Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Dari Sumpah Palapa ke Merdeka 100 Persen: Gajah Mada dan Tan Malaka dalam Indonesia Hari Ini

Sejarah | 2026-08-02 14:34:26
Gambar Ilustrasi : Generates Al.

Opini - Ada kalanya bangsa membutuhkan masa lalu bukan untuk kembali ke zaman lampau, melainkan untuk menemukan kembali keberanian yang pernah dimilikinya.

Di antara banyak tokoh dalam sejarah Nusantara dan Indonesia, Gajah Mada dan Tan Malaka berada dalam dua zaman yang terpisah ratusan tahun. Gajah Mada hidup pada era Majapahit, sedangkan Tan Malaka hidup dalam pergolakan kolonialisme dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Mereka bukan tokoh yang dapat disamakan secara historis. Namun, keduanya dapat dipertemukan dalam satu pertanyaan besar:

Untuk apa sebuah bangsa harus bersatu dan merdeka?

Pertanyaan itu justru semakin relevan ketika Indonesia memasuki era kompetisi global, geopolitik yang berubah cepat, perang ekonomi, revolusi teknologi, dan persaingan penguasaan sumber daya manusia.

Gajah Mada dan imajinasi tentang Nusantara

Nama Gajah Mada selalu terkait dengan Sumpah Palapa yang dicatat dalam Pararaton. Sumpah tersebut menggambarkan tekad untuk menyatukan wilayah-wilayah Nusantara dalam lingkup kekuasaan Majapahit.

Dalam pembacaan Indonesia modern, Sumpah Palapa kemudian memperoleh makna simbolik sebagai salah satu gambaran awal mengenai cita-cita persatuan Nusantara.

Namun ada satu hal yang harus diperhatikan.

Indonesia bukan Majapahit.

Negara Indonesia modern dibangun atas prinsip kebangsaan yang berbeda: Proklamasi Kemerdekaan, Pancasila, UUD 1945, demokrasi, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu, relevansi Gajah Mada bukanlah menghidupkan kembali model kekuasaan Majapahit.

Yang relevan adalah semangat memiliki visi besar tentang persatuan.

Persatuan Indonesia hari ini tidak boleh dibangun melalui penaklukan, tetapi melalui kesadaran bahwa perbedaan suku, agama, bahasa, budaya dan kepentingan daerah merupakan bagian dari kekayaan nasional.

Dalam konteks inilah Sumpah Palapa dapat dibaca sebagai metafora sejarah: sebuah bangsa membutuhkan cita-cita yang lebih besar daripada kepentingan kelompoknya sendiri.

Tan Malaka: Kemerdekaan tidak berhenti pada bendera

Jika Gajah Mada berbicara dalam bahasa persatuan, Tan Malaka berbicara dalam bahasa kemerdekaan.

Tan Malaka melihat kemerdekaan bukan semata-mata sebagai pengusiran penjajah. Kemerdekaan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir dan menentukan nasibnya sendiri.

Gagasannya tentang pendidikan dan pembebasan manusia menjadi salah satu aspek penting pemikirannya.

Dalam Madilog, Tan Malaka mencoba memperkenalkan cara berpikir materialistis, dialektis dan logis sebagai kritik terhadap cara berpikir yang dianggap tidak rasional.

Di sinilah pemikiran Tan Malaka menjadi menarik bagi Indonesia abad ke-21.

Sebab bangsa yang ingin maju tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam.

Bangsa itu membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir.

Tanpa manusia yang berpikir kritis, kemerdekaan politik dapat berubah menjadi ketergantungan baru.

Bentuk penjajahan mungkin telah berubah.

Dahulu penjajahan hadir melalui kekuasaan militer dan pemerintahan kolonial.

Kini dominasi dapat hadir melalui teknologi, modal, data, ketergantungan ekonomi, penguasaan rantai pasok, bahkan melalui perang informasi.

Karena itu, gagasan “merdeka 100 persen” Tan Malaka dapat dibaca kembali secara kontekstual: sebuah bangsa harus memiliki kemampuan menentukan masa depannya sendiri.

Dari merdeka secara politik menuju berdaulat secara nyata

Indonesia telah merdeka secara politik.

Tetapi pekerjaan sejarah belum selesai.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah:

Apakah Indonesia sudah benar-benar berdaulat dalam seluruh aspek kehidupan nasional?

Kedaulatan politik harus berjalan bersama kedaulatan ekonomi.

Kedaulatan ekonomi harus diperkuat oleh penguasaan ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan harus ditopang pendidikan yang bermutu.

Dan seluruhnya harus bermuara pada kesejahteraan rakyat.

Di sinilah gagasan Gajah Mada dan Tan Malaka dapat bertemu.

Gajah Mada memberikan imajinasi tentang persatuan. Tan Malaka memberikan imajinasi tentang kemerdekaan.

Indonesia membutuhkan keduanya sekaligus.

Sebab persatuan tanpa kedaulatan akan menjadi persatuan yang rapuh.

Sebaliknya, kedaulatan tanpa persatuan akan mudah pecah oleh kepentingan sektoral.

Indonesia hari ini: apakah cita-cita itu mulai terwujud?

Indonesia sekarang memiliki posisi yang jauh berbeda dibandingkan masa kolonial.

Indonesia merupakan negara besar dengan populasi besar, sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang luas dan posisi geopolitik strategis.

Namun kekuatan material belum otomatis menjadikan sebuah bangsa berdaulat.

Kedaulatan harus dibuktikan melalui kemampuan mengolah sumber daya sendiri, meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan teknologi nasional, memperkuat industri, melindungi kepentingan rakyat dan memainkan diplomasi secara mandiri.

Dalam perspektif itu, program pembangunan nasional hari ini dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan panjang menuju cita-cita tersebut.

Tetapi sejarah mengingatkan: tidak ada kemerdekaan yang selesai.

Kemerdekaan harus terus diperjuangkan oleh setiap generasi.

Persatuan bukan penyeragaman : Ada satu pelajaran penting dari Gajah Mada yang perlu diterjemahkan secara hati-hati.

Persatuan tidak sama dengan penyeragaman.

Indonesia justru kuat karena keberagamannya.

Jawa bukan Sunda;Sunda bukan Minangkabau;Bugis bukan Batak;Papua bukan Maluku.

Tetapi semuanya dapat menjadi Indonesia.

Karena itu, persatuan Indonesia bukanlah menghapus identitas lokal.

Persatuan adalah menemukan identitas bersama di atas berbagai identitas yang berbeda.

Pancasila menjadi titik temu dari keragaman itu.

Dalam konteks ini, semangat Gajah Mada perlu ditransformasikan dari gagasan “menyatukan wilayah” menjadi gagasan “menyatukan kehendak kebangsaan.”

Tan Malaka dan keberanian berpikir: Sementara itu, warisan Tan Malaka yang mungkin paling relevan hari ini adalah keberanian untuk berpikir.

Bangsa yang takut berpikir akan mudah dipengaruhi.

Bangsa yang tidak menguasai ilmu pengetahuan akan mudah bergantung.

Bangsa yang tidak memiliki kemampuan membaca perubahan zaman akan menjadi penonton dalam sejarahnya sendiri.

Revolusi digital, kecerdasan buatan, ekonomi berbasis data dan transformasi industri sedang mengubah dunia.

Maka pertanyaan Tan Malaka tentang manusia yang merdeka berpikir memperoleh konteks baru.

Apakah generasi Indonesia hari ini menjadi pengguna teknologi atau pencipta teknologi?

Apakah kita hanya menjadi pasar atau mampu menjadi produsen?

Apakah kita hanya mengonsumsi pengetahuan atau mampu menghasilkan pengetahuan?

Pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya merupakan bentuk baru dari pertanyaan tentang kemerdekaan.

Dari Gajah Mada dan Tan Malaka menuju Indonesia Emas

Indonesia tidak membutuhkan romantisme sejarah.

Indonesia membutuhkan energi sejarah.

Gajah Mada dapat mengingatkan kita bahwa bangsa besar membutuhkan visi persatuan.

Tan Malaka mengingatkan bahwa kemerdekaan membutuhkan keberanian berpikir.

Jika keduanya disintesiskan, lahirlah sebuah gagasan sederhana:

Indonesia harus bersatu agar kuat dan harus merdeka agar berdaulat.

Tetapi persatuan dan kedaulatan itu harus diterjemahkan dalam kehidupan nyata.

Persatuan berarti tidak mudah dipecah oleh politik identitas.

Kedaulatan berarti tidak mudah didikte oleh kepentingan asing.

Kemerdekaan berarti mampu menentukan kebijakan berdasarkan kepentingan nasional.

Pendidikan berarti membebaskan manusia dari kebodohan.

Ekonomi berarti memberikan kesempatan yang adil kepada rakyat.

Teknologi berarti memperkuat kemampuan bangsa.

Dan demokrasi berarti memastikan kekuasaan tetap bertanggung jawab kepada rakyat.

Sejarah sebagai kompas: Menurut hemat Penulis, Gajah Mada dan Tan Malaka bukanlah dua tokoh yang harus dipertentangkan.

Mereka adalah dua cermin dari perjalanan panjang bangsa.

Gajah Mada memberikan kita imajinasi tentang persatuan Nusantara.

Tan Malaka memberikan kita imajinasi tentang manusia yang merdeka dan berpikir.

Indonesia modern kemudian memberikan bentuk baru terhadap kedua gagasan tersebut melalui negara bangsa yang merdeka.

Karena itu, tantangan Indonesia hari ini bukan lagi sekadar bagaimana merebut kemerdekaan.

Tantangannya adalah: bagaimana mempertahankan kemerdekaan, memperluas kedaulatan dan memastikan hasil pembangunan benar-benar dirasakan rakyat.

Di sinilah “merdeka 100 persen” harus dipahami bukan sebagai slogan literal, melainkan sebagai cita-cita tentang kemandirian bangsa dalam menentukan arah masa depannya.

Dan di sinilah semangat Gajah Mada dan Tan Malaka menemukan relevansinya.

Bukan untuk menghidupkan kembali masa lalu.

Tetapi untuk menjawab masa depan.

Gajah Mada mengajarkan kita untuk berani bermimpi tentang persatuan. Tan Malaka mengajarkan kita untuk berani berpikir tentang kemerdekaan. Indonesia hari ini ditantang untuk mengubah keduanya menjadi kenyataan: sebuah bangsa yang bersatu, berdaulat, berilmu, mandiri, adil dan bermartabat.

Sebab sejarah terbesar sebuah bangsa bukanlah apa yang pernah dicapainya.

Sejarah terbesar adalah apa yang berani diperjuangkannya setelah merdeka.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image