Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hanum Muti Salshabila

Kenapa Orang Lain Susah Dipahami? Ini Rahasianya

Humaniora | 2026-07-06 09:42:16
Sumber: Pexels.com

Pernah nggak, kamu merasa sudah berusaha sebaik mungkin memahami seseorang, tapi tetap saja ada jarak yang nggak terjelaskan? Kamu dengarkan curhatnya, kamu coba baca situasinya, tapi ujung-ujungnya tetap muncul pertanyaan, "Sebenarnya dia maunya apa, sih?"

Tenang, kamu nggak sendirian. Memahami orang lain memang bukan perkara mudah, dan ada alasan ilmiah sekaligus psikologis di baliknya.

Setiap Orang Punya "Peta Dunia" Sendiri

Dalam ilmu komunikasi, ada konsep yang disebut map is not the territory, peta bukanlah wilayah yang sesungguhnya. Artinya, apa yang ada di kepala kita tentang dunia ini hanyalah representasi, bukan kenyataan itu sendiri.

Setiap orang membentuk "peta" ini berdasarkan pengalaman hidup, latar belakang keluarga, budaya, bahkan luka masa lalu yang mungkin tidak pernah mereka ceritakan. Jadi ketika kamu berbicara dengan seseorang, kamu sebenarnya sedang berkomunikasi dengan hasil dari ribuan pengalaman yang membentuk cara pandangnya, dan itu belum tentu sama dengan petamu.

Itulah kenapa dua orang bisa mendengar kalimat yang sama, tapi memaknainya secara berbeda.

Kita Sering Menilai Berdasarkan Diri Sendiri

Ada bias psikologis bernama false consensus effect, yaitu kecenderungan menganggap orang lain berpikir, merasa, atau bereaksi seperti diri kita sendiri. Padahal, belum tentu.

Ketika kamu diam saat sedih, kamu mungkin berharap orang lain juga akan diam kalau sedang sedih. Tapi bagi sebagian orang, cara mereka menghadapi kesedihan justru dengan bicara banyak atau bahkan bercanda. Bukan karena mereka tidak serius, tapi karena cara mereka memproses emosi memang berbeda.

Inilah salah satu alasan utama kenapa kesalahpahaman terjadi, kita menilai orang lain dari kacamata kita sendiri, padahal mereka melihat dunia lewat kacamata yang berbeda.

Komunikasi Itu Lebih dari Sekadar Kata-Kata

Penelitian klasik dari Albert Mehrabian menunjukkan bahwa makna sebuah pesan tidak hanya ditentukan oleh kata-kata, tapi juga oleh nada suara dan bahasa tubuh. Artinya, apa yang diucapkan seseorang bisa jadi tidak sepenuhnya mewakili apa yang sebenarnya ia rasakan.

Seseorang bisa berkata "aku baik-baik saja" dengan nada datar dan mata yang menghindar, dan di situlah letak kesulitannya. Kita cenderung menangkap kata-katanya saja, padahal sinyal yang lebih jujur justru ada di hal-hal yang tidak terucap.

Rasa Takut dan Trauma Membentuk Tembok

Tidak semua orang tumbuh dengan rasa aman untuk terbuka. Ada yang pernah dikhianati, disakiti, atau tidak pernah diajarkan cara mengekspresikan perasaan dengan sehat. Akibatnya, mereka membangun mekanisme pertahanan diri, entah dengan menutup diri, bersikap defensif, atau bahkan terlihat dingin.

Sikap yang terlihat "susah dipahami" ini sering kali bukan tentang menolak kamu, melainkan tentang melindungi diri mereka sendiri dari kemungkinan terluka lagi.

Lalu, Bagaimana Caranya Lebih Memahami Orang Lain?

Kabar baiknya, meski memahami orang lain itu sulit, bukan berarti mustahil. Beberapa hal ini bisa membantu:

Dengarkan tanpa buru-buru menyimpulkan. Alih-alih langsung menilai, coba tahan dulu asumsi dan biarkan mereka selesai bicara.

Tanyakan, jangan menebak. Daripada berasumsi tentang perasaan seseorang, tanyakan langsung dengan cara yang lembut dan tidak menghakimi.

Perhatikan konteks, bukan hanya kata-kata. Nada suara, ekspresi wajah, dan situasi sering kali bercerita lebih banyak dari kalimat yang diucapkan.

Terima bahwa kamu tidak akan pernah 100% memahami siapa pun. Bahkan orang-orang terdekat kita pun menyimpan sisi yang tidak selalu terungkap. Dan itu wajar.

Memahami orang lain bukan soal siapa yang paling pintar membaca situasi, tapi soal seberapa besar kesediaan kita untuk melepaskan ego dan benar-benar mendengarkan. Rahasia terbesarnya sebenarnya sederhana: setiap orang membawa dunia mereka sendiri, dan tugas kita bukan untuk menaklukkan dunia itu, melainkan untuk menghargainya.

Karena pada akhirnya, hubungan yang baik bukan dibangun dari kesempurnaan saling memahami, tapi dari kesediaan untuk terus mencoba memahami, meski tidak pernah benar-benar sempurna.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image