Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Universitas Ahmad Dahlan

Meneladani Sejarah Kemerdekaan, Menjaga Optimisme Bangsa

Agama | 2026-08-10 14:15:45
Kajian rutin Ahad Pagi Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dengan pembicara Hendra Darmawan, S.Pd., M.A. (Foto. Itoshiko)

Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menggelar Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 9 Agustus 2026. Menyambut suasana bulan kemerdekaan, kajian kali ini menghadirkan perwakilan Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Hendra Darmawan, S.Pd., M.A., yang mengusung tema reflektif bertajuk "Kemerdekaan dan Optimisme dalam Ketidakpastian". Di hadapan para jemaah, ia mengurai benang merah antara sejarah perjuangan bangsa, realitas karut-marut tata kelola negara hari ini, dan bagaimana umat Islam harus merawat optimisme.

Membuka kajiannya, Hendra Darmawan mengajak jemaah untuk kembali menengok sejarah perumusan dasar negara di masa-masa awal pembentukan Republik Indonesia. Ia menyoroti pengorbanan besar para pendiri bangsa, salah satunya tokoh Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo.

Dalam dinamika sidang BPUPKI, Ki Bagus dengan lapang dada bersedia menurunkan egonya dan berkorban dengan mencoret "tujuh kata" dalam Piagam Jakarta demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya untuk merangkul wilayah Indonesia Timur.

Menurut Hendra, fondasi bernegara ini telah diletakkan dengan sangat apik dan penuh keteladanan oleh para pendahulu bangsa yang memosisikan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (negara kesepakatan dan pembuktian).

Namun, Hendra menyayangkan realitas kebangsaan hari ini yang sering kali paradoks dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan tersebut. Ia mengutip pandangan ilmuwan yang menyebut Indonesia sebagai unfinished nation atau negara yang belum selesai, lantaran maraknya perilaku penyelenggara negara yang menyimpang.

Fenomena aparat penegak hukum yang justru melanggar hukum, pengelolaan negara yang amburadul, hingga fakta ketimpangan ekonomi di mana kekayaan 50 oligarki setara dengan harta 50 juta rakyat Indonesia, menjadi sorotan tajam. Kondisi ini membuat negara seakan bergeser dari negara hukum menjadi negara kekuasaan, di mana hawa nafsu dan keserakahan elite tak terbendung layaknya ketiadaan rasa takut kepada Tuhan dan kematian.

Menghadapi ironi kemerdekaan tersebut, pemateri menekankan pentingnya memaknai kembali konsep Jihad Akbar seperti yang diajarkan Rasulullah saw. usai Perang Badar, yakni jihad melawan hawa nafsu diri sendiri. Keserakahan manusia yang tidak terkendali dinilai jauh lebih merusak tatanan kehidupan dibandingkan kebuasan makhluk lainnya.

Meski dihadapkan pada ketidakpastian dan kemungkaran sosial, Hendra mengingatkan umat Islam untuk pantang berputus asa. Mengutip pesan Al-Qur'an surah Az-Zumar, ia mengajak jemaah untuk merawat optimisme melalui jalan an-naubah, yakni sebuah proses kembali dan berserah diri secara totalitas kepada Allah Swt. untuk memperbaiki keadaan tanpa mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. (Ito)

uad.ac.id

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image