Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rafa Mufidah

Dolar Menguat, Rupiah Melemah, IHSG Merah: Apa yang Sedang Terjadi?

Politik | 2026-09-18 11:02:00

Pada Kamis (17/9/2026), rupiah ditutup pada level Rp17.753 per dolar AS, melemah sekitar 0,32 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah juga menunjukkan tren pelemahan dalam beberapa hari terakhir, dari Rp17.611 per dolar AS pada 11 September menjadi Rp17.753 pada 17 September.

Di pasar saham, kondisi bergerak lebih dinamis. IHSG memang ditutup menguat 0,40 persen ke level 6.462,43 pada 17 September. Namun, penguatan tersebut terjadi setelah IHSG mengalami penurunan selama enam hari perdagangan berturut-turut. Sehari sebelumnya, indeks turun 0,38 persen ke level 6.436,85.

Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan: mengapa rupiah tertekan dan pasar saham sempat mengalami koreksi?

The Fed Kembali Menjadi Perhatian

Salah satu faktor utama berasal dari Amerika Serikat.

Federal Reserve atau The Fed pada 16 September 2026 memutuskan menaikkan target suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Bank sentral AS menyatakan aktivitas ekonomi masih berkembang dengan solid, sementara inflasi tetap berada pada tingkat yang perlu diperhatikan.

Kebijakan suku bunga AS memiliki pengaruh besar terhadap pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika imbal hasil aset dalam dolar AS menjadi lebih menarik, investor global dapat melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur pada aset negara berkembang.

Dampaknya dapat terlihat melalui tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Pelemahan rupiah pada 17 September juga terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia lainnya. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi AS sebagai faktor yang menekan rupiah.

Dengan kata lain, pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Pergerakannya berkaitan erat dengan kondisi pasar global dan bagaimana investor membaca arah kebijakan moneter AS.

Mengapa IHSG Ikut Tertekan?

Foto oleh Defrino Maasy dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/penukaran-rupiah-indonesia-dalam-tampilan-jarak-dekat-38429810/

Hubungan antara nilai tukar dan pasar saham tidak selalu sederhana. Rupiah yang melemah tidak otomatis membuat IHSG turun, tetapi perubahan nilai tukar dapat memengaruhi persepsi investor terhadap risiko dan prospek perusahaan.

Bagi perusahaan yang memiliki kewajiban atau kebutuhan bahan baku dalam dolar AS, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya dalam rupiah. Sebaliknya, perusahaan berorientasi ekspor dapat memperoleh manfaat tertentu karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih tinggi ketika dikonversikan ke rupiah.

Di sisi lain, pasar saham sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Ketika suku bunga AS meningkat, investor dapat menjadi lebih selektif dalam menempatkan dana di aset berisiko.

Tekanan tersebut terlihat pada IHSG sepanjang pertengahan September. Pada 16 September, indeks tercatat melemah 0,38 persen dan memperpanjang koreksi menjadi enam hari perdagangan berturut-turut. Namun, pada perdagangan berikutnya IHSG kembali menguat 0,40 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya merespons satu faktor. Investor juga mempertimbangkan valuasi saham, kinerja emiten, kondisi ekonomi domestik, harga komoditas, serta perkembangan geopolitik.

Harga Minyak dan Geopolitik Menambah Ketidakpastian

Selain kebijakan The Fed, harga energi dan kondisi geopolitik global turut menjadi perhatian.

Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan kepada negara pengimpor energi melalui meningkatnya biaya impor. Bagi Indonesia, kondisi tersebut juga memiliki implikasi terhadap anggaran negara karena perubahan harga energi dapat memengaruhi kebutuhan subsidi dan kompensasi.

Ketidakpastian geopolitik juga dapat mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman. Perubahan arus modal tersebut kemudian dapat memengaruhi nilai tukar dan pasar saham negara berkembang.

Bank Indonesia sebelumnya telah menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu perhatian utama dalam kebijakan moneternya. Pada Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen, dengan salah satu pertimbangannya adalah menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global.

Bagaimana dengan Ekonomi Indonesia?

Tekanan terhadap rupiah dan IHSG tidak serta-merta berarti perekonomian Indonesia sedang mengalami krisis.

Pasar keuangan memang dapat bergerak cepat merespons sentimen global. Namun, kondisi ekonomi riil memiliki indikator yang lebih luas, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi masyarakat, investasi, perdagangan, dan kondisi ketenagakerjaan.

Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen dalam keputusan Agustus 2026 dan menyatakan kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. BI juga mencatat inflasi Juli 2026 sebesar 2,88 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran inflasi 2026–2027 sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027, dengan investasi menjadi salah satu penggerak yang ingin diperkuat.

Artinya, tekanan pasar keuangan saat ini perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas. Pelemahan rupiah dan koreksi IHSG merupakan sinyal bahwa pasar sedang menghadapi ketidakpastian, tetapi belum cukup untuk menggambarkan seluruh kondisi perekonomian Indonesia.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Pergerakan rupiah mungkin terlihat sebagai persoalan pasar keuangan yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, nilai tukar pada akhirnya dapat memengaruhi masyarakat melalui berbagai saluran.

Ketika rupiah melemah, barang dan bahan baku yang bergantung pada impor dapat menjadi lebih mahal. Perusahaan yang menggunakan komponen impor juga dapat menghadapi kenaikan biaya produksi. Jika biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga barang dapat ikut meningkat.

Pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi biaya perjalanan ke luar negeri, pendidikan, serta berbagai kebutuhan yang pembayarannya menggunakan dolar AS.

Namun, dampaknya tidak selalu langsung dan tidak selalu sama untuk seluruh masyarakat. Perusahaan eksportir, misalnya, dapat memperoleh keuntungan dari pendapatan valuta asing ketika dikonversikan ke rupiah.

Karena itu, pengaruh pelemahan rupiah perlu dilihat berdasarkan sektor dan struktur bisnis masing-masing perusahaan.

Pasar Keuangan Masih Akan Dipengaruhi Kebijakan Bank Sentral

Perhatian pasar kini tidak berhenti pada keputusan The Fed. Investor juga akan mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas rupiah dan kebutuhan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Rupiah yang berada di sekitar Rp17.700-an per dolar AS menunjukkan besarnya tantangan stabilitas nilai tukar. Sementara itu, IHSG yang sempat mengalami koreksi panjang sebelum kembali menguat menunjukkan bahwa sentimen investor masih mudah berubah.

Di tengah kondisi tersebut, perkembangan suku bunga global, imbal hasil obligasi AS, harga minyak, geopolitik, serta kebijakan ekonomi domestik akan menjadi faktor yang terus diperhatikan pasar.

Dengan demikian, fenomena dolar menguat, rupiah melemah, dan IHSG tertekan bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan bagian dari hubungan yang kompleks antara kebijakan moneter global, arus modal, kondisi ekonomi domestik, dan persepsi investor terhadap risiko.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah menjaga stabilitas tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan. Sementara bagi masyarakat, perkembangan tersebut penting untuk dipantau karena perubahan di pasar keuangan pada akhirnya dapat memengaruhi harga, biaya usaha, investasi, dan daya beli.

Pasar mungkin bergerak dalam hitungan menit. Namun, dampak ekonominya dapat dirasakan jauh lebih lama

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image