Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Pembangunan Kesehatan sebagai Amanah Kepemimpinan

Info Sehat | 2026-08-04 10:23:34
Ilustrasi

Keberhasilan suatu daerah sering kali diukur melalui berbagai indikator pembangunan. Pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan, penurunan angka kemiskinan, hingga meningkatnya angka harapan hidup menjadi ukuran yang lazim digunakan untuk menilai kualitas penyelenggaraan pemerintahan. Di antara berbagai indikator tersebut, angka harapan hidup memiliki makna yang cukup istimewa karena berkaitan langsung dengan kualitas kehidupan manusia.

Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menunjukkan komitmennya untuk meningkatkan angka harapan hidup melalui peluncuran Program KITA SEHAT. Sebagaimana diberitakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Barat pada 23 Juli 2026, program tersebut difokuskan pada penguatan layanan kesehatan primer melalui pendekatan promotif dan preventif.

Pelaksanaannya melibatkan kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pelayanan kesehatan primer.

Berbagai langkah tersebut menunjukkan adanya kesadaran bahwa kesehatan merupakan fondasi penting dalam pembangunan. Pelayanan kesehatan yang semakin dekat dengan masyarakat, pencegahan penyakit sejak dini, serta peningkatan kualitas fasilitas kesehatan merupakan kebutuhan nyata yang patut terus diperkuat. Tidak dapat dimungkiri bahwa masyarakat yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk belajar, bekerja, membangun keluarga, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Akan tetapi, terdapat satu hal yang patut menjadi bahan renungan. Ketika pembangunan kesehatan lebih banyak dibicarakan melalui capaian indikator, target, dan produktivitas, jangan sampai perhatian terhadap nilai dasar pelayanan kepada manusia menjadi berkurang. Sebab, ukuran keberhasilan yang sesungguhnya tidak hanya terletak pada bertambahnya usia harapan hidup, melainkan juga pada hadirnya rasa aman, kemudahan memperoleh pelayanan, serta terjaganya martabat setiap warga negara.

Dalam berbagai kebijakan pembangunan modern, kesehatan sering ditempatkan sebagai salah satu faktor yang menentukan kualitas sumber daya manusia. Pandangan tersebut memiliki sisi positif karena menunjukkan bahwa manusia merupakan aset penting dalam pembangunan. Namun, apabila orientasi tersebut terlalu dominan, terdapat kemungkinan manusia lebih sering diposisikan berdasarkan kontribusi yang dapat diberikannya terhadap pembangunan daripada sebagai pribadi yang memiliki kemuliaan dan hak untuk dilayani.

*Pandangan Islam*

Islam memandang persoalan ini dari sudut yang berbeda. Kesehatan bukan sekadar sarana agar seseorang mampu menghasilkan manfaat ekonomi, melainkan nikmat Allah Swt. yang menjadi bagian dari amanah kehidupan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan merupakan bentuk syukur sekaligus tanggung jawab yang melibatkan individu, keluarga, masyarakat, dan pemimpin.

Allah Swt. berfirman,

"Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisā' [4]: 29)

Ayat tersebut memberikan isyarat bahwa kehidupan manusia memiliki kedudukan yang sangat mulia. Segala kebijakan yang bertujuan menjaga keselamatan jiwa merupakan bagian dari nilai yang selaras dengan ajaran Islam.

Rasulullah saw. juga bersabda,

"Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu."

(HR Al-Bukhari No. 5199)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan merupakan bagian dari pemenuhan hak tubuh yang telah Allah titipkan kepada manusia. Oleh sebab itu, pembangunan kesehatan tidak cukup dipahami sebagai urusan fasilitas medis semata, tetapi juga mencakup upaya menghadirkan lingkungan yang sehat, pangan yang baik, air yang layak, serta pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.

Dalam konteks kepemimpinan, Islam memberikan prinsip yang sangat jelas. Rasulullah saw. bersabda, "Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya."

(HR Al-Bukhari No. 7138 dan Muslim No. 1829)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kepada masyarakat merupakan amanah yang melekat pada kepemimpinan. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya dinilai dari tercapainya target administratif, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan manfaat pelayanan tersebut secara adil dan merata.

Kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk negara lain, merupakan bagian dari dinamika hubungan internasional yang lazim dilakukan oleh banyak negara. Pertukaran pengalaman, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, maupun dukungan teknis dapat memberikan manfaat apabila dilaksanakan dengan tata kelola yang baik. Namun demikian, setiap bentuk kolaborasi tetap memerlukan kehati-hatian agar seluruh proses pembangunan tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat serta menjaga kemandirian dalam menentukan arah kebijakan.

Prinsip transparansi, akuntabilitas, dan kepentingan publik menjadi hal yang tidak dapat diabaikan.

Sejarah Islam memperlihatkan bahwa perhatian terhadap kesehatan merupakan bagian dari pembangunan peradaban. Pada masa kekhalifahan, rumah sakit berkembang sebagai pusat pelayanan kesehatan sekaligus pusat pendidikan dan penelitian. Negara menyediakan pelayanan kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap rakyat tanpa membedakan status sosial.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan ditempatkan sebagai amanah kemanusiaan, bukan sekadar instrumen untuk mencapai target pembangunan.

Pelajaran tersebut tetap relevan pada masa kini. Masyarakat membutuhkan layanan kesehatan yang mudah diakses, tenaga medis yang memadai, obat-obatan yang tersedia, serta kebijakan yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Keberhasilan pembangunan kesehatan akan semakin bermakna apabila tidak hanya menghasilkan peningkatan angka harapan hidup, tetapi juga menghadirkan rasa keadilan dan ketenteraman bagi masyarakat dalam memperoleh pelayanan.

Refleksi ini bukanlah penilaian terhadap satu program tertentu, melainkan ajakan untuk melihat kembali hakikat pembangunan kesehatan. Setiap indikator pembangunan memang penting sebagai alat ukur keberhasilan, tetapi indikator tidak boleh menggantikan tujuan yang lebih mendasar, yaitu memuliakan manusia.

Ketika manusia ditempatkan sebagai amanah yang harus dijaga, pelayanan kesehatan akan berkembang menjadi wujud kepedulian terhadap kehidupan, bukan sekadar pencapaian angka dalam laporan pembangunan.

Pada akhirnya, kesehatan adalah salah satu fondasi utama terbentuknya masyarakat yang kuat.

Dalam perspektif Islam, masyarakat yang sehat bukan hanya mampu menjalankan aktivitas duniawi dengan baik, tetapi juga memiliki kesempatan lebih besar untuk beribadah, menebarkan manfaat, dan menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, pembangunan kesehatan seyogianya senantiasa berorientasi pada kemaslahatan manusia secara menyeluruh, sehingga setiap kebijakan benar-benar menghadirkan kesejahteraan lahir dan batin bagi masyarakat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image