Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Riza Abditya Wijaya

Calon Tunggal Gubernur BI: Antara Kepastian, Kredibilitas, dan Independensi

Update | 2026-08-10 20:23:30

Di dunia pelayaran, nahkoda sering kali baru benar-benar diuji bukan ketika laut tenang, melainkan ketika ombak datang bertubi-tubi. Kapal yang baik tidak hanya membutuhkan arah yang jelas, tetapi juga pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan di tengah gelombang. Analogi tersebut cukup relevan untuk menggambarkan pencalonan tunggal Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Perhatian publik bukan semata tertuju pada siapa yang akan memimpin bank sentral, melainkan bagaimana kepemimpinan tersebut akan menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah lanskap global yang semakin tidak menentu.

Gambar: Museum Bank Indonesia

Menariknya, respons pasar pada hari pencalonan Destry Damayanti justru memperlihatkan dinamika yang tidak sepenuhnya searah. Pada perdagangan Senin (10/8/2026), nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,79% ke level Rp17.755 per dolar AS. Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melemah 0,69% atau 44,28 poin ke level 6.365,37. Dengan kata lain, pasar valuta asing dan pasar saham membaca informasi yang sama melalui lensa yang berbeda.

Sekilas, kondisi tersebut tampak kontradiktif. Namun, pasar keuangan memang tidak selalu berbicara dalam satu bahasa. Penguatan rupiah mengindikasikan bahwa sebagian pelaku pasar melihat pencalonan Destry sebagai sinyal keberlanjutan kebijakan moneter dan faktor yang dapat memperkuat stabilitas nilai tukar. Sebaliknya, pelemahan IHSG menunjukkan bahwa investor saham masih mempertimbangkan berbagai faktor lain—mulai dari arus modal global, prospek laba emiten, hingga dinamika ekonomi domestik—yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh pergantian kepemimpinan bank sentral. Dengan demikian, akan terlalu sederhana jika seluruh pergerakan pasar pada hari itu dikaitkan semata-mata dengan pencalonan Gubernur BI.

Perbedaan respons tersebut justru menjadi pengingat bahwa pasar bekerja layaknya kompas yang dipengaruhi banyak arah angin. Pergantian kepemimpinan bank sentral memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan pelaku pasar. Arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia, perkembangan konflik geopolitik, prospek pertumbuhan ekonomi domestik, hingga kondisi fiskal pemerintah turut membentuk ekspektasi investor. Karena itu, pencalonan seorang Gubernur BI sebaiknya dipahami bukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya menjaga kesinambungan kebijakan di tengah lingkungan global yang semakin kompleks.

Pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal membawa satu pesan yang relatif jelas, yakni kepastian. Dalam ekonomi, kepastian memiliki nilai yang sangat mahal. Ketika pelaku usaha mengetahui arah kebijakan yang akan ditempuh, mereka lebih percaya diri mengambil keputusan investasi. Ketika investor melihat transisi kepemimpinan berlangsung mulus, persepsi risiko cenderung menurun. Bahkan masyarakat umum pun memperoleh keyakinan bahwa institusi strategis tetap berjalan tanpa gejolak.

Bagi pelaku usaha, kepastian bukan sekadar konsep abstrak. Kepastian memengaruhi keberanian perusahaan memperluas investasi, menentukan kebutuhan pembiayaan, hingga menyusun rencana bisnis jangka panjang. Bagi investor portofolio, kepastian mengurangi premi risiko yang harus diperhitungkan ketika menempatkan dana di suatu negara. Semakin dapat diprediksi arah kebijakan, semakin kecil ruang bagi spekulasi yang dapat memperbesar volatilitas pasar.

Sejarah menunjukkan bahwa pasar sering kali lebih sensitif terhadap ketidakpastian dibandingkan terhadap kebijakan itu sendiri. Sebuah kebijakan yang belum tentu sempurna kadang lebih mudah diterima dibanding situasi ketika arah kebijakan sama sekali tidak jelas. Dalam perspektif ini, pencalonan tunggal dapat dipandang sebagai faktor yang membantu menjaga kesinambungan kebijakan moneter Indonesia.

Namun, kepastian saja tidak pernah cukup.

Bank sentral bukan hanya membutuhkan pemimpin. Dalam dunia bank sentral, kredibilitas sesungguhnya adalah modal kebijakan yang tidak tercatat dalam neraca keuangan. Ketika masyarakat dan pelaku pasar percaya bahwa bank sentral akan konsisten menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar, ekspektasi ekonomi akan bergerak lebih terarah. Sebaliknya, apabila kredibilitas melemah, bahkan kebijakan yang secara teknis tepat dapat kehilangan efektivitas karena pasar tidak lagi mempercayai komitmen pembuat kebijakan. Dengan kata lain, kepercayaan adalah instrumen kebijakan yang sama pentingnya dengan suku bunga.

Dalam aspek ini, Destry Damayanti memiliki modal yang tidak kecil. Pengalamannya sebagai ekonom, anggota Komisi XI DPR, serta Deputi Gubernur Senior BI memberikan pemahaman yang luas mengenai hubungan antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan dinamika pasar. Pengalaman tersebut berpotensi memperkecil biaya pembelajaran (learning curve) yang biasanya muncul pada pergantian kepemimpinan.

Namun demikian, pengalaman panjang juga menghadirkan ekspektasi yang lebih besar. Publik tidak hanya berharap adanya kesinambungan, tetapi juga kemampuan menjawab tantangan baru yang berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dunia pascapandemi tidak sama dengan dunia satu dekade lalu. Digitalisasi sistem pembayaran berkembang sangat cepat, arus modal menjadi semakin sensitif terhadap perubahan global, sementara tekanan geopolitik semakin sulit diprediksi.

Artinya, keberhasilan seorang gubernur BI tidak cukup hanya mempertahankan kebijakan yang telah berjalan baik. Ia juga dituntut mampu beradaptasi terhadap tantangan yang terus berubah.

Tantangan tersebut bahkan berpotensi lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu. Ketidakpastian arah suku bunga global masih membayangi arus modal ke negara berkembang. Fragmentasi perdagangan dunia akibat rivalitas geopolitik membuat rantai pasok internasional tidak lagi seefisien sebelumnya. Di dalam negeri, transformasi digital mengubah cara masyarakat bertransaksi, sementara inovasi sistem pembayaran berkembang jauh lebih cepat daripada perubahan regulasi.

Dalam situasi seperti ini, tugas Bank Indonesia tidak lagi sebatas menjaga inflasi atau nilai tukar rupiah. Bank sentral juga dituntut memastikan sistem pembayaran tetap aman dan efisien, memperkuat stabilitas sistem keuangan bersama otoritas lain, serta menjaga agar transmisi kebijakan moneter tetap efektif di tengah perubahan perilaku ekonomi masyarakat. Kompleksitas inilah yang membuat kualitas kepemimpinan menjadi semakin menentukan.

Di sisi lain, hubungan antara pemerintah dan bank sentral juga akan terus diuji. Koordinasi kebijakan menjadi semakin penting karena tantangan ekonomi tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Namun koordinasi yang erat tidak boleh dimaknai sebagai hilangnya batas kewenangan. Pemerintah membutuhkan ruang untuk menjalankan kebijakan fiskal, sementara Bank Indonesia memerlukan independensi agar dapat mengambil keputusan moneter berdasarkan kondisi ekonomi, bukan pertimbangan politik jangka pendek.

Di sinilah keseimbangan menjadi kata kunci. Terlalu jauh menjaga jarak dapat membuat bauran kebijakan kehilangan efektivitas. Sebaliknya, koordinasi yang terlalu dekat berisiko menimbulkan persepsi bahwa independensi bank sentral melemah. Menemukan titik temu di antara kedua kepentingan tersebut akan menjadi salah satu ujian terbesar bagi kepemimpinan BI ke depan

Di sinilah isu independensi menjadi sangat penting.

Bank Indonesia dirancang sebagai lembaga independen agar kebijakan moneter tidak dipengaruhi kepentingan politik jangka pendek. Tujuannya sederhana tetapi fundamental: menjaga stabilitas ekonomi memerlukan keputusan yang terkadang tidak populer. Ketika inflasi meningkat, misalnya, bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga meskipun langkah tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek. Sebaliknya, ketika ekonomi melemah, bank sentral perlu memberikan ruang bagi pemulihan meskipun terdapat risiko terhadap stabilitas harga.

Keputusan-keputusan semacam itu hanya dapat diambil apabila independensi institusi benar-benar terjaga.

Sebagian kalangan memandang pencalonan tunggal sebagai sinyal bahwa proses seleksi menjadi kurang kompetitif. Dalam pandangan ini, minimnya alternatif dapat mengurangi ruang publik untuk membandingkan visi, strategi, maupun pendekatan kebijakan dari beberapa kandidat. Kekhawatiran tersebut bukanlah sesuatu yang dapat diabaikan begitu saja karena dalam negara demokrasi, proses seleksi yang terbuka memang memiliki nilai tersendiri.

Namun demikian, keberadaan calon tunggal tidak secara otomatis mengurangi kualitas kepemimpinan ataupun independensi institusi. Kompetisi bukan satu-satunya sumber legitimasi. Yang jauh lebih menentukan adalah kualitas proses pengujian publik, transparansi rekam jejak, kapasitas profesional, serta mekanisme checks and balances setelah gubernur terpilih menjalankan tugasnya. Dengan kata lain, fokus seharusnya tidak berhenti pada jumlah kandidat, melainkan pada kemampuan institusi memastikan bahwa pemimpin yang dipilih benar-benar memenuhi standar profesionalisme dan akuntabilitas.

Argumen lain yang kerap muncul adalah bahwa kesinambungan kepemimpinan dapat membuat BI menjadi terlalu berhati-hati sehingga kurang inovatif dalam merespons perubahan. Pandangan ini memiliki dasar yang patut dipertimbangkan. Institusi yang terlalu nyaman dengan pendekatan lama memang berisiko terlambat membaca perubahan.

Akan tetapi, inovasi juga tidak identik dengan perubahan yang drastis. Dalam dunia kebijakan moneter, perubahan yang terlalu cepat justru dapat menciptakan ketidakpastian baru. Seperti seorang dokter yang menangani pasien, keberhasilan terapi tidak selalu ditentukan oleh obat yang paling baru, melainkan oleh ketepatan diagnosis dan dosis yang sesuai. Demikian pula bank sentral: inovasi harus berjalan berdampingan dengan kehati-hatian agar stabilitas tetap terjaga.

Karena itu, tantangan terbesar bagi gubernur BI mendatang bukan memilih antara stabilitas atau perubahan, melainkan menemukan titik keseimbangan di antara keduanya.

Pada akhirnya, publik tidak akan menilai kepemimpinan BI berdasarkan bagaimana proses pencalonannya dimulai, tetapi melalui hasil yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Inflasi yang tetap terkendali, nilai rupiah yang stabil, sistem pembayaran yang semakin efisien, dan sektor keuangan yang tetap sehat merupakan ukuran yang jauh lebih bermakna dibandingkan dinamika politik di awal proses seleksi.

Pada akhirnya, publik tidak akan menilai keberhasilan Gubernur Bank Indonesia dari banyaknya pesaing dalam proses pencalonan ataupun dinamika politik yang mengiringinya. Ukuran sesungguhnya jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: apakah inflasi tetap terkendali, rupiah mampu menjaga daya tahannya di tengah gejolak global, sistem pembayaran semakin efisien, serta kepercayaan masyarakat terhadap institusi tetap terpelihara. Itulah tolok ukur yang akan dikenang sejarah.

Kepastian memberikan fondasi. Kredibilitas menumbuhkan kepercayaan. Independensi memastikan setiap keputusan diambil demi kepentingan ekonomi nasional, bukan kepentingan sesaat. Ketiganya ibarat tiga jangkar yang menjaga kapal tetap stabil ketika ombak datang dari berbagai arah.

Pencalonan tunggal Destry Damayanti memang menandai dimulainya babak baru Bank Indonesia. Namun pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat apakah seorang gubernur terpilih melalui persaingan banyak kandidat atau sebagai calon tunggal. Sejarah akan mengingat apakah pada masanya Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas, memperkuat kepercayaan, dan mengantarkan perekonomian Indonesia tetap berlayar dengan tenang di tengah samudra global yang tidak pernah benar-benar teduh

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image