ke depan", tetapi merupakan teknik komunikasi khusus yang jarang diajarkan secara jelas di dalam kelas.

Ketika Layar Ponsel Menjadi Musuh dalam Diri Sendiri

Ironisnya, tantangan terbesar dalam berbicara di depan umum di era digital tidak hanya tentang bagaimana tampil di depan kamera, tetapi juga tentang bagaimana mengatasi godaan layar tersebut, bahkan saat presentasi dilakukan secara tatap muka. Kasus video presentasi mahasiswa yang sering tayang di media sosial kampus-kampus Indonesia, di mana mata mereka hampir selalu tertuju pada ponsel, sebenarnya menunjukkan masalah lama yang semakin parah karena kebiasaan menggunakan teknologi digital. Ketergantungan pada gadget sebagai alat bantu mengingat justru membuat mahasiswa tidak mampu memahami materi secara mendalam.

(Utomo & Suharto, 2020) meneliti dampak media sosial terhadap perilaku mahasiswa di dalam kelas, menemukan bahwa penggunaan ponsel dan perangkat elektronik lainnya di kelas kuliah sudah menjadi kebiasaan umum di era teknologi sekarang. Banyak mahasiswa menggunakan perangkat tersebut bukan untuk belajar, melainkan untuk mengakses media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Twitter selama proses belajar berlangsung. Kebiasaan ini terbawa ke momen presentasi, sidang skripsi, tugas kelompok, hingga wawancara kerja, yang akhirnya membuat pembicara kehilangan koneksi dengan audiensnya sendiri.

(Fadillah A. Ontoh, Lois Laurensio Gracio Ngutra, 2024) mengungkapkan bahwa konten di media sosial memiliki pengaruh nyata terhadap kemampuan berbicara di depan umum para mahasiswa, baik dalam membentuk gaya berbicaranya maupun meningkatkan rasa percayanya ketika harus tampil di depan orang banyak. Media sosial di satu sisi membantu memperkaya gaya komunikasi yang digunakan, tetapi di sisi lain menjadikan kebiasaan berkomunikasi yang lebih cepat dan singkat. Pola ini justru berlawanan dengan kebutuhan presentasi formal yang membutuhkan struktur yang jelas, fokus yang baik, dan kehadiran yang penuh.

Cemas di Depan Kamera, Cemas di Depan Panggung

Tantangan lain yang sering diabaikan adalah rasa cemas saat berbicara, yang justru bisa semakin meningkat, bukan semakin berkurang, di masa era digital. (Maulana et al., 2023) menyebutkan bahwa banyak peserta tampak kaku saat tampil di depan kamera, mengalami keterbatasan dalam menggunakan kosakata, berbicara bata-bata, mengulang kalimat sendiri, dan bahkan sebagian dari mereka tidak berani menunjukkan diri secara digital karena merasa cemas dan minder.

Fenomena ini memang masuk akal: di ruangan fisik, gerakan tangan dan energi tubuh bisa menutupi perasaan cemas; di depan kamera, wajah menjadi satu-satunya media untuk menunjukkan perasaan, dan bagi banyak orang, itu terasa jauh lebih "telanjang".

Public Speaking dan Kualifikasi di Dunia Kerja

Di dunia profesional, perusahaan tidak hanya mencari keterampilan teknis, tetapi juga soft skills seperti public speaking. Hal ini penting untuk dicermati, mengingat industri saat ini semakin mengutamakan karyawan yang tidak hanya ahli secara teknis tetapi juga mampu berkomunikasi dengan efektif. Bagi tenaga kerja di Indonesia, kemampuan menguasai keterampilan ini semakin penting karena dunia kerja kini membutuhkan orang yang tidak hanya bisa menggunakan teknologi AI, tetapi juga bisa menjelaskan hasil penggunaan teknologi tersebut kepada orang lain dengan jelas dan efektif.

Menekankan bahwa mengajar public speaking secara daring memerlukan prosedur dan teknik yang dirancang khusus, bukan hanya menggeser materi tatap muka ke platform konferensi video (SYAF, 2022). Ini adalah pengingatan penting bagi lembaga pendidikan: mengajarkan public speaking di masa kini tidak cukup hanya dengan menambahkan kata "online" di depan materi ajar yang lama.

Data yang Tidak Bisa Diabaikan

Menurut survei terbaru APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah orang yang menggunakan internet di Indonesia pada tahun 2025 mencapai 229,43 juta orang dari total jumlah penduduk yang mencapai 284,43 juta orang.Hal ini artinya, sekitar 80,66% penduduk Indonesia sudah bisa mengakses internet, meningkat dari 221,56 juta orang pada tahun 2024. Generasi Z dan milenial paling banyak menggunakan internet, terutama generasi Z yang menjadi pengguna internet paling banyak di Indonesia (APJII 2024). Artinya, generasi yang saat ini sedang duduk di bangku kuliah dan akan memasuki dunia kerja adalah generasi yang tumbuh dengan layar sebagai sarana komunikasi utamanya, sekaligus generasi yang paling rentan kehilangan sensitivitas terhadap komunikasi langsung yang autentik.

Bukan Soal Memilih, tapi Menguasai Keduanya

Kesalahan terbesar dalam menghadapi masalah ini adalah memandangnya sebagai pertarungan antara presentasi offline yang lebih baik dengan presentasi online yang lebih cepat dan mudah. Faktanya, dunia kerja dan dunia akademik sekarang ini membutuhkan kemampuan yang sama tingginya di keduanya. Rapat penting bisa dilakukan lewat Zoom jam sepuluh pagi, dan sidang skripsi secara langsung juga diadakan jam dua siang pada hari yang sama. Seorang komunikator yang baik di zaman sekarang bukan hanya memilih satu saluran, tetapi bisa membaca situasi dan beralih antar saluran dengan lancar. Ia tetap memperhatikan kontak mata, baik ke lensa kamera maupun wajah penonton. Ia bisa menguasai materi dengan baik tanpa perlu tergantung pada catatan di layar ponsel. Ia juga selalu hadir secara penuh di mana pun ia berbicara.

Kasus video mahasiswa yang tidak bisa melepaskan diri dari layar ponselnya saat presentasi seharusnya bukan hanya bahan untuk tertawa di media sosial, melainkan menjadi cermin bagi kita semua, baik sebagai pendidik, mahasiswa, maupun praktisi. Public speaking di era digital sekarang harus diajarkan dari awal lagi. Bukan cuma soal cara berbicara dan postur tubuh, tapi juga soal disiplin diri untuk hadir secara penuh, baik di layar ataupun di panggung, tanpa bantuan ponsel yang dipegang.

Referensi :

Fadillah A. Ontoh, Lois Laurensio Gracio Ngutra, V. C. K. (2024). Dampak Konten Di Media Sosial Terhadap Public Speaking Mahasiswa Fakultas Ilmu Komonukasi Mercu Buana Yogyakarta Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial ( JKOMDIS ). 04(01), 95–99.

Huang, Z., He, Q., Maher, K., Deng, X., & Lai, Y. (2023). SpeechMirror : A Multimodal Visual Analytics System for Personalized Reflection of Online Public Speaking Effectiveness.

Maulana, H. F., Susanto, R. I., Ode, L., & Rasyid, M. (2023). [ Keterampilan Public Sepeaking dalam Konten Edukatif Melalui Media Tiktok pada Remaja Karantaruna Desa Wajah Jaya ] Pendahuluan. 3(1), 17–26.

SYAF, O. Y. (2022). ANALISIS PROSEDUR DAN TEKNIK PENGAJARAN PUBLIC SPEAKING SECARA DARING. 2(4), 341–350.

Tawaqal, R. S., Poedjadi, M. R., & Silviany, A. E. (2024). Diferensiasi Public Speaking Online di Era Digitalisasi Pasca Pandemi Covid -19. 3(3), 179–191. https://doi.org/10.54259/mukasi.v3i3.2730

Utomo, B., & Suharto, A. (2020). PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP SIFAT PERILAKU MAHASISWA PADA PROSES PEMBELAJARAN DI RUANG KELAS ( STUDI KASUS STMIK ERESHA ). XV(10), 1–7.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image