Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nadia Suherman A.Y

Dampak Media Sosial terhadap Harga Diri dan Identitas Remaja

Edukasi | 2026-07-09 17:00:49

Nadia, 16 tahun, mengunggah swafoto terbaiknya ke Instagram pukul sepuluh malam, lalu buru-buru menghapusnya hanya tiga menit kemudian karena jumlah suka dianggap terlalu sedikit. Ia lalu membuka TikTok, menggulir puluhan video wajah mulus dan tubuh ideal, sembari diam-diam membandingkan dirinya dengan mereka. Kisah Nadia bukan kasus tunggal. Bagi jutaan remaja Indonesia, layar ponsel kini menjadi cermin yang menentukan apakah mereka pantas dianggap menarik, populer, atau berharga, bahkan sebelum mereka benar-benar mengenal siapa diri mereka sendiri sesungguhnya.

Fenomena yang dialami Nadia mencerminkan pola yang jauh lebih besar. Data WeAreSocial tahun 2024 mencatat bahwa 64,8 persen remaja Indonesia telah menjadi pengguna aktif media sosial, dengan 73,5 persen di antaranya menggunakan TikTok secara rutin (Jurnal Media Akademik, 2025). Sementara itu, laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal mencatat TikTok memiliki lebih dari 157 juta pengguna di Tanah Air, sedangkan Instagram menembus sekitar 103 juta pengguna pada awal tahun yang sama, menjadikan Indonesia salah satu pasar terbesar bagi kedua platform tersebut. Derasnya paparan ini membawa konsekuensi psikologis nyata.

Sebuah penelitian terhadap 479 pemuda usia 15-24 tahun di Jakarta Timur menemukan bahwa mayoritas responden mengakses Instagram lebih dari enam kali sehari dengan durasi lebih dari empat jam, dan ditemukan hubungan statistik yang signifikan antara frekuensi penggunaan media sosial dengan tingkat harga diri mereka (Prawiro dkk., Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia, 2024). Senada dengan itu, riset internasional oleh Andreassen, Pallesen, dan Griffiths (2017) yang dipublikasikan dalam jurnal Addictive Behaviors turut mengonfirmasi bahwa penggunaan media sosial yang bersifat adiktif berkaitan erat dengan rendahnya harga diri dan kecenderungan narsistik pada penggunanya. Fenomena inilah yang membuat kalangan pendidik, orang tua, dan psikolog di berbagai daerah mulai mempertanyakan dampak jangka panjang layar kecil ini terhadap jiwa generasi muda.

Para ahli psikologi perkembangan menjelaskan bahwa masa remaja adalah periode ketika seseorang tengah sibuk mencari jawaban atas pertanyaan paling mendasar: siapa sebenarnya diri saya? Pada tahap usia ini, remaja diyakini berada dalam pergumulan antara membangun rasa identitas yang utuh atau justru terjebak dalam kebingungan peran, tersesat di antara berbagai citra diri yang saling bertentangan. Ironisnya, media sosial hadir tepat pada masa paling rentan ini, menawarkan ribuan cermin instan berupa likes, komentar, dan jumlah pengikut, yang seolah memberi jawaban cepat atas pertanyaan jati diri tersebut, padahal jawaban itu semu dan mudah berubah dalam hitungan menit.

Di sisi lain, ilmu psikologi juga mengenal proses belajar melalui pengamatan, yaitu kecenderungan seseorang meniru perilaku, penampilan, bahkan gaya hidup sosok yang mereka kagumi dan lihat berulang kali. Ketika linimasa dipenuhi wajah-wajah yang telah disunting sedemikian sempurna, tubuh ideal, dan gaya hidup gemerlap, remaja secara tidak sadar menjadikan standar tersebut sebagai tolok ukur untuk menilai dirinya sendiri. Proses peniruan ini diperkuat lagi oleh algoritma yang terus-menerus menyodorkan konten serupa, sehingga standar yang sebenarnya tidak realistis itu terasa seperti kenyataan yang wajar dan harus dikejar. Perpaduan antara krisis pencarian jati diri dan derasnya arus peniruan sosial inilah yang pada akhirnya menjelaskan mengapa begitu banyak remaja seperti Nadia menggantungkan rasa berharga dirinya pada respons orang lain di dunia maya, alih-alih pada pemahaman yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut tanpa langkah nyata. Pertama, orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak mengenai apa yang mereka lihat di media sosial, bukan sekadar membatasi jam layar tanpa penjelasan. Kedua, sekolah dapat memasukkan literasi digital ke dalam kegiatan belajar, mengajarkan siswa mengenali bahwa konten di media sosial umumnya telah disunting dan bukan gambaran kehidupan yang sesungguhnya. Ketiga, guru dan konselor sekolah sebaiknya lebih peka terhadap tanda-tanda penurunan rasa percaya diri pada siswa, lalu memberi ruang aman untuk bercerita. Keempat, pembuat kebijakan pendidikan perlu mendorong program penguatan jati diri remaja sejak usia sekolah menengah pertama, sehingga rasa berharga mereka tidak lagi bergantung pada jumlah suka di layar ponsel semata.

Nadia mungkin akan mengunggah swafoto lagi malam ini, atau mungkin tidak. Namun satu hal patut direnungkan bersama: selama harga diri remaja masih ditentukan oleh algoritma dan jumlah suka orang asing, mereka akan terus mencari validasi di tempat yang salah. Sudah saatnya rumah dan sekolah menjadi cermin pertama yang mereka percaya, jauh sebelum layar ponsel mengambil alih peran itu.

Artikel ini ditulis oleh Nadia Suherman Al-Yahya (1405625123), Angga Tomi Hutama (1405625124), Daffa Nurramadhan (1404625155), Muhammad Naufal Fawwaz Alghifari (1404625091), Fadhilatul Akbar (1404625107), dan Arya Nur Muhammad (1404625158), mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta. Melalui artikel ini, penulis berupaya mengangkat isu dampak media sosial terhadap pembentukan identitas dan harga diri remaja berdasarkan perspektif psikologi perkembangan sebagai bagian dari mata kuliah Perkembangan Peserta Didik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image