Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image silvia hidayat

Jangan-Jangan, Publik Tidak Cemas Saat Bicara, tapi Cemas Saat Harus Mendengarkan?

Gaya Hidup | 2026-09-17 10:54:19

Ketika membahas public speaking, perhatian kita hampir selalu tertuju pada pembicara. Kita belajar mengatasi rasa gugup, menyusun presentasi yang menarik, mengatur intonasi, hingga membangun kepercayaan diri di depan banyak orang.

Namun, ada satu bagian penting dalam komunikasi yang sering terlupakan: audiens.

Sehebat apa pun seseorang berbicara, pesan yang disampaikan tidak akan berarti banyak jika tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Di sinilah muncul pertanyaan menarik: jangan-jangan persoalan komunikasi saat ini bukan hanya karena orang takut berbicara, tetapi juga karena semakin sulit bagi kita untuk benar-benar menyimak?

Ketika Perhatian Mudah Terpecah

Kehidupan digital membuat kita terbiasa menerima informasi secara cepat. Video pendek, notifikasi, dan berbagai konten yang terus muncul membuat perhatian kita mudah berpindah dari satu hal ke hal lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, mendengarkan seseorang berbicara selama 20–30 menit bisa terasa cukup menantang. Tidak sedikit orang yang tanpa sadar membuka ponsel, memeriksa notifikasi, atau memikirkan hal lain ketika pembicara sedang menyampaikan materi.

Akibatnya, pembicara bukan hanya dituntut mampu menyampaikan pesan dengan baik. Ia juga harus berusaha mempertahankan perhatian audiens yang terus berhadapan dengan berbagai distraksi.

Kita Semakin Menyukai Informasi yang Instan

Kebiasaan mengonsumsi informasi secara singkat juga dapat memengaruhi cara kita menerima sebuah gagasan. Informasi yang langsung pada inti persoalan lebih mudah menarik perhatian dibandingkan penjelasan panjang yang membutuhkan kesabaran untuk dipahami.

Tidak heran jika konten yang menghibur, mengejutkan, atau memancing emosi sering kali lebih cepat mendapatkan perhatian. Sementara itu, gagasan yang membutuhkan konteks dan penjelasan bertahap justru berisiko dilewatkan.

Hal ini juga dapat terlihat dalam sesi diskusi. Seharusnya, sesi tanya jawab menjadi ruang untuk memperdalam materi. Namun, terkadang pertanyaan justru tidak berkaitan dengan pembahasan atau seseorang lebih sibuk menyampaikan pendapatnya sendiri daripada memahami jawaban yang diberikan.

Public Speaking Membutuhkan Public Listening

Komunikasi pada dasarnya bukan aktivitas satu arah. Ada pembicara yang menyampaikan pesan dan ada audiens yang menerima, memahami, serta memberikan respons terhadap pesan tersebut.

Karena itu, kemampuan berbicara seharusnya berjalan beriringan dengan kemampuan mendengarkan.

Public listening atau kemampuan mendengarkan di ruang publik tidak berarti sekadar diam ketika orang lain berbicara. Mendengarkan berarti memberikan perhatian, memahami konteks, berpikir kritis, dan menghargai sudut pandang yang sedang disampaikan.

Jika kita hanya sibuk melatih kemampuan berbicara tetapi lupa melatih kemampuan mendengarkan, komunikasi tidak akan berjalan secara utuh.

Mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya, “Bagaimana agar seseorang bisa menjadi pembicara yang hebat?”, tetapi juga bertanya, “Bagaimana agar kita bisa menjadi audiens yang mampu mendengarkan dengan baik?”

Sebab, gagasan yang baik membutuhkan dua hal: orang yang mampu menyampaikannya dan orang yang bersedia benar-benar mendengarkannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image