Ketika Geser Jadi Beban Mahasiswa
Gaya Hidup | 2026-09-13 14:25:22Kata "geser" sudah tidak asing lagi diperbincangkan di era Gen Z. Bukan sekadar berpindah tempat secara fisik, "geser" adalah kode tidak tertulis sehabis jam kuliah selesai: "Pindah tongkrongan yuk, ngerjain tugas!"
Dari kafe dekat kampus, geser ke coffee shop kekinian, lalu berakhir di tempat makan malam hingga larut. Awalnya, tradisi ini menjadi ajang pelepas penat, diskusi kelompok, hingga membangun jejaring sosial. Namun, di tengah kondisi ekonomi saat ini—di mana harga bahan pokok naik, tarif transportasi melambung, dan harga secangkir kopi semakin tidak ramah—budaya "geser" menjadi tantangan finansial tersendiri bagi kantong mahasiswa. Berdasarkan data BPS Juli 2026, inflasi inti mencapai 3,1%. Imbasnya, harga kopi di coffee shop Surabaya kini tembus Rp30.000 per gelas. Padahal 3 tahun lalu masih Rp18.000.
Tantangan terbesar terletak pada sisi psikologis dan emosional. Menolak ajakan "geser" kerap memicu rasa segan, khawatir dianggap tidak solid, atau diliputi perasaan FOMO (Fear of Missing Out).
Mahasiswa sering kali berada di persimpangan jalan: ikut "geser" dengan konsekuensi keuangan menipis, atau menetap/pulang tetapi merasa terisolasi dari pergaulan teman sebaya. "Jujur aku sering ikut kelompokan walau dompet kosong. Pinjam ke temen dulu, bayarnya nunggu kiriman bulan depan. Malu kalau nggak ikut, nanti pas ada info lomba/tugas aku nggak dikasih tau" - Mahasiswa FISIP UNAIR, 21 tahun.
Akhirnya, kafe menjadi pilihan terpaksa. Mahasiswa menyisihkan sisa uang makan harian bahkan kadang merelakan jatah makan siang hanya untuk membeli sekadar produk termurah di menu demi "menyewa" meja, kursi, dan pendingin udara selama beberapa jam. Ini adalah bentuk komodifikasi ruang: kenyamanan dan fasilitas dasar untuk belajar kini harus dibeli dengan rupiah. Situasi ini menegaskan adanya jurang pemisah sosial antara mahasiswa yang mampu menjadikan kafe sebagai gaya hidup, dengan mahasiswa yang terpaksa menjadikan kafe sebagai sarana bertahan hidup secara akademis.
Ironisnya “geser” sudah tidak hanya digunakan dalam pertemanan, namun dalam organisasi, tugas berkelompok hingga kepanitiaan yang mengharuskan mahasiswa mengeluarkan uang makan 3x dalam satu hari harus habis dalam sekejap untuk membeli minuman supaya tidak tertinggal pembahasan. Tentu ini tidak adil bagi mahasiswa kecil yang memiliki budget terbatas. Hal ini memicu mereka yang berprestasi namun tidak berkecukupan harus memundurkan langkahnya karena tidak memiliki uang yang cukup.
Aktivitas "geser" atau pindah tongkrongan sehabis kuliah adalah bagian dari dinamika sosial masa muda yang memberikan banyak kenangan dan interaksi berharga. Namun di era serba mahal ini, mahasiswa dituntut untuk lebih cerdas dalam mengelola keseimbangan antara kehidupan sosial dan kesehatan finansial. Menikmati kebersamaan bersama teman tidak harus berarti mengorbankan kestabilan kantong sendiri. Dengan ini harapan kedepan-nya semoga mahasiswa mengerti bahwa mengobrol tidak perlu mengeluarkan uang dengan nominal yang lumayan menguras kantong. Pihak kampus bias lebih meminimalisir hal ini dengan membuka tempat ruang diskusi 24 jam di area kampus bias juga dengan Gerakan nongkrong produktif 0 rupiah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
