Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ahmad Dahri

Suluk Akar dan Kompas Moral Kebudayaan

Kolom | 2026-07-09 12:55:15

Ada satu pemandangan yang barangkali semakin jarang tampak di tengah hiruk pikuk perubahan sosial. Seperti di sebuah langgar kecil, seorang guru mengajar beberapa anak membaca kitab dan quran. Di Serambi masjid dan pos-pos ronda, orang-orang berkumpul bukan untuk membahas siapa yang sedang berkuasa, melainkan siapa tetangga yang perlu dibantu.

Di sudut kampung, doa-doa dipanjatkan bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai cara sederhana merawat harapan. Tidak ada kamera, tidak ada sorotan, apalagi perbincangan yang akan menjadi berita esok hari. Dan disadari atau tidak, justru dari ruang-ruang senyap seperti itulah kehidupan sosial selama ini memperoleh napasnya.

Ilustrasi Tanaman dan Akar, Dok.Pri

Ironisnya, sesuatu yang paling sering luput dari pandangan dan pendengaran adalah hal yang paling menentukan. Kita lebih mudah mengingat perdebatan di ruang publik daripada keteladanan yang tumbuh pelan dan tenang. Kita lebih cepat membicarakan perebutan pengaruh daripada kerja-kerja sunyi dan suluk kebudayaan yang setiap hari menjaga masyarakat tetap saling percaya.

Perubahan zaman memang tidak pernah mengetuk pintu rumah kita. Dunia bergerak semakin cepat, teknologi mengubah cara manusia berhubungan, dan ukuran keberhasilan perlahan bergeser. Kehidupan yang dahulu bertumpu pada kedekatan sosial kini semakin dipengaruhi oleh pencapaian personal. Loyalitas kepada komunitas tidak lagi sekuat sebelumnya. Orang lebih sering bertanya apa manfaat yang bisa diperoleh daripada nilai apa yang dapat dipertahankan.

Dalam perubahan seperti itu, hampir semua lembaga sosial menghadapi persoalan yang sama. Semakin besar pengaruh yang dimiliki, semakin besar pula kepentingan yang menyelimutinya. Kepentingan politik, ekonomi, kelembagaan, bahkan kepentingan pribadi menjadi bagian yang sulit dipisahkan. Itu bukan gejala yang hanya dialami oleh satu kelompok tertentu. Sejarah menunjukkan bahwa setiap institusi yang bertahan lama selalu bergulat dengan persoalan yang sama. Angin kencang itu bukan menguji ranting, tetapi menguji seberapa kuat akarnya, dan itu tak terlihat. Akar selalu menyelinap ke dalam, bukan bergerombol ke luar, ia semakij rapat ke dalam.

Karena itu, persoalan sesungguhnya bukan terletak pada hadir atau tidaknya kepentingan. Kepentingan adalah bagian dari kehidupan manusia. Yang jauh lebih penting ialah siapa yang memimpin siapa. Apakah nilai menjadi penuntun bagi kepentingan, atau justru kepentingan yang perlahan menentukan arah nilai.

Pertanyaan ini terasa semakin relevan ketika ruang publik hari ini lebih sering memperlihatkan wajah-wajah yang berada di panggung daripada mereka yang bekerja di belakang layar. Akibatnya, kita mudah menyimpulkan keadaan hanya dari apa yang tampak di permukaan. Padahal kehidupan sosial selalu lebih luas daripada percakapan para elite.

Di banyak tempat, tradisi pengabdian masih hidup dengan tenang. Masih ada orang-orang yang mengajar tanpa menghitung keuntungan, mendampingi masyarakat tanpa berharap dikenali, menjaga ruang belajar, merawat musyawarah, serta memelihara hubungan antarmanusia dengan kesabaran yang hampir tidak pernah menjadi berita. Mereka mungkin tidak hadir dalam perbincangan nasional, tetapi keberadaan merekalah yang membuat masyarakat tetap memiliki daya tahan.

Di sinilah letak perbedaan antara organisasi dan kebudayaan. Organisasi dapat berubah mengikuti kebutuhan zaman. Kepemimpinan berganti, kebijakan bergeser, orientasi berkembang sesuai tantangan yang dihadapi. Namun kebudayaan memiliki cara hidup yang berbeda. Ia bertahan melalui kebiasaan, melalui adab, melalui keteladanan, dan melalui nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Selama nilai itu masih hidup dalam tindakan sehari-hari, perubahan tidak dengan sendirinya berarti kehilangan jati diri.

Sayangnya, kita sering kali lebih sibuk menjaga nama besar daripada menjaga alasan mengapa nama itu dahulu menjadi besar. Kita merawat simbol, tetapi lalai memelihara makna. Kita mempertahankan identitas, tetapi lupa merawat watak yang membuat identitas itu dihormati.

Barangkali karena itulah kritik sering disalahpahami. Kritik dianggap ancaman, padahal dalam tradisi intelektual yang sehat, kritik justru merupakan tanda bahwa rasa memiliki masih ada. Orang yang benar-benar peduli tidak akan memilih diam ketika melihat sesuatu mulai bergeser dari nilai yang selama ini diyakininya. Sebaliknya, kritik yang lahir dari kasih sayang tidak bertujuan meruntuhkan, melainkan mengembalikan arah agar tidak terlalu jauh meninggalkan akar.

Di sisi lain, kritik juga memerlukan kerendahan hati. Tidak adil jika seluruh kenyataan diukur hanya dari dinamika yang tampak di permukaan. Di balik berbagai perdebatan yang mengisi ruang publik, selalu ada kerja-kerja sosial yang berlangsung tanpa suara. Terlalu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa semuanya telah berubah sama kelirunya dengan menganggap tidak ada yang perlu diperbaiki.

Mungkin tantangan terbesar generasi sekarang bukanlah bagaimana mempertahankan sebuah lembaga agar tetap besar. Tantangan yang lebih mendasar adalah menjaga agar kebesaran itu tetap memiliki jiwa. Sebab sebuah lembaga dapat terus berkembang secara administratif, memiliki jaringan yang luas, bahkan memperoleh pengaruh yang besar. Namun semua itu tidak akan berarti banyak apabila perlahan kehilangan sumber moral yang dahulu membuatnya dipercaya.

Setiap zaman pasti selalu menguji hal yang sama, apakah manusia masih sanggup memelihara nilai ketika kepentingan datang silih berganti. Jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah ditentukan oleh pidato-pidato besar atau keputusan-keputusan penting semata. Ia justru lahir dari ruang-ruang kecil yang sering diabaikan—dari cara seorang guru mengajar dengan ikhlas, dari kesediaan seseorang mendengar sebelum menghakimi, dari kebiasaan bermusyawarah sebelum memutuskan, dan dari keyakinan bahwa pengabdian selalu lebih panjang umurnya daripada kekuasaan.

Mungkin, yang paling perlu kita jaga bukanlah apa yang tampak di depan mata, melainkan akar yang tetap bekerja dan tidak berisik. Sebab ketika akar tetap sehat, pohon akan selalu menemukan caranya untuk tumbuh, ranum dan rimbun daun, pupus dan buahnya, sekeras apa pun angin perubahan bertiup dan berkelindan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image