Rupiah Tembus Rp 18.000, Daya Beli Masyarakat di Ujung Tanduk
Info Terkini | 2026-07-14 14:57:24Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan publik setelah terus tertekan sepanjang paruh kedua Juli 2026. Pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026, rupiah dibuka melemah ke posisi Rp18.090 per dolar Amerika Serikat, turun 25 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.065. Pelemahan ini melanjutkan tren sepekan sebelumnya (6-11 Juli 2026), di mana kurs spot terkoreksi 0,57 persen dan sempat menyentuh level psikologis baru di Rp18.128 per dolar AS. Bahkan dalam setahun terakhir, mata uang Garuda tercatat melemah lebih dari 11 persen terhadap dolar AS.
Di balik angka-angka kurs yang berubah setiap hari, ada dampak nyata yang mulai dirasakan masyarakat: harga barang naik, biaya produksi membengkak, dan daya beli tergerus.
Pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar bursa. Para ekonom mencatat, setiap depresiasi rupiah sebesar 1 persen berpotensi menambah tekanan inflasi impor hingga 0,2-0,3 persen dalam jangka pendek, karena biaya bahan baku dan barang jadi dari luar negeri otomatis lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah.
Sejumlah sektor sudah merasakan dampak ini lebih dulu. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Telisa Aulia Falianty, mengingatkan bahwa kelompok pengeluaran dengan kandungan impor tinggi mulai dari obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, hingga telekomunikasi menjadi yang paling rentan terhadap kenaikan harga akibat pelemahan kurs.
Proyeksi terbaru bahkan lebih tegas: para ekonom memperkirakan harga barang berbasis impor bisa naik 4 hingga 8 persen pada akhir 2026, dengan produk elektronik berpotensi mengalami kenaikan hingga dua digit akibat tingginya ketergantungan pada komponen impor. Menariknya, sejumlah produsen diperkirakan akan menempuh strategi "shrinkflation" mengecilkan ukuran atau isi produk tanpa menaikkan harga secara terbuka agar konsumen tidak terlalu terkejut dengan kenaikan harga.
Ekonom dari Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menegaskan bahwa efek pelemahan rupiah akan terasa mulai dari pelaku usaha mikro seperti penjual gorengan hingga pengusaha skala besar, karena kenaikan harga bahan baku merambat ke seluruh rantai produksi. Ia juga menyoroti bahwa capital outflow atau arus keluar modal asing turut memperberat tekanan terhadap rupiah, dipicu kekhawatiran investor terhadap defisit anggaran pemerintah yang melebar mendekati 3 persen dari PDB.
Senada, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mencatat sejumlah komoditas strategis gandum, kedelai, bawang putih, susu, hingga bahan baku obat dan industri masih sangat bergantung pada impor, sehingga biaya masuknya otomatis membengkak setiap kali rupiah terdepresiasi. Kelompok masyarakat kelas menengah disebut akan menghadapi tekanan paling nyata karena ruang belanja mereka semakin sempit.
FAKTOR PENDORONG PELEMAHAN
Sejumlah faktor eksternal turut memperberat tekanan terhadap rupiah dalam beberapa pekan terakhir, di antaranya eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga minyak dunia, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Di sisi domestik, defisit transaksi berjalan dan kekhawatiran investor terhadap fundamental ekonomi turut mendorong keluarnya modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Meski demikian, tekanan ini sebagian tertahan oleh stabilisasi harga minyak, kenaikan cadangan devisa yang moderat, serta langkah pemerintah memperkuat pasokan pangan dalam negeri.
SIAPA YANG PALING TERDAMPAK?
Dampak pelemahan rupiah tidak berhenti di kalangan pelaku usaha besar. Masyarakat pedesaan yang bergantung pada kebutuhan dasar seperti gas LPG, pupuk pertanian, hingga kendaraan bermotor turut merasakan tekanan harga akibat komponen impor pada barang-barang tersebut. Para ekonom menilai klaim bahwa masyarakat desa relatif aman dari dampak kenaikan dolar kurang tepat, mengingat ketergantungan terhadap bahan baku dan barang jadi impor sudah merata di berbagai lapisan ekonomi, baik di kota maupun di desa.
Pelemahan rupiah memang bukan fenomena baru, dan sejarah mencatat mata uang ini pernah mengalami tekanan serupa di masa lalu. Namun tren pelemahan yang berlangsung konsisten sepanjang 2026 ini patut menjadi perhatian bersama bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan agar masyarakat dan pelaku usaha dapat bersiap menghadapi kenaikan harga yang mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Langkah mitigasi seperti efisiensi biaya logistik, penguatan sektor pangan domestik, dan menjaga daya beli masyarakat kelas menengah-bawah menjadi kunci agar dampak pelemahan rupiah tidak semakin meluas.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
