Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rita Maliza

Atrofi Otot Spinal: Ketika Satu Gen Menentukan Nasib Motor Neuron

Iptek | 2026-07-30 08:57:20

Atrofi otot spinal (spinal muscular atrophy/SMA) adalah gangguan neuromuskular resesif autosomal yang menjadi penyebab genetik kematian bayi paling umum di dunia, dengan kejadian sekitar 1 dari 10.000 kelahiran hidup. Penyakit ini muncul akibat hilangnya fungsi gen SMN1 di kromosom 5, yang menyebabkan degenerasi motor neuron di sumsum tulang belakang sehingga penderita mengalami kelemahan otot progresif, hipotonia, hingga gangguan pernapasan. Yang menarik, tubuh manusia sebenarnya memiliki gen cadangan bernama SMN2 yang sangat mirip dengan SMN1, namun karena satu perbedaan kecil pada urutan DNA-nya, gen ini hanya mampu menghasilkan sekitar 10% protein fungsional yang dibutuhkan.

Dari sudut pandang keilmuan yang saya tekuni mengenai single nucleotide polymorphisms (SNPs), kasus SMA ini menjadi contoh nyata betapa besar dampak satu varian nukleotida tunggal terhadap fenotipe klinis seseorang. Keinath, Prior, dan Prior dalam ulasan mereka menjelaskan bahwa perbedaan SMN1 dan SMN2 hanya terletak pada delapan nukleotida, dan dari jumlah itu hanya satu transisi C-ke-T pada ekson 7 gen SMN2 yang benar-benar berdampak fungsional karena mengganggu elemen penguat penyambungan (splice enhancer) RNA. Fenomena inilah yang membuat SMN2 gagal menghasilkan protein SMN utuh secara konsisten, sekaligus menjelaskan mengapa jumlah salinan SMN2pada seseorang menjadi faktor prediktif penting bagi keparahan penyakit.

Ilustrasi mutasi titik C→T pada gen SMN2 dibandingkan gen SMN1 normal, yang menyebabkan gangguan penyambungan ekson 7 dan penurunan produksi protein SMN fungsional. (Ilustrasi: pribadi)

Dalam hal deteksi mutasi, metode yang paling banyak digunakan di laboratorium adalah Multiplex Ligation-dependent Probe Amplification (MLPA), sebuah teknik berbasis DNA yang mampu mendeteksi delesi homozigot ekson 7 pada SMN1 sekaligus menghitung jumlah salinan gen SMN2. Pendekatan berbasis analisis dosis gen dan sekuensing ini juga menjadi dasar skrining pembawa sifat (carrier screening) serta skrining bayi baru lahir yang kini telah diterapkan secara luas, karena pengobatan yang diberikan sebelum gejala muncul terbukti memberikan hasil klinis jauh lebih baik. Bagi sekitar 5% kasus yang tidak menunjukkan delesi homozigot, dibutuhkan sekuensing gen untuk mendeteksi mutasi titik seperti missense atau nonsense yang berperan sebagai penyebab heterozigot majemuk (compound heterozygote).

Kemajuan dalam memahami arsitektur genetik SMA, khususnya peran varian nukleotida tunggal dalam menentukan fungsi protein SMN, kini telah membuahkan tiga terapi yang disetujui FDA yaitu nusinersen, onasemnogene abeparvovec, dan risdiplam, yang semuanya bekerja dengan menargetkan mekanisme penyambungan RNA atau pengiriman gen fungsional. Kisah SMA ini menegaskan bagaimana ilmu genetika molekuler, khususnya kajian SNP, tidak hanya berguna untuk memahami penyebab penyakit langka, tetapi juga menjadi fondasi bagi lahirnya terapi presisi yang mengubah harapan hidup pasien secara signifikan.

Sumber: Keinath MC, Prior DE, Prior TW. Spinal Muscular Atrophy: Mutations, Testing, and Clinical Relevance. The Application of Clinical Genetics. 2021;14:11–25. doi:10.2147/TACG.S239603; National Organization for Rare Disorders (NORD), rarediseases.org/rare-diseases/spinal-muscular-atrophy/.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image