Brain Rot dan Krisis Fokus: Saat Layar Merebut Cara Kita Mengenal Diri
Gaya Hidup | 2026-08-09 17:32:17Coba jujur ke diri sendiri: kapan terakhir kali kamu duduk diam selama sepuluh menit tanpa menggenggam ponsel? Bukan buat kerja, bukan buat balas chat, cuma diam. Kalau kamu susah menjawabnya, kamu tidak sendirian. Oxford Dictionary bahkan menobatkan “brain rot” sebagai kata tahun 2024, istilah slang yang menggambarkan kondisi mental yang terasa “tumpul” akibat terlalu banyak mengonsumsi konten receh secara berlebihan di media sosial. Fenomena ini bukan cuma bahan candaan di Twitter atau TikTok. Ia menyentuh sesuatu yang jauh lebih mendasar: bagaimana kita mengenal diri sendiri di tengah banjir distraksi digital yang tak pernah berhenti.
Saya sendiri mengalaminya. Ada masa ketika saya membuka ponsel cuma untuk cek satu notifikasi, dan tanpa sadar sudah scroll 45 menit menonton video-video pendek yang bahkan tidak saya ingat isinya lima menit kemudian. Yang tersisa cuma rasa lelah yang aneh ,bukan lelah fisik, tapi lelah yang lebih mirip kekosongan. Psikolog menyebut ini sebagai efek dari overstimulasi kognitif: otak yang terus-menerus dibombardir rangsangan pendek dan cepat berganti akan kehilangan kapasitasnya untuk fokus pada satu hal dalam waktu lama. Ironisnya, semakin sering kita melarikan diri ke layar untuk “istirahat”, semakin lelah pula kapasitas berpikir kita.
Di sinilah persoalan self concept mulai relevan. Menurut teori konsep diri yang dikembangkan Carl Rogers, gambaran tentang siapa diri kita terbentuk dari pengalaman dan refleksi yang kita jalani dari waktu ke waktu. Masalahnya, ketika waktu luang kita nyaris seluruhnya terserap algoritma, ruang untuk refleksi itu ikut menyempit. Kita jadi lebih banyak tahu tentang tren yang sedang viral ketimbang tentang apa yang sebenarnya kita rasakan atau inginkan. Konsep diri yang seharusnya tumbuh dari perenungan justru terbentuk dari pantulan konten yang lewat begitu saja di linimasa.
Masalah kedua adalah critical thinking. Ketika otak terbiasa mengonsumsi informasi dalam potongan lima belas detik, kemampuan untuk menganalisis sesuatu secara mendalam ikut tergerus. Kita jadi lebih mudah percaya judul yang bombastis tanpa membaca isi, lebih cepat menyimpulkan tanpa menimbang, lebih gampang terprovokasi tanpa mengecek fakta. Berpikir kritis membutuhkan jeda ,waktu untuk mempertanyakan, membandingkan, dan menimbang. Budaya scrolling tanpa henti justru menghapus jeda itu, dan menggantinya dengan reaksi instan.
Untungnya, ada jalan keluar yang sebetulnya sederhana, meski tidak mudah dijalani: mindfulness. Jon Kabat-Zinn, salah satu tokoh yang memperkenalkan mindfulness ke dunia modern, mendefinisikannya sebagai kesadaran penuh terhadap momen saat ini, tanpa menghakimi. Ini bukan soal harus meditasi satu jam setiap pagi atau menjauh total dari gawai. Mindfulness bisa sesederhana benar-benar hadir saat makan tanpa sambil scroll, atau meluangkan lima menit sebelum tidur untuk sekadar bertanya pada diri sendiri: hari ini aku merasa apa, dan kenapa?
Fenomena brain rot sebetulnya adalah alarm. Ia mengingatkan bahwa teknologi yang katanya dirancang untuk mendekatkan kita justru bisa menjauhkan kita dari diri sendiri kalau dikonsumsi tanpa kesadaran. Bukan berarti kita harus anti media sosial atau balik ke ponsel jadul. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk mengambil kendali kembali ,memutuskan kapan scroll dan kapan berhenti, alih-alih membiarkan algoritma yang memutuskan untuk kita.
Pada akhirnya, mengenal diri sendiri, berpikir kritis, dan hadir penuh pada momen ini bukan sekadar teori dari mata kuliah Estetika Humanisme. Ketiganya adalah keterampilan hidup yang justru makin dibutuhkan di zaman ketika distraksi ada di mana-mana, di layar setinggi genggaman tangan. Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak, meletakkan ponsel, dan bertanya pada diri sendiri: siapa aku, di luar apa yang baru saja aku tonton?
Afwin Rofiqo Meta — Mahasiswa Universitas Siber Asia
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
