Gym Bukan Panggung Penilaian: Refleksi dari Viralnya Cewek Baju Hijau
Olahraga | 2026-07-08 10:40:31
Video itu tidak butuh waktu lama untuk menyebar. Seorang perempuan berbaju hijau di gym meluapkan emosinya karena ada orang yang melintas di depannya saat ia sedang bersiap mengangkat beban personal record. Wajar atau tidak, reaksinya memicu perdebatan panjang di kolom komentar. Tapi di balik ramai-ramai soal siapa yang salah dan siapa yang benar, ada hal lain yang menarik untuk diperhatikan. Respons publik terhadap video itu tidak cuma soal etika gym. Sebagian besar komentar yang muncul justru mengarah ke penampilan fisik perempuan tersebut, bukan ke substansi kejadiannya. Dan di sinilah masalah yang lebih besar sebenarnya berada.
Gym dan Budaya Menilai Tubuh Orang Lain
Gym seharusnya menjadi tempat orang datang untuk bergerak, berlatih, dan menjaga kesehatan. Tapi kenyataannya, gym juga menjadi salah satu ruang sosial yang paling penuh penilaian.Orang yang baru mulai gym dinilai tidak serius karena tubuhnya belum "terlihat hasil." Orang yang sudah lama gym dinilai sombong karena terlalu fokus pada latihan. Perempuan yang berpakaian ketat dianggap cari perhatian. Perempuan yang berpakaian longgar dianggap tidak percaya diri. Tidak ada posisi yang aman dari penilaian.Fenomena ini bukan hanya terjadi secara langsung di dalam gym. Media sosial memperluas arena penilaian itu ke skala yang jauh lebih besar. Satu video yang terekam secara tidak sengaja bisa berubah menjadi bahan komentar ribuan orang yang tidak pernah tahu konteks lengkapnya, tidak pernah ada di sana, dan tidak pernah merasakan tekanan yang sedang dialami orang dalam video tersebut.
Perempuan Selalu Dapat Porsi Penilaian Lebih Besar
Kalau kita jujur, standar ganda di dunia gym itu nyata. Ketika laki-laki marah atau berteriak saat mengangkat beban berat, itu sering dianggap wajar, bahkan keren, sebagai ekspresi determinasi. Ketika perempuan melakukan hal yang sama, ia langsung dilabeli drama, lebay, atau tidak tahu diri.Perempuan yang pergi ke gym menghadapi lapisan ekspektasi yang lebih kompleks. Ia harus terlihat serius tapi tidak terlalu serius. Harus kuat tapi tidak terlalu kuat. Harus percaya diri tapi tidak terlalu percaya diri. Dan kalau ada momen yang terekam kamera, ia harus siap tubuh dan ekspresi wajahnya dijadikan bahan komentar publik yang tidak dimintanya sama sekali. Body shaming di ruang digital punya dampak yang tidak main-main.
Penelitian dari berbagai lembaga kesehatan mental konsisten menunjukkan bahwa komentar negatif tentang penampilan fisik, meski terasa sepele bagi yang menuliskannya, bisa memperburuk body image, meningkatkan kecemasan, bahkan membuat seseorang takut untuk kembali ke tempat olahraga.Ada ironi besar dalam cara masyarakat kita merespons video gym yang viral. Di satu sisi, tren hidup sehat sedang naik daun. Gym semakin ramai, konten fitness semakin banyak ditonton, dan orang-orang semakin sadar pentingnya olahraga.
Di sisi lain, komentar publik terhadap orang yang berolahraga justru sering menjadi penghalang terbesar bagi orang lain untuk mulai.Berapa banyak orang yang sebenarnya ingin ke gym tapi mengurungkan niat karena takut dilihat, dihakimi, atau ditertawakan karena tubuhnya belum ideal? Ketakutan itu bukan paranoia. Ketakutan itu tumbuh subur dari bukti nyata yang mereka lihat setiap hari di kolom komentar media sosial. Gym culture yang sehat seharusnya memberi ruang bagi semua orang untuk berproses tanpa takut dihakimi. Bagi yang baru mulai, bagi yang sudah lama, bagi yang badannya besar, kecil, kurus, atau gemuk. Semua orang punya hak yang sama untuk bergerak dan menjaga kesehatannya tanpa harus khawatir jadi bahan tontonan atau komentar.
Yang Sebenarnya Perlu Dibahas
Kembali ke video baju hijau tadi. Mungkin caranya menyampaikan ketidaknyamanan memang bisa lebih baik. Itu sah untuk didiskusikan. Tapi diskusi itu seharusnya berhenti di situ, di soal etika berkomunikasi, bukan melebar ke penilaian fisik, penampilan, atau karakter orang tersebut sebagai perempuan. Ketika sebuah video viral dan respons publik langsung mengarah ke "tubuhnya" atau "mukanya" atau "gayanya," itu tanda bahwa kita masih punya pekerjaan rumah yang besar soal cara kita memperlakukan orang, khususnya perempuan, di ruang publik digital. Gym adalah tempat untuk tumbuh, bukan untuk dihakimi. Dan media sosial seharusnya jadi ruang yang memperluas kesadaran, bukan memperluas arena penghakiman.
Perubahan budaya tidak selalu dimulai dari kebijakan besar atau kampanye nasional. Kadang ia dimulai dari keputusan kecil yang kita buat setiap hari, termasuk keputusan untuk tidak mengetik komentar tentang tubuh seseorang yang sedang viral di linimasa.Sebelum berkomentar soal penampilan fisik seseorang dalam sebuah video, ada satu pertanyaan sederhana yang layak ditanyakan pada diri sendiri: apakah komentar ini membantu diskusi, atau hanya memuaskan keinginan untuk menghakimi? Kalau jawabannya yang kedua, mungkin lebih baik gulir ke bawah dan lanjutkan hari.Gym yang inklusif dimulai bukan dari kebijakan tempat olahraga, tapi dari cara kita berbicara tentang orang-orang yang ada di dalamnya. Karena tubuh seseorang bukan urusan kita, dan keberaniannya untuk datang ke gym dan berlatih jauh lebih penting dari apapun yang bisa kita komentari dari balik layar.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
