Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Banjir sebagai Pesan yang Terbaca

Kultura | 2026-06-10 09:24:26
Ilustrasi

Alam tidak pernah berteriak, tetapi ia selalu memberi tanda. Tanah yang dulu lembut kini mengeras. Air yang dulu meresap kini berlari. Perubahan ini tidak terjadi tanpa sebab.

Data menunjukkan bahwa sedikitnya 942,68 hektare lahan pertanian di Jawa Barat telah berubah menjadi kawasan terbangun dalam sepuluh tahun terakhir. Perubahan ini membawa dampak yang nyata terhadap lingkungan. Kepala DPUTR Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqawa menjelaskan bahwa alih fungsi lahan meningkatkan limpasan air permukaan yang kemudian mengalir menuju sungai-sungai utama di Kabupaten Bandung. Dampaknya terasa luas, terutama dalam meningkatnya risiko banjir. Alih fungsi lahan sebagai pemicu utama banjir. (Digo.id, 30/05/2026)

Tanah pada hakikatnya adalah amanah. Ia bukan sekadar benda mati. Ia menyimpan kehidupan. Ia menjaga air. Ia menopang manusia. Namun, cara manusia memandang tanah perlahan berubah. Tanah mulai diposisikan sebagai angka. Nilainya dihitung. Potensinya diukur dalam keuntungan. Perubahan ini tidak selalu disadari, tetapi dampaknya terasa dalam jangka panjang.

Pembangunan harus selaras dengan keseimbangan alam. Ketidakharmonisan antara aktivitas manusia dan daya dukung lingkungan akan memunculkan berbagai persoalan, termasuk bencana ekologis. Dari sini terlihat bahwa persoalan alih fungsi lahan bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan cara pandang.

Sekitar 19 kecamatan di Kabupaten Bandung kini masuk dalam kategori rawan banjir. Angka ini bukan sekadar informasi. Angka ini adalah pesan.

Banjir sering dipahami sebagai peristiwa alam. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, terdapat peran manusia yang besar. Ketika lahan pertanian berubah menjadi kawasan permukiman, kemampuan tanah dalam menyerap air berkurang. Tanah kehilangan fungsinya sebagai penyeimbang.

Kemudian, air bergerak tanpa hambatan di permukaan. Ia mengalir cepat menuju sungai. Ketika volume air meningkat, sungai tidak lagi mampu menampungnya. Pada titik ini, air meluap dan memasuki ruang hidup manusia. Peristiwa ini berulang, seolah mengingatkan bahwa ada yang perlu diperbaiki.

Pembangunan terus berlangsung. Kebutuhan hunian meningkat. Aktivitas ekonomi bergerak cepat. Semua ini menunjukkan dinamika kehidupan. Namun, pertumbuhan yang tidak diarahkan dengan bijak dapat membawa dampak yang tidak diinginkan. Lahan pertanian berkurang. Ruang hijau menyempit. Daya dukung lingkungan melemah.

Dalam situasi seperti ini, perlu ada keseimbangan antara kebutuhan pembangunan dan kelestarian alam. Tanpa keseimbangan, pertumbuhan justru menimbulkan persoalan baru. Masyarakat luas menjadi pihak yang merasakan dampaknya, terutama ketika bencana datang.

*Pandangan Islam*

Islam memandang alam sebagai bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga. Manusia diberikan amanah untuk mengelola, bukan merusak.

Allah Swt. berfirman, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia." (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan memiliki keterkaitan dengan perilaku manusia. Oleh karena itu, manusia memiliki tanggung jawab untuk memperbaikinya.

Rasulullah saw. juga memberikan pedoman yang jelas. Beliau bersabda, "Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan pentingnya menjaga dan memanfaatkan lahan secara produktif serta berkelanjutan.

Dalam sejarah Islam, pengelolaan lahan dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Umar bin Khattab ra. pernah mengambil kembali lahan yang tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya. Ia kemudian memberikan lahan tersebut kepada orang yang mampu mengelolanya.

Kebijakan ini menunjukkan bahwa lahan tidak boleh dibiarkan terbengkalai. Lahan harus memberi manfaat bagi masyarakat. Prinsip ini menjaga keseimbangan antara kepemilikan dan tanggung jawab sosial.

Para pemimpin dalam peradaban Islam juga memperhatikan tata ruang. Mereka tidak membiarkan pembangunan berjalan tanpa arah. Mereka memastikan bahwa kebutuhan manusia terpenuhi tanpa merusak lingkungan.

*Penutup*

Alih fungsi lahan mengajarkan satu hal penting, bahwa alam selalu memberi isyarat. Isyarat itu hadir dalam bentuk perubahan yang perlahan, lalu terasa dalam bentuk peristiwa yang nyata.

Refleksi ini bukan untuk menyalahkan. Refleksi ini untuk memahami. Ketika manusia menyadari perannya sebagai penjaga, maka ia akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Dengan demikian, menjaga tanah berarti menjaga kehidupan. Ketika tanah tetap berfungsi, air akan kembali bersahabat. Ketika keseimbangan terjaga, kehidupan akan berjalan dengan lebih tenang. Alam telah berbicara dengan caranya sendiri. Kini, manusia memiliki kesempatan untuk mendengarkan dan memperbaiki arah langkahnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image