Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Aku Hanya Ingin Ridhomu ya Allah

Agama | 2026-08-14 04:58:07

Abdul Hadi tamba.

Aku hanya ingin ridhomu ya Allah.

Dalam pandangan kami ungkapan "Aku hanya ridha pada-Mu ya Allah, mencerminkan puncak keikhlasan dan makam (maqam) cinta tertinggi (mahabbah).

Seorang sufi memandang bahwa tujuan akhir ibadah bukanlah pahala atau takut neraka, melainkan semata-mata mencari keridaan Allah SWT sebagai bentuk cinta yang tulus.

Dalil Al-Qur'anSurat Al-Bayyinah Ayat 8:

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

"Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya.

Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya."

Makna Tasawuf:

Ayat ini menunjukkan hubungan timbal balik spiritual.

Ketika seorang hamba rela dan puas dengan ketetapan Allah (ridha kepada Allah), maka Allah memberikan balasan berupa keridaan-Nya (ridha Allah kepada hamba).

Surat At-Taubah Ayat 72:

وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيم

"Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itulah keberuntungan yang paling besar.

Makna Tasawuf: Kenikmatan rohani terbesar bagi ahli tasawuf bukanlah surga atau kenikmatan fisik di dalamnya, melainkan keridaan Allah SWT itu sendiri.

Hadis PendukungHadis Riwayat Muslim:

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُ

Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai nabi dan rasulnya.

(HR. Muslim)Makna Tasawuf:

Kelezatan iman (halawatul iman) dapat dicapai jika hati seseorang sudah merasa cukup dan rela terhadap segala bentuk pengaturan, takdir, serta syariat dari Allah SWT.

Hadis Riwayat Tirmidzi:

مَنْ لِتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ

"Barangsiapa yang mencari ridha Allah meskipun manusia murka, maka Allah akan mencukupkan dia dari beban manusia.

(HR. Tirmidzi)

Makna Tasawuf:

Prinsip kemandirian hati (fana dari selain Allah) di mana orientasi hidup mutlak hanya kepada Sang Pencipta, bukan penilaian makhluk.

Fatwa dan Pandangan Ulama Muktabar Imam Al-Qusyairi (dalam Risalah al-Qusyairiyyah):

Menjelaskan bahwa maqam ridha adalah kedudukan mulia di mana seorang hamba tidak lagi menentang takdir, tidak merasa keberatan atas cobaan, dan melihat bahwa segala sesuatu yang datang dari Allah adalah pilihan terbaik bagi dirinya.

Ridha berarti lenyapnya rasa benci di dalam hati terhadap apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Imam Al-Ghazali (dalam Ihya 'Ulumuddin):

Menyebutkan bahwa buah dari cinta (mahabbah) adalah keridaan (ridha).

Orang yang mencintai Allah tidak akan meminta pilihan lain selain apa yang dipilihkan oleh Kekasihnya (Allah SWT).

Baginya, pahala atau surga adalah bonus sekunder, sedangkan perhatian utamanya adalah kelayakan di hadapan pandangan Allah.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani (dalam Fath al-Rabbani):

Berpesan agar seorang hamba melepaskan kebergantungan kepada makhluk dan dunia.

Wahai hamba, jadikan niat dan gerak gerik hatimu hanya untuk Allah.

Jika engkau beramal demi selain-Nya, engkau akan lelah.

Namun jika engkau beramal demi ridha-Nya, Allah akan mendekap hatimu dalam kedamaian abadi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image