Jangan Cuma Percaya Katanya! Begini Cara Data dan Riset Menentukan Kesehatan Indonesia
Info Sehat | 2026-08-31 18:21:47
Pernah melihat informasi kesehatan di media sosial lalu bertanya, “Ini benar nggak sih?”
Di era ketika informasi kesehatan dapat disebarkan hanya dalam hitungan detik, kemampuan membedakan fakta dan opini menjadi semakin penting. Sebab, keputusan mengenai kesehatan masyarakat tidak seharusnya dibuat hanya berdasarkan “katanya”.
Di balik program kesehatan, kebijakan pemerintah, hingga pelayanan di fasilitas kesehatan, terdapat tiga hal yang sangat penting: data, penelitian, dan bukti ilmiah. Salah satu sumber data penting tersebut adalah Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
???? SKI: Indonesia Sedang “Bercerita” Lewat Data
SKI 2023 bukan sekadar kumpulan angka. Survei ini dirancang untuk menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia secara lebih komprehensif. SKI 2023 mengintegrasikan Riskesdas dan Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGI). Data yang dikumpulkan mencakup berbagai aspek, mulai dari penyakit menular dan tidak menular, status gizi, kesehatan ibu dan anak, kesehatan jiwa, kesehatan gigi dan mulut, perilaku kesehatan, lingkungan, hingga akses pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, ketika kita melihat sebuah angka dalam laporan kesehatan, angka tersebut sebenarnya sedang menceritakan kondisi masyarakat.
Misalnya, SKI 2023 menemukan bahwa 27,8% penduduk Indonesia belum memiliki jaminan kesehatan. Data seperti ini dapat menjadi sinyal bahwa persoalan akses pelayanan kesehatan masih perlu mendapat perhatian.
????Tetapi, Apakah Saja Data Cukup? Tidak.
Data dapat menunjukkan apa yang terjadi, tetapi penelitian membantu kita memahami mengapa hal tersebut terjadi dan apa yang dapat dilakukan. Misalnya, jika suatu wilayah memiliki angka masalah kesehatan yang tinggi, kita tidak boleh langsung menyimpulkan alasannya. Peneliti perlu menggali berbagai kemungkinan:
1. Apakah masyarakat sulit mendapatkan pelayanan kesehatan?
2. Apakah terdapat faktor lingkungan?
3. Bagaimana kondisi sosial dan ekonomi masyarakat?
4. Bagaimana pola perilaku dan gaya hidup?
5. Apakah informasi kesehatan sudah tersampaikan dengan baik?
Di sini penelitian kesehatan mengambil peran. Riset mengubah angka menjadi pertanyaan, kemudian pertanyaan tersebut dicari jawabannya melalui metode ilmiah.
???? Dari “Menurut Saya” Menjadi “Apa Buktinya?”
Bayangkan seorang tenaga kesehatan harus menentukan intervensi untuk masyarakat. Pilihan pertama:
“Menurut pengalaman saya, cara ini biasanya berhasil.”
Pilihan kedua:
“Berdasarkan penelitian, cara ini memiliki bukti efektivitas dan sesuai dengan kondisi masyarakat.”
Tentu saja, keputusan tidak menentukan pilihan kalimat kedua. Namun, pola berpikir inilah yang menjadi dasar Praktik Berbasis Bukti (EBP).
EBP menggabungkan bukti ilmiah terbaik yang tersedia, keahlian profesional, serta nilai dan kondisi pasien atau masyarakat dalam pengambilan keputusan.
Jadi, praktik berbasis bukti tidak berarti “semua harus berdasarkan angka”. Justru, bukti ilmiah perlu diterjemahkan dengan mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan.
???? Data → Riset → Bukti → Aksi
Siklus ini penting karena program kesehatan tidak seharusnya berhenti ketika telah dilaksanakan.
Kementerian Kesehatan sendiri menempatkan data SKI sebagai bahan untuk menyusun, menyiarkan, dan menyusun rekomendasi kebijakan kesehatan berdasarkan bukti. (BKPK Kemenkes)
???? Mengapa Ini Penting bagi Kita?
Mungkin kita berpikir bahwa data kesehatan hanya penting bagi dokter, peneliti, atau pemerintah. Padahal, kita semua adalah bagian dari data tersebut. Ketika masyarakat memahami data kesehatan, kita menjadi lebih kritis dalam menerima informasi. Ketika peneliti menghasilkan bukti yang berkualitas, tenaga kesehatan memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan. Dan ketika pemerintah menggunakan data serta bukti dalam membuat kebijakan, program kesehatan dapat diarahkan agar lebih tepat sasaran.
SKI 2023 bahkan mengumpulkan informasi melalui wawancara, pengukuran, dan pemeriksaan sehingga data yang dihasilkan tidak hanya berasal dari persepsi masyarakat.
???? Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan?
Memulai dari kebiasaan sederhana:
1. Jangan langsung percaya.
2. Jangan langsung menyebarkan.
3. Cek sumbernya.
4. Lihat datanya.
5. Cari buktinya.
Di tengah banjir informasi kesehatan, pertanyaan sederhana seperti “Apa buktinya?” dapat menjadi langkah kecil untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari informasi yang salah. Karena kesehatan masyarakat tidak boleh dibangun berdasarkan asumsi.
* Data memberi kita gambaran.
* Riset memberi kita pemahaman.
* Bukti ilmiah memberi kita dasar.
* tindakan yang tepat menciptakan perubahan.
Pada akhirnya, tujuan dari semua data dan penelitian bukanlah sekadar memenuhi tabel atau menghasilkan laporan. Tujuannya adalah membuat kehidupan manusia menjadi lebih sehat.
Dari data menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan menjadi kebijakan. Dari kebijakan menjadi aksi. Dan dari aksi tersebut, lahirlah masyarakat yang lebih sehat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
